Raksa berlari keluar dari rumah Moza. Ia yakin bahwa Vania telah meninggalkan area itu. Kesekian kalinya ia kembali menyakiti perempuan yang tulis padanya. Dugaannya benar. Seorang perempuan dengan bahu yang bergetar tengah berdiri di depan pagar. Sudah jelas Vania sedang menangis.
Raksa memeluk tubuh Vania yang sudah bergetar itu dari belakang dan berbisik tepat pada telinganya. "Van, maaf."
Vania masih menangis dan tidak berkata apapun.
"Aku sudah memarahi Moza. Aku gak tau kalo acara malam ini berakhir seperti ini. Maafin aku, Van."
Raksa memutar tubuh Vania agar menghadapnya. Lalu ia genggam kedua tangan Vania. Apapun yang terjadi, ia harus mendapatkan maaf dari Vania.
"Van, bicaralah."
"Aku mau kita putus," ujar Vania sambil menatap mata Raksa. Tatapan penuh amarah. Matanya telah memerah akibat menangis cukup lama.
"Aku gak mau."
Tanpa Ragu, Raksa menolak keinginan Vania. Baru kemarin hubungannya kembali membaik. Tidak mungkin jika harus usai malam ini.
Vania mengatur napasnya. Ia harus tegas. Ia tak mau terus menangis ketika mengambil keputusan di depan Raksa.
"Suatu waktu kamu dan Moza akan bertunangan bahkan menikah. Lalu untuk apa kamu bersamaku yang hanya membuang waktu."
Vania masih menatap mata Raksa. Ia kembali meneteskan air mata. Saat ia serius menatap mata itu, bayangan seseorang muncul di dalamnya. Membuat pikirannya beralih.
"Van, aku gak mau sama Moza. Aku sama dia hanya sahabat. Aku gak punya pemikiran untuk menikahi dia."
"Banyak kok yang awalnya sahabatan tapi berakhir ke pernikahan. Aku gak papa kok jika memang takdirnya seperti itu. Aku akan mencoba menghapus perasaanku terhadapmu."
Vania menunduk membiarkan air matanya luruh bersama tanah dan akhirnya membumi. Pejaman matanya menarik ingatannya di empat tahun yang lalu. Tentang perpisahannya dengan seseorang. Sebuah perpisahan yang dilakukan secara baik-baik. Namun, sebaik apapun cara berpisah namanya akan tetap sama yaitu perpisahan.
Vania tidak tahu di mana keberadaan seseorang itu tiba-tiba menghilang sejak perpisahan itu hingga dirinya bertemu dengan Raksa yang memiliki sorot mata yang terlihat sama.
"Van, pegang janjiku kali ini. Aku akan bicara sama orang tua ku. Aku akan menolak acara perjodohan ini. Bahkan Moza juga akan melakukan hal yang sama."
Raksa dengan sekuat hatinya menahan agar Vania tidak terburu-buru memutuskan hubungan mereka.
Vania menggeleng. "Aku tidak bisa mempercayai sebuah janji." Tatapan matanya kembali menatap mata Raksa.
Dia juga pernah berjanji akan kembali ternyata hingga saat ini tidak ada pertanda akan kembali. Batinnya seakan berbicara pada mata seseorang itu lewat tatapannya pada Raksa. Vania kembali menangis.
"Van, aku mohon percaya sama aku. Aku akan bilang ke mereka semua bahwa aku sudah memiliki pacar."
Vania terdiam sejenak mengingat kejadian di satu jam yang lalu. Dirinya juga melakukan sebuah kesalaha. Tidak mengakui hubungannya dengan Raksa didepan keluarga Moza. Andai saja tadi ia mengatakan bahwa sedang berpacaran dengan Raksa mungkin orang tersebut bisa membantu mengatakan kebenaran pada orang tua Moza. Dan bisa saja mereka membatalkan saat itu juga.
"Aku mau pulang. Kamu lanjutin aja acaranya. Pasti mereka cariin kamu."
"Aku antar." Raksa menggenggam tangan Vania.
Ketika Raksa mulai melangkah, Vania bersuara lagi. "Aku bisa pulang sendiri."
"Aku yang jemput. Aku yang antar pulang."
KAMU SEDANG MEMBACA
KRISAN
Teen FictionFOLLOW SEBELUM MEMBACA KARENA SEBAGIAN CERITA AKAN DI PRIVATE Vania Ayyara, perempuan dengan keberaniannya menyatakan perasaannya secara langsung pada Raksa Dirgantara. Jatuh cinta pada Raksa berawal dari tatapan mata yang dimilikinya terlihat sama...
