"Ehem..." desahan serak suara ibunya saat menunjukkan diri. Kondisi fisiknya sudah rentan. rentan bukan karena paktor usia, melainkan karena penyakit yang dideritanya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, matanya kekuning-kuningan, serta terjadi pembengkakan pada kaki dan pergelangan kakinya. Untuk bisa berdiri saja rasanya sulit, harus ada sesuatu yang menjadi tumpuan.
"Ibu?" lirih mira bergema saat menoleh kearahnya. Bola matanya mendelik tajam hampir tak berkedip, kaget melihat kemunculannya secara tiba-tiba. Dalam hati bertanya-tanya, "sejak kapan ibu masuk ke kamarku?" sebab, jangankan melihat, menyadarinya sedikit saja pun tidak.
"Hayoo lagi ngapain nih?" Tanya ibunya sambil berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya.
Mira tak tega melihat langkah ibunya yang tertatih-tatih seperti itu, dia ingin turun dari kasurnya untuk membantu, tapi ibunya malah menolak.
"Udah, ibu juga masih kuat kok." Ucap ibunya yang tidak mau merepotkan.
Sebelah tangan mira reflek bergerak cepat menutup laptopnya yang masih menyala. Di laptopnya terpasang wallpaper foto danu. Ia tak mau wallpaper itu sampai ketahuan oleh ibunya, karena kalau sampai terlihat bisa panjang perkaranya, bisa menimbulkan banyak pertanyaan seperti "siapa tuh? Orang mana? Teman kamu apa pacar kamu? Kenalin dong sama ibu!" Yang ujung-ujungnya diharapkan jadi suami buat mira.
"Kenapa komputernya langsung ditutup seperti itu?" Tanya ibunya curiga, ibunya merasa ada sesuatu yang coba disembunyikan olehnya.
"Enggak kenapa-napa bu, Takut keliatan sama ibu aja, ibu 'kan orangnya suka kepo. Hehehe."
"Em... Mulai rahasia-rahasiaan ni yah? Emang ada apaan didalamnya sampai ibu gak boleh liat? Ibu curiga nih, Jangan-jangan.. Kamu menyimpan sesuatu ya? Soalnya dari tadi ibu perhatikan tingkahmu sangat aneh."
"Aneh? Aneh gimana maksudnya bu?"
"Ya aneh aja, masa senyam-senyum sendiri, Ketawa-ketiwi sendiri, Sampai ngomong sendiri. Apa itu bukan aneh namanya?"
"Ya enggak atuh bu. 'Kan ada sebabnya? Kecuali senyam-senyum sendirinya tanpa sebab, Baru tuh namanya aneh."
"Sebabnya kenapa?"
"Tuh 'kan, Ibu mah suka kepo sama urusan mira. Apa-apa pengen tau, apa-apa pengen tau, tak bisakah sekali saja ada rahasia diantara kita berdua?"
Ibunya tersenyum kuning, senyuman yang melambangkan rasa malu. Kemudian ibunya menggelengkan kepala dan jari telunjuk secara berulang-ulang kali. Ibunya menegaskan tidak boleh ada rahasia diantara mereka berdua. Pokoknya segala hal tentang mira, baik itu urusan pekerjaannya, maupun urusan percintaannya ibunya mesti tahu. Karena kebahagiaan mira sama saja dengan kebahagiaannya. Kesedihannya sama juga dengan kesedihan ibunya.
"jangan pernah coba-coba menyembunyikan sesuatu dari ibu! Ingat! Kita sudah saling berjanji akan selalu terbuka satu sama lain. Sekarang ayo ceritakan! ada kabar gembira apa hari ini? Soalnya ibu curiga sama tingkah kamu yang aneh itu. Senyam-senyum sendiri, ketawa-ketiwi sendiri, bahkan ngomong sendiri seperti orang gila."
Mira hanya bisa tersenyum ringkas tanpa mampu menjabarkan tiap katanya. Rasanya tidak mungkin untuk berkata jujur pada saat itu. Mira juga tidak mengerti kenapa pikirannya bisa oleng. Apa yang dirasakannya pada saat itu belum bisa diungkapkan lewat kata-kata. Aksaranya masih gaib.
"Sebenarnya yang aneh itu bukan mira, tapi ibu. Karena apa? Karena ibu bisa masuk tanpa keliatan, Tau-tau udah ada disini aja, 'kan aneh."
"Ih... Kamu gak tau yah, Kalau ibumu ini memiliki ajian halimun. Ajian bisa menghilang yang biasa ibu pakai saat ditagih hutang. Hehehe."
"Hem.. Ibu bisa aja."
