bab 64

9 1 0
                                        

Danu dan Reymon tidak segera pergi ke pangkalan badak kulon. Melainkan menyantap makan malam dahulu bersama ummi dan adiknya Danu. Setelah itu adzan berkumandang. Danu dan Reymon pergi ke masjid untuk menunaikan shalat isya berjamaah. Jam delapan lebih barulah mereka berangkat ke pangkalan badak kulon.

Sedan hitam itu melaju dengan tenang dan elegan. Reymon yang mengemudikannya. Sedangkan Danu duduk disamping kirinya.

Ditengah perjalanan Danu mengaktifkan ponselnya. Pesan-pesan baru mulai bermunculan. Pesan-pesan tersebut datang dari teman-temannya yang menanyakan keberadaannya. Mereka khawatir komandannya tidak datang. Nanti siapa yang akan memimpin rapatnya? Danu sengaja tidak membalas pesannya. Tujuannya ingin memberi mereka kejutan. Juga ingin membuat mereka semakin khawatir.

Danu hanya mengirim pesan kepada Mira, "hai, lagi apa nih?" Sayangnya Mira tidak membalas. Kebetulan dia sedang sibuk. Lagi ada acara di ponpesnya. Danu pun menonaktifkan ponselnya kembali. Takut ditelpon oleh teman-temannya di pangkalan.

    "Nyet, hubungan ente sama ibu guru cantik itu gimana? Apakah kalian berdua sudah jadian? Si bogel sering bilang, katanya 'ente sudah jarang ke pangkalan. Sibuk pacaran mulu.' emang benar nyet?" Pertanyaan Reymon ngadak-ngadak seperti serse. Ia ingin tahu perkembangannya karena merasa sudah banyak ketinggalan info sahabatnya itu.

    "Ente sih pake ada acara minggat segala, jadinya ketinggalan info kan he he. Ane jarang ke pangkalan bukan karena sibuk pacaran. Tapi karena tidak ada ente, mangkanya ane males kesana."

    "Bisa ae Lo ngelesnya. Tapi bener gak, ente sudah jadian sama Mira?"

Danu tersenyum membenarkan. Betapa bangganya bisa mengakui Mira sebagai pacarnya.

    "Iya, ane memang sudah jadian sama doi."

Reymon mengulum senyum turut bahagia mendengarnya.

    "Wah... Harus di rayakan tuh. Soalnya ini merupakan sejarah he he. Tak ku sangka, seorang cowok yang anti cinta akhirnya bisa tunduk juga oleh ibu guru itu."

    "Saya bukan anti cinta, tetapi menunggu momen yang tepat kapan harus jatuh cinta. Tidak seperti kau yang suka mengobral cintanya. Mungkin sekarang ini adalah waktunya untuk ku jatuh cinta."

    "Berarti julukan jomblo abadi sudah tak berlaku lagi dong?"

    "Enggak lah, karena didunia ini tidak ada yang abadi."

    "Gimana rasanya setelah jatuh cinta?"

    "Rasanya tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Ketika ane jatuh cinta kepadanya, ane menganggapnya sebagai anugerah. Tapi ketika dia mengajak ane menikah, ane tidak tahu harus menganggapnya sebagai apa? Anugrah atau bencana?"

    "Dia ngajak ente menikah?" Suara Reymon heboh. Seakan tidak percaya mendengarnya.

    "Iya." Sahut Danu lemah seperti tak berdaya.

    "Cepat amat?"

    "Didesak oleh ibunya."

    "O.. kirain hamil duluan."

    "Astaghfirullah hal adzim, amit-amit."

    "Kok ibunya bisa mendesak?"

    "Ibunya sakit keras. Bahkan dokter mengklaim umurnya tidak akan lama lagi. Sebelum meninggal ibunya punya satu permintaan, yaitu ingin melihat Mira menikah."

Reymon tertegun sambil memainkan perseneling mobilnya.

    "Terus-terus!?" Ia meminta Danu melanjutkan ceritanya.

    "Ane juga bingung harus bagaimana."

    "Kok bingung sih? Harusnya kan happy. Apa karena tidak punya duit buat biaya pernikahannya? Tenang nanti ane sumbang. Kalau masih kurang tinggal minta sama Leni dan beni! Mereka kan anak orang kaya. Kalau masih kurang juga, tinggal menggalang dana di pangkalan badak kulon ha ha ha. Pokoknya cukuplah buat biaya pernikahan ente mah."

    "Masalahnya bukan hanya sekedar biaya pernikahan. Kalau hanya soal itu minta sumbangan sama kalian juga mungkin dapat. Masalahnya saya ini masih terlalu muda untuk menikah. Masih labil dan polos. Masih belum bisa menguasai ego. Jangankan membina rumah tangga, membina diri sendiri saja masih belum bisa. Menikah itu gampang. Cukup ada wali, saksi, dan ijab qobul sudah sah. Tanpa harus menggunakan biaya yang banyak. Tapi seumur hidup itu lama. Jadi harus dipastikan bersama orang yang tepat."

    "Jadi ente menganggap perempuan itu kurang tepat untuk dijadikan istri?"

    "Bukan perempuannya yang tidak tepat, tetapi waktunya. Meskipun kita memilih orang yang tepat, tapi kalau waktunya tidak tepat maka semuanya akan sia-sia. Pernikahan itu sangat sakral. Bukan ajang coba-coba. Apalagi nguji kecocokan. Menikah itu harus dipikir matang-matang. Harus siap dengan segala konsekwensinya."

Reymon tersenyum mendengar pernyataan Danu. Pernyataan yang bertele-tele. Terlalu atelophobia. Merasa takut berlebihan jika dirinya tidak cukup sempurna.

    "Tidak perlu menunggu matang. Tidak usah menunggu waktu yang tepat. Kalau ada kesempatan mah nikahi saja! Urusan kedepannya gimana nanti. Biar waktu berjalan dengan prosesnya. Ente bisa mengambil pelajaran dari orang tua ane. Lihatlah mereka! Mereka menikah diposisi yang sudah mantap. Matang dari segi umur. Matang dari segi materi. Bahkan matang dari segi apapun. Tapi semua itu tidak menjamin hubungan yang langgeng. Nyatanya mereka bercerai juga tuh. ada yang menikah dini karena hamil duluan, tapi rumah tangganya langgeng sampai punya anak cucu."

Pernyataan Reymon ada benarnya juga. Danu bisa berkaca-kaca pada orang tuanya. Tapi menurutnya Jika yang sudah matang saja masih bisa bercerai, apalagi yang masih muda.

Dalam perjalanan ke pangkalan badak kulon, Reymon memilih menelusuri jalan raya Mandalawangi. Disamping jalannya sepi, ia juga mau menjemput si bogel yang sudah menunggu di pinggir jalan. Mereka sudah kontekan akan berangkat bareng ke pangkalan.

Tepat didepan rumah Reymon mobil sedan itu menepati dan berhenti sejenak. Reymon memandang kearah rumahnya dari balik kaca mobil. Sedangkan Danu memandangi si bogel yang sedang berjalan menyebrangi jalan.

    "Enggak mau turun dulu nyet?" Tanya Danu.

Reymon tidak bersuara. Hanya menggelengkan kepala.

Bogel pun datang lalu masuk kedalam mobil sedan tersebut. Ia duduk di bangku belakang.

    "Dan... Kemana aja nih?" Suara bogel menyapa Danu. Sudah beberapa hari ia tidak berjumpa dengannya.

    "Sehat gel?" Sahut Danu sambil senyam-senyum.

    "Alhamdulillah, Pangestu. Kemana aja nih gak pernah ke pangkalan?" Timpal bogel.

    "Sibuk gel, ngurusin pacar, he he."

    "Duh mentang-mentang sudah punya pacar lupa sama kita."

Danu tertawa.

    "Nyokap ane masih ada di rumah?" Tanya Reymon.

    "Udah pergi."

    "Pergi kemana?"

    "Enggak tahu tuh bos."

    "Dia tahu kalau ane pulang?"

    "Kayaknya enggak, soalnya ane gak bilang sama siapa-siapa kalau bos pulang."

Danu, Reymon, dan bogel, jika sudah berkumpul maka tidak akan ada suasana hening. Mereka akan mengeluarkan suaranya Masing-masing. Mereka akan membicarakan apa saja sesuai dengan apa yang ada di kepalanya.

   

Tirakat Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang