menuju pagi

25 3 0
                                        

    "Ternyata benar apa kata bundaku. Kita tidak akan tahu baik buruknya seseorang jika kita tidak mengenalnya. Sama seperti kata pribahasa, 'tak kenal maka tak sayang.' sudah kenal pun tetap saja tak sayang-sayang. He he." Leni menghela nafas panjangnya. Dari tadi ia sudah banyak bicara. Tenggorokannya sampai kering. Dan suaranya agak serak.

    "Kenapa Len?" Tanya Mira ketika melihatnya menghela nafas.

    "Ehem.. enggak apa-apa, cuman seret aja tenggorokan ku. Ngomong-ngomong, udah jam berapa nih?"

    "Jam setengah dua."

    "Setengah dua?" Spontan Leni mengulangi.

    "Iya." Sahut Mira membenarkan.

    "Ya ampun enggak kerasa banget ya, udah dini hari aja. Gimana? Mau dilanjut, apa mau tidur?"

    "Lanjut atuh! Tanggung sampai pagi."

    "Ok. Habiskan dulu kopinya biar gak ngantuk!"

Dimalam yang sudah larut itu Leni dan Mira masih terjaga. Mereka kembali berpindah tempat. Semula diatas sofa, kini naik keatas kasur dan rebahan disana.

                  (Flashback. Suara dari Leni)

    "Dulu, Danu orangnya sangat tertutup. Suka kesunyian dan senang menyendiri. Seperti ada pressure yang disembunyikan. Setiap jam istirahat ia selalu ke perpustakaan. Bahkan aku tidak pernah melihatnya datang ke kantin. Aku rasa ia tidak punya duit. Tapi pas tahu alasannya aku tersentuh.

Aku juga sering ke perpustakaan. Tapi bukan untuk membaca, melainkan hanya sekedar menemaninya saja. Sekalian membawakan makanan untuknya. Semakin hari aku dan dia semakin akrab. Bisa ketawa haha-hihi. Bercanda kesana-kemari. Bahkan tidak ada rasa canggung lagi diantara kami.

    "NU, aku mah heran deh sama kamu. Aku perhatikan setiap jam istirahat kamu selalu ke perpustakaan. Dan aku tidak pernah melihatmu jajan ke kantin. Sorry, apa karena kamu tidak bawa uang jajan?"

Dia malah tertawa. Tawanya itu lho sangat menjengkelkan. Belum lagi omongannya suka nyeletuk. Kalau enggak sabar-sabar mah bisa emosi.

    "Enggak nyangka. Ternyata diam-diam kamu sering memperhatikan saya. Kenapa sih, pake perhatian segala?" Jawabnya dengan mimik wajah yang menyebalkan.

    "Jujur, aku memang peduli. Dan aku ingin tahu alasannya. Karena dari sekian banyaknya siswa yang ada, cuma kamu yang paling aneh." Balasku.

Dia tersenyum lagi sambil menatap wajahku dengan tajam. Aku tak kuasa membalas tatapannya.

    "Sebenarnya saya juga bawa uang jajan. Hanya saja tidak saya dibelanjakan. Sengaja Ditabung buat beli gitar."

Aku tertegun mendengarnya. Mau beli gitar saja harus nabung dulu. Sampai rela gak jajan di sekolah.

    "Emang berapa sih harga gitarnya?" Tanyaku agak sombong.

    "Relatif. Ada yang murah, ada yang mahal. Tapi mau beli yang murah saja. Yang harganya 100 ribuan. Enggak apa-apa murah yang penting ada suaranya."

    "Ya iyalah ngapain beli yang mahal kalau tidak ada suaranya? Mending murah tapi bisa digunakan! Btw uang yang dikumpulkan udah ada berapa?"

    "Ngapain nanya-nanya segala? Kayak mau nambahin aja."

    "Kalau kurangnya tinggal sedikit bisa aku tambahin. Mangkanya aku pengen tau dulu baru ada berapa?"

    "Kurangnya tinggal sedikit. Cuman 70 ribuan lagi."

    "Tunggu-tunggu! Kurangnya tinggal 70 ribuan lagi?"

Tirakat Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang