"stop talking about me being stupid!" Mira keluar menampakkan dirinya sambil menunjuk wajah Danu dengan garang. Ia merasa geram atas celotehnya yang makin kesana makin besar mulut.
"I m not involved."Dian berdiri spontan mengangkat kedua tangannya yang tersentak kaget karena melihat kemunculan Mira secara tiba-tiba. Dia tak mau disalahkan meski terlibat menggibahinya.
"You think i didn't hear it?"
"I'm just listening."
Danu hanya bisa memutar-mutarkan kepala ke kiri dan kanan kearah Mira dan Dian seperti sedang menonton pertandingan badminton. Mereka berdialog menggunakan bahasa Inggris. Danu merasa sedih lantaran tidak memahami artinya. Ia hanya bisa cengar-cengir seperti orang bloon.
"Kenapa cengar-cengir seperti itu?" Tanya Mira atas tingkahnya yang aneh.
"Saya tidak mengerti dengan apa yang sedang kalian bicarakan." Jawab Danu terus terang. Jujur, Dia paling tidak bisa dan tidak mengerti kalau sudah berurusan dengan bahasa Inggris. Waktu Disekolah saja nilai bahasa Inggris nya sangat buruk. Bahkan paling buruk diantara mata pelajaran yang lain.
"Eut eut, Where are you going?" Tanya Mira pada Dian saat melihatnya melangkah mundur seperti mau kabur.
Dian tersenyum srangah-srengeh dengan mimik wajah mencurigakan.
"Mau kemana, hem?" Tanya Mira sekali lagi.
"Mm.. mau pergi! Tugasku menemui Danu kan sudah selesai. Jadi, untuk apa lagi aku di sini?"
"Untuk menemaniku! Kan Biasanya juga seperti itu bukan?"
Meski dia dan Mira suka bersama-sama dalam setiap aspek, suka jajan bersama, makan bersama, ngobrol bersama, bahkan menghabiskan waktu bersama. tapi untuk saat itu Dian merasa suasananya sedang berbeda. Dia tak mau mengganggu momen berduaan Mira dengan Danu. Dia juga tak mau jadi orang ketiga, karena orang ketiga itu suka diidentikan dengan syaiton.
"Aku masih ada urusan yang lain. So have fun!" Dian memilih pergi meski dari lubuk hati paling dalamnya sangat ingin stay di sana bersama mereka.
Mira tidak bisa menahannya lagi. Sedangkan Danu merasa senang atas kepergiannya, karena dengan begitu dirinya bisa berduaan dengan Mira.
Disisi lain dimeja yang agak jauh diujung sana, Adnan duduk seorang diri mengamati. Ia tampak emosi melihat kedekatan Mira dengan lelaki lain. Perasaannya tidak rela, marah, cemas, dan benci. Dia ingin sekali bisa berontak, tapi dia sadar bukan siapa-siapa nya Mira. Dia hanya bisa ngedumel penuh amarah. Tangannya terkepal seperti ingin meninju. Giginya beradu sama kuat menunjukkan rasa kesal.
Selepas melihat Dian pergi, Adnan pun pergi mencari pak sekuriti untuk mengadukan keberadaan Danu sekaligus membuat perhitungan dengannya.
Mira yang sedang duduk berduaan dengan Danu masih tak habis pikir atas keberhasilannya memasuki pondok pesantren dengan mudah. Dia sedikit curiga kalau Danu telah melakukan sabotase. Atau mungkin telah melakukan kongkalikong dengan pak sekuriti yang berjaga. Setahunya pak sekuriti sangat tegas, tidak mudah memberikan izin masuk kepada siapapun di jam pelajaran. Ia yakin ada sesuatu yang dilakukan Danu. Ia menatap wajahnya tajam penuh pemerhati.
"Saya heran deh sama kamu? Kenapa sih seneng amat menatap wajah saya seperti itu? Apa karena terlalu ganteng yah, sehingga membuat matamu susah untuk berpaling?" Kata Danu dengan ciri khas tengiknya. Dia masih bisa bercanda seolah-olah tidak melakukan apapun.
Tubuh Mira bergidik geli tatkala mendengar kata-kata Danu yang narsis, "terlalu ganteng?" Lirihnya diikuti dengan mata yang membelalak.
"Aku memandang mu bukan karena terpesona, tetapi karena curiga." Kata Mira sambil mengulum senyum menatap sinis.
