dia dan mimpinya

39 1 0
                                        

Cahaya kemilau kemerah-merahan muncul di ufuk sebelah timur sesaat sebelum matahari naik keatas cakrawala.

    'hayya 'alash shalaah.'
    'hayya 'alash shalaah.'
    'hayya 'alal falaah.'
    'hayya 'alal falaah.'
    'ash shalaatu Khairun minan nauum.'
    'ash shalaatu Khairun minan nauum.'
    'allahu akbar.'
    'allahu akbar.'
    'laailaaha illallah.'

Suara panggilan ibadah menggema. Menyusup masuk ke rumah-rumah mengingatkan jiwa-jiwa yang lelap. Suara itu sangat nyaring bagaikan camar terbang ketengah laut. Suara suci itu bergerak dengan lembut dan cepat menyapa alam.

Tuhan menyeru: 'dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan oleh para malaikat. (QS al-isra ayat 78).

    "Ra... Mira... Bangun Ra, bangun! Udah subuh nih, sholat dulu gih!" Suara sang ibu mengingatkan dari balik pintu.

Tak butuh waktu lama bisa mendengar tanggapannya. Saat itu juga Mira menjawab "iya Bu, ini juga sudah bangun." Ia sudah bangun dua jam yang lalu. Sudah melaksanakan sholat tahajud dua rakaat. Sudah melaksanakan sholat witir tiga rakaat. Sudah membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an satu juz. Dan sudah bermunajat mengadukan segala keluh-kesahnya. Ia masih punya wudhu. Dan masih mengenakan mukena. Sengaja tak tidur lagi demi menunggu datangnya waktu subuh.

Ia mengimani bahwa waktu subuh adalah waktu yang istimewa untuk mendekatkan diri pada yang maha esa. Bahkan sholat Sunnah qobliyah subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya. Diwaktu itu juga para malaikat turun menyaksikan orang-orang yang melaksanakan sholat subuh. Para malaikat juga senantiasa mendoakan serta mengaminkan segala bentuk doa dari hamba-hamba Allah yang bertakwa.

Setelah memastikan anaknya bangun, wanita paruh baya itu bergerak keruang tamu untuk melihat keadaan tamunya disana. Dilihatnya Danu masih tertidur pulas. Bahkan ngorok. Ia tidur diatas sofa Berbantalkan sebelah lengan. Bukan tidak dikasih bantal, melainkan bantalnya sudah jatuh kelantai. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala dengan tatapan sayup.

    "Calon menantu ternyata masih tidur. Enggak mau sholat subuh apa? Itu bantalnya kenapa enggak di pake? Malah pake lengan." Walaupun begitu ia tak sampai hati membangunkannya.

Diatas sajadah Mira duduk diantara dua sujud menadahkan tangannya setinggi dada. Ia bermunajat kepada Allah memohon ampunan. Memohon perlindungan. Juga meminta belas kasihnya. Lalu ditutup dengan mengusap wajah.

...

Mentari pagi tak malu-malu lagi menunjukkan wujud aslinya. Sentuhan lembut cahayanya menyapa dunia. Tidak ada lagi yang menghalanginya untuk bersinar. Pesona langit memancar indah bergaun biru. Memberi sebuah gambaran bahwa hari akan berjalan cerah.

Mira keluar dari kamar dengan handuk di pundak. Satu yang menjadi pertanyaan dalam benaknya, "Danu gimana?" Apakah dia sudah bangun atau belum? Menarik untuk melihatnya.

Udara masih menyengatkan hawa dinginnya. Danu masih tertidur diatas sofa. Dalam kondisi seperti itu melingkarkan tubuh ditempat tidur terasa nyaman. Lebih nyaman daripada harus bangun. Danu lupa dirinya tidur dirumah siapa.

    "Dih kok belum bangun sih? Apa jangan-jangan dia gak sholat subuh lagi?" Mira tak berani membangunkannya karena bagaimana pun Danu adalah tamu di rumahnya. Dan tamu ibarat raja yang harus dihormati. Mira hanya mengambilkan bantalnya. Lalu ia letakkan dibawah kepala Danu.

Sesaat setelah Mira selesai melakukan beberapa aktivitasnya seperti mencuci piring, mencuci pakaian, bahkan mandi. Ia kembali menengoknya di ruang tamu untuk memastikan apakah bocah itu sudah bangun atau belum. Dan ternyata dia belum  bangun. Mira pun mengabaikannya begitu saja tanpa mengomentari apapun. Lalu ia masuk ke kamarnya.

Tirakat Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang