Danu mengambil handphone diatas meja samping hospital bed. Dengan ponselnya ia melakukan panggilan keluar ke nomor Mira. Ia ingin memastikan apakah Mira datang ke rumah sakit atau tidak? Jika benar datang dan cemburu melihatnya berpelukan dengan Leni, maka ia akan menjelaskan bahwa pelukannya itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah sekedar ungkapan rasa rindu.
Tidak hanya cukup sekali ia menghubunginya, tetapi berkali-kali. Namun hasilnya tetap sama, tak pernah diangkat. Sampai pada akhirnya ia berhenti ketika sebuah voice operator berkata, "nomor yang anda tuju sedang tidak aktif." Mira sengaja menonaktifkan ponselnya karena merasa terganggu, dan demi tidak melulu di brondong panggilan dari Danu.
"Sepertinya dia beneran cemburu. Hapenya saja sampai dinonaktifkan." Ucap Danu dihadapan semuanya.
"Tuh 'kan, apa Tante bilang. dia tuh kesini, datangnya gak beda jauh sama Leni."
"Fix, teteh Mira beneran cemburu."
Tak lama setelah itu terdengar notifikasi pesan masuk di hp Danu. Berhubung hapenya masih digenggam, maka saat itu juga ia langsung membukanya. Isi pesannya seperti ini, "jangan ganggu Mira! Karena kamu, dia jadi bersedih."
"Ha ha ha." Danu tertawa setelah selesai membacanya. Ia tertawa menyepelekan. Menunjukkan superioritas berbentuk cemooh terhadap si pengirimnya. Meski tidak tahu pasti siapa pengirimnya, tapi ia yakin, orang tersebut masih ada kaitannya dengan Mira. Buktinya dia tahu kalau Mira sedang bersedih.
"Ada apa nu? Keliatannya lucu?" Tanya Leni ingin tahu.
"Enggak tahu nih, ada yang ngirim pesan nyuruh saya jangan ganggu Mira! Katanya, dia sakit hati karena saya." Alih-alih membalas pesannya, Danu justru tidak perduli dan meletakkan hapenya kembali keatas meja sambil menggerutu, "tidak tahu apa-apa malah nyalahin orang, ada-ada saja nih yang ngirim pesan."
"Berarti bener tuh, tadi Mira kesini dan ngegep kita lagi berpelukan. Aduh, aku jadi gak enak hati nih. Gara-gara aku, dia jadi cemburu."
"Jangan merasa bersalah. Ini cuma kesalahpahaman saja."
"Memangnya kamu dan dia punya hubungan apa?" Leni yang penasaran mulai mengobservasi. Ia heran, kenapa perempuan bernama Mira itu sampai cemburu melihat kedekatannya dengan Danu. Karena tidak mungkin sampai cemburu jika tidak menyimpan rasa didalamnya.
Danu tersenyum sambil menggedikkan bahu dan sedikit menggelengkan kepala. Ekspresinya agak membingungkan.
"Kalian berdua pacaran?" Tanya Leni memastikan status keduanya.
Danu hanya tersenyum menanggapinya. Ia sengaja tidak menjelaskan secara valid dan objektif. Hal itu dilakukan untuk membuat Leni penasaran.
Jawaban Danu dirasa tidak memuaskan oleh Leni. Bertanya kepadanya tidak akan menghasilkan apa-apa, yang ada tekanan darah makin tinggi. Leni pun memutar badan menghadap Delisa. Ia berharap mendapatkan informasi yang menarik darinya.
"Delisa, coba jelaskan! Ada hubungan apa antara kakakmu ini dan Mira?" Tanya Leni yang ngebet pengen tau.
Sebelum menjawab, Delisa sempat menoleh kearah Danu. Ia memastikan situasi dan kondisinya terlebih dahulu. Takut kakaknya keberatan dan tidak mengijinkannya berbicara. Setelah memastikan wajah kakaknya santai dan seperti tidak keberatan, barulah Delisa berani angkat bicara.
"Aku tidak tahu. tapi yang jelas, belakangan hari ini Aa dan teh Mira sedang pendekatan."
"Oo... Sedang pdkt. Siapa yang ngedeketin duluan?" Timpal Leni menindaklanjuti.
"Sepertinya keduanya sama-sama saling mendekatkan diri satu sama lain." Pungkas Delisa.
Danu dan tane Lisa hanya bisa mengulum senyum dalam diam.
"Cieee cieee... Yang udah punya gebetan baru, enggak akan menyandang predikat jomblo abadi lagi nih." Ucap Leni ngecengin Danu.
"Apalah arti sebuah status? Tidak punya hari ini, bukan berarti tidak punya selamanya. Saya hanya sedang menunggu, menunggu momen yang pas, dan orang yang tepat."
"Tau gitu tadi aku enggak bakalan meluk-meluk kamu. Gara-gara aku, dia jadi cemburu. Kamu sih enggak pernah cerita, jadinya aku tidak tahu." Leni masih saja merasa bersalah atas perbuatannya.
"Sudahlah jangan selalu menyalahkan diri sendiri. Besi bisa rusak karena karatnya sendiri. Sama halnya dengan manusia. Manusia bisa hancur karena pikirannya sendiri. Ini bukan salah mu, melainkan salah Mira juga. Kenapa dia tidak masuk menemui kita? Coba saja kalau dia masuk, mungkin dia akan tahu siapa kamu yang sebenarnya." Danu bersikap bijak. Tidak menyalahkan siapapun. Ia tidak menyalahkan ketidak tahuan Leni. Juga tidak menyalahkan ketidak tahuan Mira. Ia hanya menyayangkan sikap Mira yang terlalu mudah menyimpulkan suatu kejadian.
"Terus gimana nih? Apakah aku harus meminta maaf sambil mengakui kalau aku ini bukan pacar kamu?"
"Harus tuh, kamu harus minta maaf dan mengklarifikasi bahwa kamu bukanlah pacar saya! He he he. Enggak juga atuh Len, enggak apa-apa, biar nanti saya aja yang menjelaskan kepadanya."
"Tapi, aku merasa gak enak lho."
"Enggak apa-apa, di enakin aja. Kamu tahu enggak, kenapa dia cemburu?"
"Kenapa?"
"Karena dia tahu kalau kamu itu orang yang spesial dihati saya."
"Oh yah? Emang Iyah?" Sahut Leni agak baper disebut sebagai orang yang spesial oleh Danu.
"Padahal enggak juga, saya cuma ngibulin dia doang."
"Berarti aku enggak spesial dong di hati kamu?"
"Dan sekarang saya lagi ngibulin kamu."
"Ih... Enggak jelas amat sih? Bikin bingung."
Danu menutupnya dengan tertawa terbahak-bahak. Ia paling seneng ketika membuat orang lain bingung.
'tok tok tok.'
"Assalamualaikum." Om Iwan datang mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Seketika itu juga suasana didalam ramai membalas salamnya sambil memandang kearahnya. Kedatangan om Iwan berniat menjemput Tante Lisa dan Delisa yang sebelumnya sudah janjian.
"E... Ada siapa nih?" Kata om Iwan merujuk kepada Leni. "Kapan datangnya?"
Leni tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Akan tetapi menyalami tangan om Iwan terlebih dahulu. Setelahnya barulah ia menjawab, "barusan."
"Apa kabar?" Sambung om Iwan.
"Alhamdulillah, baik." Sahut Leni.
"Tambah cantik aja nih."
"Om Iwan bisa AE. Enggak kayak Danu, enggak pernah memuji Leni kayak gitu."
"Dia kan buta. Enggak tahu sama cewek cantik."
Ketika mereka yang bercanda, tapi Danu yang kena bully nya.
"Kalau sudah ada kamu disini, om yakin si Aa Danu bakal cepat sembuh nih."
"Aamiin aamiin."
Delisa mulai mengemasi barang-barang yang hendak dibawa pulang. Sedangkan Tante Lisa mendekati Leni seperti mau mengatakan sesuatu.
"Teh Leni, bisa tungguin Aa Danu sebentar dulu gak? Soalnya Tante sama Delisa mau pulang dulu. Cuma bentar doang kok, nanti kesini lagi."
"Bisa bisa. Jangankan sebentar, lama juga enggak apa-apa." Bagi Leni, apa sih yang enggak buat Danu? Jangankan menjaganya sebentar, sampai kiamat pun dia pasti siapa.
"Tante, enggak usah balik kesini lagi juga enggak apa-apa. Istirahat aja dulu di rumah! Biar nanti teman-teman aa saja yang nemenin disini." Ucap Danu menyiasati tantenya.
"Tau aja kamu a, kalau malam ini malam apa?" Sahut om Iwan menanggapinya dengan guyon.
"Malam apa emangnya om? Bukannya ini malam Selasa?"
"Iya, malamnya sunahan."
"Bukannya malam sunahan itu antara malam Senin dan Jumat?"
"Terus, memangnya kalau malam Selasa Gak bisa dijadikan malam sunah Tah?"
"Terserah om aja deh. Atur aja sesuka om!"
