Pertengahan malam begitu menerawang. Bagaikan gelap tak kunjung terang. Dipertengahan malam yang seharusnya menjadi mimpi indah, justru dihadapkan pada sebuah persoalan. Raut wajahnya berubah 180°celcius. Tat kala bogel menutup sambungan telponnya. Kabar tak sedap dari sahabatnya lah yang merubah semua itu.
"Kenapa?"
"Iya, Ada apa sih?"
Mira dan jaki kompak mempertanyakan penyebabnya. Karena mereka melihat perubahan yang signifikan di wajahnya. Mereka merasakan ada sesuatu yang disembunyikan. Mereka meyakini ada masalah didalamnya. Sebab kalau tidak, tak mungkin ekspresi wajahnya bisa berubah secepat itu.
Danu menghela nafas panjang. Lalu menghembuskan nya jauh-jauh. Ia menggelengkan kepala seolah tidak ada apa-apa.
"Enggak apa-apa. si bogel cuma bilang, salsa kerumah Reymon. Dan reymon-nya pergi entah kemana" danu sengaja berbohong demi menutupi berita perselingkuhan ibunya Reymon. Hal itu dilakukan agar beritanya tidak menyebar kepangkalan badak kulon.
"Balik yuk!" Danu berdiri mengajak pulang. Mau tidak mau, Suka tidak suka, Dan apapun konsekuensinya, Dia harus membawa Mira pulang kerumah om dan tantenya di karang tanjung. Rencananya ia akan menitipkan Mira di sana. Setelah itu ia akan pergi lagi kerumah Reymon untuk menemui si bogel.
"Yuk. Udah malem juga nih." Mira mengangguk mengiyakan tanpa menanyakan akan diajak bermalam dimana. Dirumah siapa.
"Jak. Bisa pinjam mobil sama hapenya dulu enggak? Besok, ente ambilkan hape ane di rumah si Lilis! Kalau sudah, nanti kita ketemuan di alun-alun!" Danu meminjam mobil sama hapenya jaki. Karena dua benda tersebut sangat dibutuhkan olehnya.
Meski menyimpan banyak pertanyaan dan sedikit berat hati melepasnya, namun jaki harus punya loyalitas. harus mengerti dengan keadaan. Bahwa dibalik kebutuhannya pasti menyimpan alasan yang kuat. Jaki menyerahkan kunci mobil dan hapenya kepada Danu. Tak lupa juga meminta kunci motor Danu untuk membawanya pulang.
"Nanti ane ceritakan semua!" Janji Danu saat menyerahkan kunci motor.
"Ok ok." Jaki mengangguk memahami. Pernyataan Danu seolah menegaskan bahwa ada sesuatu yang memang tak bisa diceritakan saat itu.
...
Ditengah Rinai hujan yang tak begitu deras. Didalam mobil sedan berwarna hitam. Danu dan Mira meluncur menuju karang tanjung. Jaraknya sekitar 5km dari pangkalan badak kulon.
"Kita mau kemana?" Ditengah-tengah perjalanan Mira membuka suara. Mempertanyakan arah dan tujuannya.
"Kerumah om saya!"
Mira tidak merasa keberatan. karena dia pikir, Danu juga akan tidur di sana.
"Kalau aku boleh tahu. sebenarnya hapemu itu digadein, apa enggak sih? Kok nyuruh temanmu buat ngambilin?"
"digadein. Besok mau ditebus lagi."
"Terus, untuk apa meminjam hape temanmu segala?"
"Buat kontekan besok."
"Maaf ni ya! Dari tadi tuh semua ucapanmu sangat mencurigakan. Aku yakin, kamu menyembunyikan sesuatu dari kami."
Danu tak sempat membalas ucapannya, lantaran mobil yang dikemudikannya telah sampai di depan rumah om Iwan. Suasana yang terlihat begitu sepi. Maklum sudah larut malam. Pintu pagar rumahnya pun tertutup rapat. Sehingga Danu tidak bisa memasukkan mobilnya sampai kedalam.
"Tunggu sebentar!" Danu turun dari mobil untuk mengecek pintu pagarnya. dikunci atau tidak. Kalau tidak, dia akan membukanya. kebetulan pintu pagarnya digembok.
