sisa hujan semalam

45 6 0
                                        

Dibelai dingin pagi yang merayu, disaat burung-burung belum mengepakkan sayapnya. pintu kamar sengaja dikunci, gorden penutup jendela dibiarkan terjuntai begitu saja. Duduk sendiri dibangku dalam kamar menghadap jendela sambil memeluk jiwa yang hampir menyerah. Rasanya tidak masuk akal melakukan hal yang sama terus menerus namun berharap hasil yang berbeda.

Mira membuka kembali laptopnya untuk melihat foto dan vidio danu. Foto dan vidio itu sedikit menghibur segala keresahannya. Mira tersenyum penuh angan, namun di dada terasa menyesakkan. Dia ingin memiliki teman, teman yang bukan hanya sekedar teman, tetapi teman yang benar-benar teman. Teman yang bisa diajak suka dan duka. Teman untuk berbagi ruang dan tempat. Teman untuk hari ini, hari esok, dan hari-hari seterusnya.

Dari sisa hujan yang tertinggal di daun pagi, mira diingatkan tentang sebuah kematian, tapi bukan tentang kematian dirinya, melainkan tentang kematian ibunya. Dia sadar, Semua yang bernafas pasti akan berhenti pada waktunya, semua keindahan tentang dunia akan tidak ada artinya, cerita akhirat yang dulu didengar akan menjadi nyata, angan-angan duni akan menjadi hampa.

disisa hidup ibunya yang tinggal sebentar lagi menurut ramalan dokter, mira ingin membuat ibunya tersenyum di hari-hari yang terakhirnya.
Yang jadi persoalan, bagaimana caranya bisa mewujudkan keinginan yang terakhirnya itu?

Mira Sempat kepikiran akan menikah dengan siapa saja, yang penting keinginan ibunya terpenuhi dulu. Tapi dalam lubuk hati paling dalam tidak mengindahkan, karena hatinya hanya ingin menikah dengan lelaki yang dicintai. Bukan menikahi lelaki karena dalam posisi terdesak. Masalahnya mira belum mencintai siapapun, baru mau mencintai, itupun pada lelaki yang belum tentu lelaki itu juga akan mencintainya kembali.

    "Apa aku coba deketin dia saja yah? Syukur-syukur dia menyukaiku, masa enggak sih? Wajahku kan enggak buruk-buruk amat."

Dia tahu, tidak ada perjuangan yang mudah untuk menjadikan semuanya jadi indah. Ada banyak resah yang harus diubah jadi tabah, ada banyak lelah yang tak boleh kalah dengan kata menyerah.

Resahnya itu adalah sisa hujan semalam yang didera oleh keinginan sang ibu yang hampir meninggalkan tangis. Pada garis-garis lengkung kantung mata dikepudaran warna yang pias, disisa hujan semalam laksanakan diingatkan oleh malaikat Izrail yang datang mengadu tentang kematian padanya. Sementara air mata meleleh dari kantung mata yang tak kuasa menahan resah meski pagi datang menghibur.

    'Tok tok tok.' suara ketukan pintu di luar kamar dilakukan oleh ibunya. Mira segera menutup layar laptop dan menghapus air mata di pelipisnya.

    "Ra, tumben ni pintu di kunci? Sedang apa emang?" Tanya ibunya dari luar.

    "Lagi ngerjain tugas bu." Jawabannya berbohong. Dia sedang tidak mengerjakan tugas, akan tetapi sedang menangis meratapi nasibnya.

    "Kata ua kamu, Munjungan ke rumah ilham berangkatnya jam sembilan."

    "Iya bu, mira udah tahu dari risma."

    "Ouh udah tahu, ya udah, ibu cuman mengingatkan doang, supaya nanti kamu bisa siap-siap."

    "Iya bu, iyah."

Saat suara ibunya terdengar senyap, mira kembali membuka laptopnya. Entah kenapa dia jadi sering melihat foto dan rekaman video itu. Foto dan video itu seperti memiliki magic, seakan tidak ada bosannya untuk dilihat, begitu habis diputar lagi, diputar lagi, sampai tak terasa dia sudah banyak menghabiskan waktu didalam kamar.

Beberapa saat kemudian ibunya datang lagi, mencoba mendorong pintu namun masih keras, kuncinya belum dibuka oleh mira.

    'Tok tok tok.' ibunya kembali mengetuk-ngetuk pintu sambil menanyakan "sudah siap apa belum?" Karena waktu sudah hampir jam setengah sembilan.

Tirakat Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang