Saat suasana hening senyap, saat lambung menempel rapat di kasur yang hangat, saat sebagian insan tertidur lelap, Sebagian insan yang lain menunggu dengan rindu datangnya sepertiga malam yang terakhir. Rindu bermunajat kepada Dzat yang Maha mengabulkan segala hajat. Rindu berduaan dengan Dzat yang Maha Cinta. allah azza wajalla. mereka rela berpisah dengan ranjang yang hangat, sekalipun berat melawan rasa ngantuk.
"Abi, bangun bi, bangun! Bentar lagi subuh lho." Lembut suara istrinya mengusap telinga mencoba membangunkan suami yang masih tertidur disamping.
'Ehem..' suaminya merespon suara itu dengan mendesah. Matanya berat bisa terbelalak. "Jam berapa mi?" Tanyanya dengan suara serak berat dimana matanya masih terpejam.
"Jam setengah lima." Timpal istrinya memberitahukan.
Meski keadaan matanya perih, ngantuk nya teramat sangat, lantaran baru tidur hanya beberapa jam saja setelah begadang di rumah kakak iparnya, membantu mempersiapkan barang-barang untuk seserahan esok. namun ia tetap berusaha tegar dan memaksakan dirinya bangun. Karena semua itu bukanlah sebuah alasan untuk menghalanginya bertemu Tuhan.
Alam yang tadinya mengantuk perlahan-lahan bangun dan kembali membentangkan karunia-Nya mengiring sang jubah hitam yang sebentar lagi akan pamit.
Sepasang suami-istri paruh baya. biasa dipanggil dengan sebutan abi dan ummi oleh anak-anaknya. selalu berusaha menerapkan nilai-nilai agama pada setiap aspek kehidupan. Mereka berkomitmen akan taat beribadah. Meskipun itu sangatlah berat.
Mereka tinggal disebuah rumah bekas peninggalan orang tuanya. Rumah yang tadinya besar namun mengecil setelah disekat dan dibagi dua dengan bude Riya (Kakak dari sang istri). lokasinya berada dijalan perintis kemerdekaan nomor 9. desa purwaraja. kecamatan menes. kabupaten pandeglang-banten. Sebuah kabupaten yang terletak diujung barat pulau jawa.
Suaminya bekerja sebagai buruh pabrik di daerah tanggerang. Pulang kerumah dua pekan sekali. Sementara sang istri yang suka disebut rewel oleh anak-anaknya itu hanyalah ibu rumah tangga bisa.
Sudah dua puluh tahun mereka berumah tangga. dikaruniai tiga orang anak. satu anak lelaki dan dua anak perempuan.
Anak yang pertama laki-laki, namanya danu al-fairuz, Suka dipanggil Aa. Dia lahir di pandeglang pada tanggal 14 Desember 1992. Di tahun itu (2011) usianya baru menginjak ke 19 tahun. Bisa dibilang masa-masa emasnya anak remaja.
Menurut orang tuanya, danu itu pintar. Pintar ngomong dan ngibul. Pertama pintar ngomong. tak mau kalah saat berdebat. selalu punya asumsi untuk mematahkan lawan bicaranya. Bahkan punya prinsip 'lebih baik jual rumah daripada kalah omongan.' cocok kalau jadi lawyer.
Yang kedua pintar ngibul. suka mengada-ada yang tidak ada. suka melebih-lebihkan yang kurang. Maklum, dia pernah belajar seni akting. jadi sangat terampil dalam bersandiwara.
Dulu, dia merupakan anak yang suka di bangga-banggakan. lantaran sering mendapatkan prestasi di sekolahnya. Dia masuk sepuluh besar lulusan terbaik. Pernah menjabat sebagai ketua OSIS dan ketua pandawa (organisasi kesenian dalam sekolah). Sedangkan kekurangannya hanya satu, yaitu tidak pernah jatuh cinta.
Dia memiliki paras yang rupawan. hidungnya mancung walau tak semancung ali syakib. Postur tubuhnya tinggi. warna kulitnya putih kemerah-merahan. matanya agak sipit tapi tak sesipit seperti ernest prakasa. Kalau dia tertawa matanya merem. Rambutnya hitam dan lurus. dia paling senang bergaya gondrong. biar kayak ariel peterpan katanya.
Jika ditanya soal kesempurnaan? Dia tidak begitu sempurna. Hanya seorang manusia biasa. Yang sebaik apapun adakalanya menyakiti. Sesempurna apapun pasti pernah mengecewakan. Karena berinteraksi dengan manusia adalah bab panjang yang seolah tidak ada habisnya. Tidak ada hubungan antar manusia yang selalu mulus. yang ada hanya mengedepankan toleransi dan pemakluman saja.
