Bagaimanapun bentuk alasannya, setiap perjumpaan yang baru selalu menghadirkan cerita yang berbeda. Waktu di kedai lord of the wings memang telah usai, tapi tidak dengan ceritanya. Demi melanjutkan cerita yang masih panjang itu Leni sampai harus mengajak Mira kerumahnya.
Mira menikmati perjalanan itu dengan hati nyaman dan bahagia. Meskipun sebenarnya ia sangat lelah. Namun rasa bahagia itu mampu mengatasi rasa lelahnya. Entah kenapa ia merasa malam itu terasa begitu indah. Berjalan di sepanjang jalan utama kota Pandeglang bersama seorang sahabat Danu. Ia merasa kebahagiaan itu akan sempurna jika ada Danu didalam mobilnya.
"Hayo, kamu lagi melamun ya?" Suara Leni mengagetkan lamunan Mira.
"Tidak! Aku tidak melamun. Aku hanya tidak menyangka saja bisa sedekat ini denganmu. Aku juga sedang membayangkan bagaimana hebohnya jika ada Danu disini."
"Bener, pasti heboh. Dia 'kan kocak."
SUV itu terus melaju dengan tenang dan elegan. Beberapa menit kemudian berhenti didepan rumah besar dan mewah. Menunggu pagar otomatisnya terbuka. Setelah pagarnya terbuka sendiri Leni pun memasukkan mobilnya kedalaman sana.
"Rumahmu mewah banget Len?" Ucap Mira memuji kemewahan rumahnya. Rumah yang berdesain ala American classic. Didominasi oleh warna putih sehingga terlihat begitu aesthetic. Bangunan berlantai dua itu terlihat cantik dimalam hari berkat kehadiran lampu-lampu disekitar fasad.
"Ini bukan rumahku." Sahut Leni ketika mereka berdua sama-sama turun dari mobil.
"Lantas rumah siapa?" Balas Mira sambil tak henti-hentinya memandangi sekitar. Beberapa mobil mewah juga terlihat berjejer di garasi. Semakin melengkapi value di rumah itu.
"Rumah orang."
"Orang mana?"
"Orang tua ku. He he."
"Atuh sama aja, rumah-rumah kamu juga. Danu pasti sering main kesini ya?"
"Dulu mah iya, tapi semenjak aku di bandung, sudah jarang main kesini. Dia juga akrab lho sama semua anggota keluarga ku."
"Beruntung ya jadi Danu? Bisa dikelilingi orang kaya."
Sebenarnya keberadaan rumah mewah itu sudah tidak asing lagi Dimata Mira. Ia sering melihatnya saat pulang dari asrama. Hanya saja ia tidak menyangka bahwa rumah sebesar itu adalah rumahnya teman Danu.
"Saat aku pulang kerumah, aku sering melintasi jalan ini. Aku sering memandangi rumah ini. Aku suka bertanya-tanya siapa pemiliknya? Aku suka membayangkan betapa bahagia dan senangnya jika hidup dan tinggal di rumah seperti ini."
"Rumah besar dan mewah tidak selalu menjanjikan kebahagiaan. Kadang seperti kuburan, Sepi. Karena pada hakikatnya kebahagiaan itu tidak terletak pada harta dan kekayaan."
"Bener juga ya, Tak sedikit orang kaya yang hidupnya tertekan. Padahal mereka punya segalanya."
"Itu dia, mangkanya jangan jadikan kekayaan sebagai tolak ukur kebahagiaan. Sudahlah jangan bahas kekayaan segala! Mending masuk, lalu kita bahas Danu."
Baru beberapa langkah masuk kedalam rumah, Leni sempat memperlambat lajunya, guna menawarkan minuman pada Mira. "Mau minum apa Ra?"
"Enggak ah udah kenyang." Mira menggelengkan kepala dan meraba perutnya.
Leni pun melanjutkan langkahnya menuju kamar yang ada di lantai dua.
"Masyaallah, Len, ini kamar apa lapangan voli?" Untuk kesekian kalinya Mira dibuat tercengang tat kala melihat kamar Leni yang begitu besar. Ukurannya empat kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan kamar Mira di rumah.
"Berantakan ya? Harap di maklum saja! Soalnya belum sempat di bereskan." Jawab Leni salah persepsi. Ia merasa malu dengan kondisi kamarnya yang berantakan seperti kapal pecah. Padahal maksud Mira bukan kesana.
"Bukan masalah berantakannya, tapi luasnya ini lho. Ada sofa, Maja, tv, dan segala macem." Timpal Mira sambil memandangi satu persatu perabotan yang ada. Mulai dari rak tas yang berisi tas-tas branded. Rak sepatu, rak buku, kursi, meja, tv, komputer, sampai dinding yang terpenuhi foto-foto berbingkai. Tak sedikit foto Danu terpajang disana.
"Ini belum seberapa kok, masih banyak yang lebih besar ini."
"Iya, yang lebih kecil juga banyak."
Satu buah foto berbingkai menempel di dinding diambil oleh Leni, lalu digenggam kedua tangannya. Foto itu diambil saat kelulusan SMA dua tahun silam. Berisikan wajah beni, Leni, Danu, dan Devi. Tengah mengenakan seragam putih abu-abu yang sudah dicoreti Pilox.
"Lihat Ra! Ini foto kami berempat. Cowok yang berdiri di sisi kiri ini namanya beni. Sekarang jadi pacarku. Yang ini aku. Yang ini Danu. Dan perempuan yang ini namanya Devi. Bisa dibilang kami adalah empat sekawan. Kita merupakan teman paling akrab diantara teman-teman yang lain. Suka kemana-mana berempat. Sering menghabiskan waktu bersama. Tapi sekarang jarak telah merubah segalanya."
"Mereka dimana sekarang?" Tanya Mira mengenai keberadaan beni dan Devi.
"Beni di bandung bersamaku. Sedangkan Devi di Jogja. Kuliah di UGM dia."
"O... Mereka berasal dari keluarga berada juga ya?"
"Iya, bapak ada ibu ada. He he. Bisa dibilang seperti itu. Devi dan beni berasal dari kalangan menengah keatas. Ayah Devi seorang polisi. Dulu pernah bertugas di polres Pandeglang. Kalau keluarga beni kebanyakan pengusaha. Aku sendiri saja bekerja di salah satu perusahannya."
Seusai menerangkan profil Devi dan beni kepada Mira, Leni sempat terkelu begitu dalam memandangi foto Devi saat akan meletakkannya kembali ke tempat semula. Ada rasa iba yang tiba-tiba menyelusup kedalam perasaannya. Mengingat cintanya yang tak terbalas oleh Danu. Mengingat Danu lebih memilih perempuan lain ketimbang dirinya.
Dalam hening nya Leni berpikir, apakah dirinya harus menceritakan perasaan Devi terhadap Danu kepada Mira, kalau Devi itu sebenarnya sangat mencintai Danu melebihi apapun.
Ketika dipikir-pikir lagi muncul rasa khawatir, Khawatir terhadap perasaan Mira. Karena bukan tidak mungkin Mira akan mengorbankan perasaannya sendiri demi perasaan orang lain.
Leni jadi merasa serba salah. Mau di ceritain gimana? Enggak di ceritain gimana?
Dua perempuan cantik yang melengkapi keseimbangan danu kala itu, leni dan mira. Terbaring di atas kasur yang empuk bersama pandangan sejurus sama-sama menatap langit-langit.
"Kamu tahu enggak ra?" Tanya Leni improv dengan intonasi terpotong.
Di tanya "tahu apa tidak?" Ya jelas mira tidak tahu. Ia hanya mendesah merespon pertanyaan Leni sambil menunggu kata lanjutannya.
"Aku dan danu itu merupakan dua insan yang di takdirkan bertemu namun tidak untuk di persatukan." Timpal Leni lewat nada merambat pelan. Mira tidak menanggapinya dengan kata-kata, hanya menoleh sekilas ke arah Leni. Menegaskan kalau dirinya sedang menyimak.
"Aku yakin, wanita manapun akan jatuh hati kepadanya Kalau sudah mengenal dia secara dekat."
"Alasannya?"
"Enggak tahu kenapa aku merasa danu tuh memiliki daya tarik yang kuat. Punya kharisma yang tinggi. Jika kita sudah dekat dengannya tidak ada alasan untuk berkata: " Membosankan."
Danu merupakan pribadi yang menyenangkan. meski terkadang suka menjengkelkan juga sih 😁. Dari sikap yang konyol itulah suka di kangenin. Satu hal lagi dirinya yang bisa buat kita terpana, yaitu kata-katanya kalau sudah bicara serius. nusuk banget ke hati."
"Sejak kapan kalian berdua bersahabat?"
