bab 26

27 5 0
                                        

                              'dear diary'

    'Semakin dewasa semakin aku mengerti, bahwa tidak apa-apa menjalani kehidupan yang orang lain tidak mengerti.'

    'Aku tidak pernah merasa segalau ini. Aku juga tidak pernah memikirkan siapapun selain ibuku. Tapi mengapa sekarang aku jadi memikirkannya? Apa aku sudah gila? Atau perkataan ibu yang benar, Bahwa posisinya di hatiku sudah tergantikan?'

    'Sungguh, dia telah menghantuiku.'

    'Sedang apa kamu di sana? Apa kamu tahu kalau malam ini jiwaku tak bersahabat.? Aku dimabuk kepayang. Memikirkan mu yang belum tentu memikirkan ku.'

    'Aku tahu tidak semua kesedihan bisa dinikmati sendirian. Ada beberapa kesedihan yang memerlukan teman berbagi. Kenapa kamu tidak disini mendengarkan ceritaku?'

Didalam kertas putih bertinta hitam. Mira menulis kata-kata jurnalnya. Kata ungkapan perasaannya sendiri.  ia bingung harus pada siapa menceritakan keluh-kesahnya? Buku diary dianggap lebih memahami.

Ketika ujung penanya berhenti berjalan, ia letakkan pulpennya diatas buku. Wajahnya terpaku dalam lamunan. Ilusi membawanya melayang liar. Menempatkan pada sebuah fatamorgana. Tiba-tiba saja berkelebat khayalan menikah dan punya anak. Dalam hatinya berkata, "jika aku punya anak laki-laki, akan aku beri nama firdan. Gabungan antara firli-danu. Kalau anaknya perempuan akan aku beri nama Daira. Danu-mira."

Seketika khayalannya menghilang begitu saja. Bola matanya nanar mendapati diri seperti orang bloon.  "Bisa-bisanya aku mengkhayalkan dia? Ini gara-gara ibu yang terlalu berekspektasi padanya. Aku jadi terbawakan."

    "imajinasi harus digunakan untuk menciptakannya menjadi nyata. Bukan untuk melarikan diri dari kenyataan." Pikirannya terbang bersama angan. Ilusi bergerak liar merekayasa keadaan. Kadang bergerak maju, kadang melangkah mundur. Bergerak maju manapaki sesuatu yang belum tentu terjadi. Melangkah mundur mengingat kejadian-kejadian yang sudah terlampaui.

Rasanya aneh bisa bermimpi dalam keadaan terjaga. Padahal sudah membuat diri sibuk dengan hal-hal yang dilakukan. Akan tetapi setiap kali ia berhenti, ia selalu teringat kan. Jatuh cinta kepadanya adalah hal yang tak disadari.

Rasa sesal kian terasa. Kenapa waktu itu ia tega mencampakkannya. Kenapa juga ia tidak menemuinya di warung ce eem. Ia sadar telah melakukan kekeliruan. Andai waktu bisa diulangi, ia tidak akan meninggalkannya di kantin. Ia akan mendengarkan penjelasannya. Dan akan menerima maaf darinya. Alangkah indahnya kalau hal itu sampai terjadi.

    'Ibu, pasti mengira aku dan dia sedang dekat. Padahal kenyataannya tak sedekat itu. Aku dan dia sedang berjauhan. Bahkan tak tahu lagi apakah akan kembali dekat atau mungkin semakin menjauh? Aku ingin melihat, apakah doa ibu yang sedang bergelut diatas langit sana mampu merubah takdir dan ketetapan dari sang pembuat takdir itu sendiri.'

Setelah menulis kata-kata itu, Ia teringat pada sebuah buku novel didalam laci. Buku novel 'cinta suci zahrana.' buku yang ia pinjam dari Danu yang belum sempat dikembalikan. Ia mengambilnya. Lalu diangkat setinggi dada. Dipandangi dengan seksama. "Buku novel ini. Mec, gimana cara mengembalikannya ya?" Gumamnya mendera.

    "Aku tidak punya nomor hapenya lagi?  harus ku kembalikan kemana buku ini? Apa perlu aku meminta nomornya pada Ilham melalui Risma? Terus aku telpon dan mengajaknya ketemuan?" Tubuhnya bergidik geli. Rasanya gimana gitu.

    "Ih, tidak ah tidak. Masa iya aku yang menghubunginya duluan? Bisa GeEr setengah mati itu anak. Dia pasti bilang aku rindu-lah, kangen-lah, gak bisa jauh-lah segala macam. Harusnya dia yang menghubungiku duluan! Bukan aku. Harusnya dia yang mengajakku ketemuan! Bukan aku. Dia kan yang salah? Mestinya berusaha mendapatkan maaf dariku! Gara-gara bukunya masih disini, aku jadi repot sendiri." Intuisi tentang situasi menjadikannya berbicara sendiri. Ia menggerutu merasa kesal.

Tirakat Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang