Separuh perjalanan sudah dilalui. Hingar-bingar suasana perkotaan mulai terasa. Pancaran lampu kendaraan berpadu dengan lanskap rumah-rumah bertingkat. Keriuhan seakan tak berjeda. Lalu-lalang kendaraan masih ramai melintas, kendati malam beringsut menuju larut. Roda-roda terus menggelinding melibas muka aspal hingga terkadang menghantam jalan berlubang. Lampu-lampu kendaraan menyorot dengan pendar menyilaukan aspal yang bermandi cahaya.
Ditengah percakapan yang merambat. Di jalan simpang tiga mengger. Tiba-tiba saja perut mira mengeluarkan suara, suara petanda keroncongan. Nadanya seperti gelembung didalam air.
Mira sadar kalau dirinya belum makan sejak tadi siang. Hanya baru nyemil bakso doang tadi sore. Dan saat itu perutnya mulai terasa lapar.
Mira menepuk-nepuk pinggang danu dengan laun Seperti ingin memberitahukan sesuatu. Danu tersentak geli, reflek menoleh ke samping. Seketika itu juga ia menurunkan kecepatan motornya dan menanyakan "ada apa?"
Awalnya mira hanya mengulum senyum, tapi kemudian menjawab, "tidak ada apa-apa." Padahal dalam perutnya seperti lagi dugem.
"Ada apa ra?" Ucap danu mengulangi pertanyaan yang sama.
"Gimana kalau kita berhenti dulu?" Jawab mira dengan nada ajakan.
"Mengapa?" Timpal danu agak heran. Untuk apa ia memintanya berhenti.?
"Perutku lapar."
"Memangnya tadi enggak makan di rumah si ilham?"
Mira menggelengkan kepala, Mengisyaratkan kalau dirinya memang tidak makan saat di rumah ilham tadi.
"Kenapa?" Sambung tanya danu ingin tahu alasannya.
"Tadi mah masih kenyang. Kan udah makan bakso."
"O.. Terus mau nyari makan apa?"
"Makan makanan yang merakyat!"
"Makanan yang merakyat? Apaan?"
"Pecel lele."
"Kok pecel lele? Merakyat dari mananya?"
"Karena ketersediaannya yang ada di mana-mana. Selain itu mudah di dapat dan banyak disukai oleh berbagai kalangan. Baik kalangan elite maupun kalangan sulit. Cukup merakyat kan?"
"Cukup masuk akal. Tapi kalau begitu mah, nasi goreng juga sama atuh? Sama-sama makanan yang merakyat. Soalnya nasi goreng juga ada di mana-mana, baik di kota mau pun di pelosok pelosok."
"Benar, nasi goreng juga termasuk makanan yang merakyat. Tapi aku maunya makan pecel lele! Dan pengennya di bayarin sama kamu.!"
"Aku gak biasa mentraktir orang lain."
"Kenapa?"
"Karena biasanya di traktir."
"Huh dasar kere."
"Bukan kere, hanya belum punya saja. Nanti kalau aku sudah kaya mah, aku bayarin. Untuk saat ini mah bayar sendiri dulu aja yah!"
Danu memang tidak pernah mentraktir orang lain, biasanya di traktir. Hal itu bukan karena dirinya pelit, melainkan uangnya yang tidak ada. Kalau diminta pete-pete pun biasanya iuran danu yang paling kecil. Orang lain patungan 50 ribu, ia mah 15 ribu.
500 meter berlalu, Danu menghentikan laju motornya di rokoy. di depan perumahan bumi pandeglang indah. tepatnya di warung lesehan bah udin, warung yang menyediakan menu pecel lele.
Bisa dibilang warung tersebut adalah warung langganan danu dan reymon. Mereka suka makan di sana tiap tengah malam Sehabis pulang main sebelum pulang ke rumah.
