Krisan
Hubungan dua manusia yang memiliki banyak drama karna orang ketiga hanya perlu jeda sementara untuk menyadari serpihan kesalahan
Happy Reading
☀
☀
Sudah dua hari Vania tak membalas pesan masuk dari Raksa. Tak juga menjawab banyaknya panggilan suara atau video. Bahkan di sekolah pun, dirinya tak bertegur sapa.
Hari ketiganya untuk menjauh dari Raksa. Ia ingin sedikit memberi hukuman agar jera. Agar tidak seenaknya membatalkan rencana yang sudah tersusun rapi.
"Vania bisa, harus sedikit cuek seperti Bulan!"
Ia memasuki gerbang sekolahnya dengan senyuman yang ceria seperti biasanya. Memberi pertanda bahwa dirinya masih baik-baik saja meski suasana hatinya sedikit bermasalah. Tas ranselnya berwarna cream sudah digendongnya. Rambutnya yang terurai sempurna dihiasi japitan kecil berwarna putih di sebelah kiri. Hari ini seperti Vania yang dulu terlahir kembali. Vania yang tidak mengenal apa itu cinta. Tidak tau rasanya sakit hati. Tidak tau sensasi cemburu dan sebagainya. Ia berusaha untuk mempertahankan senyumannya. Dengan sekuat hatinya berusaha mengacuhkan Raksa meski sebenarnya tidak bisa.
"Bagaimana kesehatan fisik dan batin lo?" tanya Ara setelah melihat Vania tiba di bangku kelasnya.
"Seperti yang lo lihat," jawab Vania seadanya.
"Terlihat sandiwara," balas Ara kemudian tertawa mengejek.
"Sejak awal udah gue peringatin jangan sama Raksa. Lo ngeyel banget," sambungnya.
"Lan, lo bawa solasi, gak?" tanya Vania pada Bulan. Berharap barang yang ia minta itu ada.
"Buat apa, Van?" tanya Bulan lalu mengecek ranselnya mencari keberadaan solasi tersebut.
"Mau membungkam mulutnya Ara! Pagi-pagi bikin kesel!"
Lantas Ara tertawa setelah mendengar ucapan Vania. "Lo kesel bukan karna ucapan gue. Tapi karna kesal menerima kenyataan yang ada!" Ara kembali tertawa.
"Ra, udah. Kasian Vania." Bulan selalu membela Vania dalam kondisi apapun. Sebab, situasi jatuh cinta memang selalu membingungkan.
Vania memilih untuk bermain game make up di ponselnya. Tanpa di sadari seseorang telah berdiri di samping bangkunya.
"Aku mau bicara sama kamu," ujar Raksa dengan tangannya memegang pergelangan tangan Vania.
Bulan dan Ara yang melihatnya hanya diam saja. Mereka tak punya hak untuk ikut campur dalam hubungan Vania dan Raksa meski mereka ikut kesal dengan sikap Raksa.
"Kamu ga tau sekarang mau masuk?" Vania melempar pertanyaan itu. Mimik wajahnya terlihat datar tak seperti biasanya.
"Kamu marah selama tiga hari sejak kejadian itu. Aku udah ngejelasin alasannya. Kamu gak ngerti juga?" Raksa juga ikut melemparkan pertanyaan tetapi, pertanyaan itu seakan memojokkan Vania.
"Aku yang ga ngerti kamu atau kamu yang gak ngerti aku?"
Ketika Raksa ingin mengeluarkan kata lagi sayangnya disela lebih dulu oleh Vania.
"Lebih baik kamu kembali ke kelas. Aku gak mau bicara sama kamu."
Raksa tetaplah manusia batu yang keras. Ia tak menggubris perintah dari Vania. Bahkan masalah dari keduanya berpengaruh dalam organisasi paskibra. Saat ada rapat pun, Vania sangat dingin dalam merespon tidak seperti biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KRISAN
Teen FictionFOLLOW SEBELUM MEMBACA KARENA SEBAGIAN CERITA AKAN DI PRIVATE Vania Ayyara, perempuan dengan keberaniannya menyatakan perasaannya secara langsung pada Raksa Dirgantara. Jatuh cinta pada Raksa berawal dari tatapan mata yang dimilikinya terlihat sama...
