diterka embun pagi

30 5 0
                                        

Embun pagi itu sederhana, menyejukkan namun tidak merusak tempat dimana ia berpijak. Embun tidak pernah memilih di daun mana butir-butirnya akan terbentuk.

Udara Minggu pagi itu terasa dingin. Seperti berada didepan kulkas yang pintunya terbuka. Hujannya memang sudah reda. Tapi bekasnya berkamuflase menjadi uap. Udara dingin mulai merasuk tulang dan menyerbu kamar.

Alarm yang di setting pada pukul delapan pagi di ponselnya mulai menyala. Lantaran sudah sampai pada waktunya untuk berdering. Ia mendengarnya, Namun masih berada pada titik antara sadar dan tidak sadar. Tubuhnya lelah, Matanya perih menahan kantuk. Rasanya berat bisa terbangun. Tangannya meraba. Berusaha meraih handphone diatas kepala. Tujuannya ingin mematikan suara alarm yang  berisik itu.

Ada yang melesat setiap kali pagi menghilang, bukan butir embun yang mengumpul di lengkung daun. Melainkan wajahnya yang kadang menyergap ingatan. Tiba-tiba saja pikirannya teringat kan pada sosok Mira. Terutama pada janji yang dibuatnya semalam. Dimana dia berjanji akan menemuinya di warung ce eem. Dia harus bangun. tak boleh mengecewakannya lagi.

Hari itu sangat rumit. Bahkan rumit sekali. Rumit memikirkan masalah Reymon. Masalah hapenya. Masalah janjinya. Serta mobil  yang dibawanya  kehabisan bensin. Pikirannya benar-benar semrawut.

Ia mematikan alarm sambil melihat jam. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Sedangkan janjinya sama Mira pukul sembilan.

    "Keburu apa enggak ya?" Ia memaksakan diri terbangun, Meski matanya teramat sangat pedih. Ia mengucek kedua bola matanya agar terbelalak. Betapa kagetnya ia saat tak lagi melihat Reymon dan bogel diatas ranjang. Padahal semalam mereka bertiga tidur di kasur yang sama.

    "Si Reymon dan si bogel, kemana ya?" Gumamnya merasa kehilangan. Ia teringat kejadian semalam. Dimana pada saat itu Reymon mabuk berat disalah satu ditempat hiburan. Lalu ia membawanya kerumah bogel. Sengaja tidak membawanya kerumah Reymon. Takut membuat ibunya khawatir.

Ia bangkit dari tempat tidur. Berjalan sempoyongan keluar kamar. Ditengah rumah ia melihat tubuh si bogel melingkar diatas sofa  Dengan wajah yang tertutupi bantal.

    "Gel, gel, bogel. Bangun gel, bangun!" Serunya mengusik. Menggoyangkan tubuh dan menyingkirkan bantal pada wajah si bogel.

    "M..." bogel bereaksi. Mendesah panjang sambil mengunyah tanpa makanan. Perlahan-lahan matanya belalak.

    "Kenapa dan?" Tanyanya bernada lemah dan serak-serak basah.

    "Si bos kemana?"

Bogel celingukan seperti orang linglung. Maklum kesadarannya belum sepenuhnya kembali.

    "Bukannya  dikamar?" Jawabannya dengan raut wajah terheran-heran.

Danu menggelengkan kepala.

    "Yang bener?" Tanya Bogel memastikan sekali lagi. Ia seperti tak percaya.  Sebab, sebelum pindah, ia masih melihat Reymon dikamar. Mangkanya ia tak percaya ketika Danu mengatakan tidak ada.

    "Serius." Jawab Danu menegaskan kalau dirinya sedang tidak berbohong.

Bogel berjalan setengah berlari menuju kamarnya. ingin membuktikan ucapan Danu. Betapa hebohnya dia saat ucapan itu terbukti benar.

    "Si bos kemana dan? Beneran. Tadi subuh mah masih ada disini."

Begitu terlelap nya mereka tidur, sampai-sampai tak ada satupun yang menyadari kepergian Reymon. Yang di kekhawatiran oleh mereka ialah kondisinya habis mabuk. Ditambah amarah yang masih menggebu-gebu. Mereka takut terjadi apa-apa dengannya.

Mereka berdua mulai panik. Danu mencarinya disetiap ruangan dirumah bogel. Sedangkan bogel mencarinya disekitar halaman. Dan mobilnya pun sudah tidak ada dihalaman depan rumah bogel. Itu artinya dia sudah pergi.

Tirakat Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang