53. Sebuah Kepulangan

329 17 2
                                        

Krisan

Kata pulang tak selamanya memiliki arti baik, kadang sebaliknya.

Happy Reading



Kondisi Darel jauh lebih baik. Ia mendapatkan izin untuk kembali ke Jakarta. Namun, sang mama sudah lebih dulu kembali untuk mengurus berkas lanjutan cek kesehatannya di sana.

Tiket sudah ia dapatkan dari mamanya dua hari yang lalu. Kini, ia mengecek kembali barang-barang kecil miliknya seperti charger, paspor, dan beberapa pakaian. Sudah banyak barangnya yang dibawa oleh Mamanya lebih dulu.

Setelah semuanya selesai ia makan siang di kamar hotelnya. Tiga jam lagi ia akan menjelajahi udara untuk kembali ke tempat tinggal yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan.

Bukan Darel jika tidak bucin. Ia masih menyempatkan waktu untuk menghubungi Vania.

"Hai, Van," sapanya di sela-sela mulutnya mengunyah makanan.

"Hai, udah mau siap-siap berangkat, ya?" tanya Vania sangat antusias.

"Iya, ini gue makan dulu." Darel mengarahkan camera ponsel pada makanannya.

"Ternyata lo pulang hari ini, sebelum hari ulang tahun lo." Vania terus menunggu kedatangan Darel dan mengingat hari di mana sahabat terbaik dan calon pacarnya itu dilahirkan.

"Iyalah, gue pengen merayakan hari ulang tahun gue bersama lo dan yang lainnya."

"Nanti gue jemput lo di bandara sama yang lain," kata Vania yang sudah menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Darel bersama hati barunya.

"Kayaknya sampe di sana malem deh, Van. Besok pagi aja ketemuan di rumah."

Darel menolak niat baik Vania. Ia tak ingin Vania harus keluar malam-malam demi dirinya. Meskipun itu membuat senang keduanya.

"Gue yang mau kok. Lagian yang lain gak keberatan sama sekali."

"Yaudah, nanti kalo gue berangkat gue kabarin lagi."

"Oke, bye, Darel!"

Panggilan video pun terputus. Aktivitas makannya kembali dilanjutkan dengan arah matanya melihat foto Vania yang sudah memenuhi galerinya.

"Dulu, foto cantik ini hanya bisa gue liat di profilnya atau gue liat secara langsung. Sekarang, manusia cantik ini memenuhi galeri gue, hati gue, mata gue semuanya tentang dia."

Makanannya sudah dihabiskan. Langkah kakinya mendekati balkon hotel. Melihat langit yang hari ini sedikit petang. Duduklah ia di sofa tepat berlawanan posisi dengan tempat tidurnya, sofa yang mengarah ke pemandangan luar.

Ia membuka room chat dengan Arsel dan Langit. Kedua makhluk itu harus ia beri kabar agar tidak marah padanya sebab selalu memberi kabar lebih dulu pada Vania. Grup yang berisi mereka bertiga sangat sepi jika Darel tidak memulai pembicaraan yang selalu konyol. Arsel cowo batu yang malas buka dan balas sebuah pesan dan Langit cowo emosian jika berbicara dengan Arsel. Hingga grup itu menjadi sunyi tanpa kehadirannya.

Gembala Asmara 🐸
Arselole, Langit Gelap, Anda

Gue habis ini pulang. Pasti kalian gak sabar ketemu pangeran tampan ini

Arselole : Udah tau
Langit Gelap : Udah sembuh ya? Berarti udah bisa jadi babu lagi dong

Manusia tai!

KRISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang