Pada dasarnya senja mengajarkan kata ikhlas. Membiarkan warna jingganya tenggelam terpupus oleh malam dengan gulitanya. Senja telah berlalu. Malam datang menyapa. Bintang-bintang bercahaya semu. Rembulan bersinar setengah lingkaran tertutupi semburat awan hitam kelabu.
Meski langit dimalam itu tampak cerah dan merona, namun tak secerah hati yang meronta. Jiwanya kadung sepi. Bukan malam yang menjadikannya sunyi, tapi hati yang terlanjur sepi. Dulu, sepi adalah sahabat yang paling mengerti, bahwa kesunyian adalah bagian dari hal yang paling memahami.
Didalam asrama lantai dua. Pintu jendela terbuka. Gorden penutup terjuntai ke sisi. Mira duduk termenung diatas kursi. Tatapannya kosong. Sebelah tangan menopang dagu. Bukti nyata kalau dirinya sedang melamunkan sesuatu.
Dian yang sekamar dengannya sibuk berdandan dihadapan cermin. Merapikan riasan pada wajahnya. Outfitnya rapi berbusana muslim. Akan menghadiri acara pengajian rutin mingguan.
"Enggak ikut pengajian, Tah?" Meski Dian terlihat sibuk dengan dandanannya, tapi dia tahu kalau sahabatnya itu sedang melamun.
Mira menggelengkan kepala tanpa menoleh. Tatapan matanya tak ubah. Sikap dan respon yang ditunjukkannya menjadikan Dian penasaran. Juga curiga. Mood nya terganggu karena memikirkan Danu. Sebegitu memikirkannya dia sampai-sampai tidak mengikuti pengajian.
"Lagi memikirkan Danu, yah?" Suara Dian menebak.
Walaupun benar dirinya sedang memikirkan Danu, tapi bukan karena itu alasannya tidak menghadiri acara pengajian. Alasan sebenarnya sedang datang bulan.
"Aku pengajian dulu ya. Baik-baik disini! Jangan melamun! Jangan terlalu memikirkan Danu! Nanti bisa gelo. He he." Dian yang sudah rapi berpamitan padanya. Menutup pintu. Meninggalkannya sendirian.
Bukan cuma Danu saja yang dia pikirkan. Tetapi nasib pak sekuriti juga. Pasalnya setelah kejadian itu pak sekuriti di PHK.
Mira bangkit dari tempat duduknya. Berjalan beberapa langkah mendekati jendela. Menyilangkan kedua tangan diatas perut. Menarik kepala keatas memandangi langit. Dari jendela kamarnya ia bisa melihat rembulan yang hanya setengah lingkaran itu. Andai saja ia bisa terbang, ia ingin duduk diatas sana. Disebuah alam yang hanya dipenuhi keindahan dan kedamaian saja.
Saat tangannya menyentuh Grendel jendela hendak ditutup, telpon diatas meja nakas berdering. Ia terdiam sesaat menatap telpon yang sedang berdering itu. "Telpon dari siapa ya?" Lirihnya sambil terus menutup jendela. "Kalau orang itu benar-benar perlu, pasti akan menelpon lagi."
Dilihatnya satu panggilan tak terjawab dari ibunya. Ia pun segera menelponnya kembali.
"Halo Bu, assalamualaikum." Sapanya mengawali. Membuka percakapan didalam telpon.
"Waalaikum'salam warohmutullahhi wabarokatuh." Balas ibunya dengan sangat fasih.
"Kemana saja tidak ada kabar? Sudah lupa Tah sama ibu?" ibunya nyeletuk. Karena biasanya hampir setiap malam Mira suka menelpon. Tapi akhir-akhir ini tidak ada. Wajar saja kalau ibunya mempertanyakan. Semenjak Mira berangkat ke asrama beberapa hari lalu, dia tidak pernah mengabarinya.
"Maaf Bu maaf! Akhir-akhir ini kegiatan di ponpes sedang sibuk. Mira belum sempat mengabari ibu." Mira berbohong. kegiatan di ponpes tidak begitu sibuk. Itu hanya akal-akalannya saja.
"Oh yah?" Ibunya tak percaya dengan alasan yang dibuatnya. Dia tahu, sesibuk apapun anaknya pasti akan meluangkan waktu untuk mengabarinya. Paling tidak sehari sekali. "Baru kali ini ibu mendengar kamu berkata 'sibuk.?' sibuk karena apa tuh? Karena pekerjaan apa karena pacaran?"
"Sibuk karena pekerjaan atuh Bu. Masa karena pacaran? Pacarnya aja enggak punya, apa yang mau di sibukkan? Ibu ini aya-aya wae."
"Walaupun ibu tidak tahu kamu lagi sibuk karena apa, tapi ibu merasa kalau posisi ibu di hati kamu sudah ada yang menggantikan." Tutur ibunya memancing reaksi Mira.
"Apaan sih Bu? Asal ibu tahu saja! Tidak akan ada siapapun yang bisa menggantikan posisi ibu di hati Mira. Karena apa? Karena ibulah yang paling the best."
"Sekalipun itu Danu?"
"Danu?" Spontan Mira mengulangi. Merasa heran namanya disebut-sebut. "Apa hubungannya?"
"Enggak, takutnya dia telah menggantikan posisi ibu di hati kamu."
"Ngaco deh ibu."
"Kemarin Risma main karumah, dia banyak menceritakan keseruan saat munjungan ke Menes. Katanya seharian itu kamu di rumah Danu. Dan dia jugalah yang mengantarkan mu ke asrama."
"Iya, itu memang benar. Karena ada kerjasama antara Risma, Ilham, dan ibunya Ilham."
"Kerjasama gimana?"
"Mereka bertiga seperti sengaja mau mendekatkan Mira dengan Danu."
"Alhamdulillah, syukur atuh.! Terus, kamu dan Danu sudah pacaran apa belum?"
Mira bergidik geli mendengar pertanyaannya. Pertanyaan ibunya kekanak-kanakan. Pake mempertanyakan sudah pacaran apa belum nya segala. Mira tak menjawab, lantaran tidak memiliki jawaban.
"Ibu hanya ingin memastikan, apakah doa ibu sudah terkabul atau belum?"
"Memangnya ibu mendoakan apa?"
"Mendoakan supaya kamu dan Danu pacaran! Terus menikah! Enggak kebayang kalau nanti punya anak? Pasti anaknya lucu-lucu dan menggemaskan. Bapakmu pasti bahagia punya cucu. Ada teman bermain di masa senjangnya. Ibu sarankan kalau kamu menikah nanti, kamu harus tinggal bersama bapak! Jangan sampai misah! Kasian, nanti bapakmu sendirian."
"Ya Allah, sampai segitunya membayangkan Mira menikah? Tidak adakah yang ibu harapkan selain daripada itu? Misalnya berdoa untuk kesembuhan ibu gituh? Meminta umur panjang gitu? Supaya ibu dan bapak bisa bermain dengan anak dan cucu nanti.!"
"Kan kamu tahu sendiri, dokter sudah memvonis umur ibu tidak akan lama lagi. Jadi, tidak ada yang lebih ibu harapkan selain melihat kamu menikah! Mangkanya cepetan menikah! Cepat punya anak! Mumpung ibu masih ada." Ketika dokter memvonis umurnya yang tidak akan lama lagi, hampir setiap malam ibunya selalu bermunajat kepada Allah. Memohon dan meminta jodoh Mira segera dipertemukan. Ibunya memiliki prinsip, jika Mira menikah maka dia akan bahagia dengan suaminya. Dan ketika ibunya meninggal, dia tak perlu risau melihat anak semata wayangnya bersedih.
"Dokter hanya memvonis, Bu. Hanya memprediksi. Bukan menentukan. Allah-lah yang maha tahu. Hanya dialah yang tahu kapan ibu akan meninggal. Hanya dialah yang bisa mencabut nyawa ibu. Allah membenci hambanya yang berputus asa. Allah membenci hambanya yang sok tahu. Tidak menutup kemungkinan ibu yang sakit hari ini, tapi dokter yang sehat meninggal lebih dulu."
"Tapi kan syariatnya?"
"Hidup ini bukan cuma syariat, tapi ada hakikat dan makrifat juga."
Di akhir percakapan sebelum telpon di tutup, Ibunya menitipkan salam buat Danu, "salam buat Danu. Jangan lupa ajak dia main ke rumah!"
Mengajaknya main kerumah? Rasanya sulit untuk saat itu.
