Krisan
Aku kamu dan kita tidak ada yang berubah
Hanya jarak yang memisah
Kita hanya perlu nunggu waktu untuk membayar rasa rindu
Happy Reading
☀
☀
☀
Darel bersama mamanya sudah tiba kemarin malam di negara yang terletak di belahan bumi selatan atau dikenal dengan negara dikawasan Oseania. Australia juga merupakan negara terbesar keenam di dunia berdasarkan luas daratannya. Letak ibukota tepat di Canberra, sedangkan kota terbesarnya terletak di Sydney.
Australia merupakan monarki konstitusional dengan sistem parlementer. Negara tersebut dipimpin oleh Ratu Inggris.
Australia termasuk negara dengan ekonomi yang kuat sehingga dikenal sebagai salah satu produsen utama mineral seperti batubara, bijih besi, dan emas. Oleh sebab itu, Australia disebut sebagai negara maju.
Kini Darel sedang beristirahat di salah satu hotel megah di kota Melbourne, sedangkan mamanya sibuk konfirmasi dengan pihak rumah sakit yang akan menjadi tempat berjuangnya besok. Hari pertamanya harus dipergunakan untuk istirahat agar esok tubuhnya siap menjalani operasi transpalasi hati.
Tepat pukul tiga sore Darel menyalakan ponselnya untuk memberi kabar pada temannya terutama Vania. Ia tidak sempat memberi kabar langsung kemarin malam sebab ponselnya mati daya. Ia menghubungi Vania jam tiga sore yang artinya di sana masih jam dua belas siang sebab, perbedaan waktu di Melbourne lebih cepat tiga jam.
Tanpa menunggu lama, sambungan video call terjawab dan muncullah wajah Vania yang memenuhi layar ponselnya.
"Darel!" teriak Vania membuat Darel reflek menjauhkan ponselnya.
Saat Vania berteriak para temannya ikut berkumpul. Mereka semua sudah menunggu kabar dari Darel hingga mereka tidak fokus mengikuti pembelajaran di sekolah. Vania dan lainnya masih berkumpul di jam istirahat karena hari itu adalah hari senin.
"Woy! Ditungguin malah nelpon ke Vania duluan!" protes Langit dengan suara yang selalu meninggi jika berbicara dengannya.
Darel hanya tertawa mendengarnya. Teman-temannya sangat antusias menunggu kabar darinya. Jadi, ia harus semangat menjalani operasi besok agar kabar baik membuat mereka lega juga.
"Maaf, bro, yang terlintas pertama kali dipikiran gue adalah Vania," jawabnya jujur.
"Bucin!" teriak Langit, Arsel, Ara, dan Bulan barengan. Membuat Vania dan Darel tertawa dengan malu-malu. Kini mereka tak ragu lagi untuk menunjukkan ekspresi bahagia bahkan salah tingkah di depan temannya.
"Lo sendirian?" tanya Arsel membuat Darel berhenti ketawa.
"Iya, nyokap lagi ngurus berkas ke rumah sakit. Yang lain bisa minggir dulu gak. Gue mau ngobrol sama calon pacar anjir. Gue cuma mau liat wajah cantiknya bukan wajah tikus kalian!" pekik Darel agar mereka semua menjauh dari Vania. Si Vania hanya senyum-senyum menahan salting.
"Bucin banget anjer!" protes Ara lalu tangannya ditarik oleh Bulan. Mereka semua kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan aktivitas makannya di kantin. Memberi waktu untuk Vania dan Darel ngobrol berdua. Jika Langit dan Arsel ingin ngobrol juga bisa nanti saja sepulang sekolah.
"Van, hadiah kotak warna merah udah lo buka?" tanya Darel pada Vania.
"Belum, nanti gue buka."
"Nanti malam gue vidcall lagi. Gue temenin buka hadiahnya. Gue mau liat ekspresi lo. Oke?"
KAMU SEDANG MEMBACA
KRISAN
Novela JuvenilFOLLOW SEBELUM MEMBACA KARENA SEBAGIAN CERITA AKAN DI PRIVATE Vania Ayyara, perempuan dengan keberaniannya menyatakan perasaannya secara langsung pada Raksa Dirgantara. Jatuh cinta pada Raksa berawal dari tatapan mata yang dimilikinya terlihat sama...
