bab 66

25 1 0
                                        

    "apa kabar kamu nu?" Awalnya suasana tampak tenang dan kondusif. Devi mendekati Danu dan menanyakan kabarnya. Hal itu dianggap wajar karena mereka sudah tak bertemu selama enam bulan.

    "Alhamdulillah, baik." Sahut Danu begitu jaim.

    "Kemana aja nih?" Pertanyaan Devi mengandung arti yang luas. Bahkan nadanya sedikit menyindir. Sejak pulang dari Jogja beberapa hari yang lalu, ia selalu mencari-cari Danu. Ia ingin sekali berjumpa dengannya. Namun apalah daya ia tidak bisa menemukannya. Ia merasa, Danu seperti sengaja menghindarinya.

    "Ada kok, enggak kemana-mana." Balas Danu seolah tak berdosa.

Devi tersenyum menyepelekan jawabannya.

    "Kalau memang ada, kenapa saat dicari tak pernah ketemu? Apakah sengaja menghindar? Atau memang malas menemui ku?"

Danu menghela nafas panjang. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

Melihat Danu yang selalu mendapat perhatian dari Devi, Reymon tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bahwa ada rasa iri. Iri ingin seperti Danu. Rasa itu begitu halus masuk kedalam hatinya.

    "Kenapa nomor ku diblokir? Apakah dimatamu aku ini tak berarti apa-apa? Apakah aku ini seorang pengganggu? Aku lelah mengharapkan mu. Meski kau telah lama lenyap dari pandanganku, tapi tidak pernah bisa lenyap dari ingatanku. Kadang aku menangis karena putus asa. Tapi sialnya setelah itu aku masih saja menyukaimu. Rasa ini seperti tidak akan pernah ada matinya. Aku hanya ingin menjadi salah satu alasan dalam senyummu. Walau aku tahu kenyataannya aku hanyalah debu yang kau biarkan hilang terhempas angin."

Semua orang terkejut mendengarnya. Mendengar pertanyaan Devi yang begitu berentetan memberondongi Danu. Semua orang tahu kalau kisah cinta mereka bertepuk sebelah tangan. Reymon menyukai Devi, tapi Devi menyukai Danu, dan Danu tidak menyukainya.

Leni yang tahu semuanya tidak mau berkomentar. Ia memilih diam. Karena diam dianggap jauh lebih selamat.

    "Ketahuilah sesungguhnya saya tidak menghindar dari siapapun. Hanya saja akhir-akhir ini agak sibuk. Bukan cuma kamu doang yang tidak bisa menemui ku. Tapi Leni dan beni pun juga sama. Tanyakan saja pada Leni, sudah berapa kali dia bertemu dengan ku? Baru dua kali. Padahal sudah hampir satu bulan dia dirumah. Bukankah kamu tahu bahwa biasanya aku dan dia selalu bersama. Tapi tidak untuk saat ini. Kalau masih belum percaya juga coba tanyakan pada beni. Sudah satu Minggu dia pulang dari bandung. Tapi belum sekalipun berjumpa dengan ku. Bukankah kamu juga tahu bahwa biasanya dimana ada Danu disitu ada beni. Jadi saya harap kamu tidak salah sangka."

Leni dan beni hanya bisa tertegun membenarkan pengakuan Danu. Apa yang dikatakannya itu memanglah benar. Mereka jarang sekali bertemu. Sebenarnya Leni tahu alasannya mengapa. Hanya saja ia enggak membeberkannya. takut suasananya makin kacau.

    "Mulai aja yuk rapatnya! Jangan bahas persoalan cinta dulu." Leni berusaha meredam keadaan dengan cara mengalihkan topik. Ia enggan mendengar perdebatan klasik itu. Sudah muak mendengar dramanya. Drama yang tidak pernah ada ujungnya.

    "Nanti dulu atuh Len. aku ingin mendengar penjelasannya. Apakah benar aku ini tak berarti apa-apa dimatanya.?"

    "Iya aku mengerti. Tapi alangkah baiknya jika dibicarakannya nanti saja saat kalian sedang berdua. Kita datang kesini bukan untuk membicarakan persoalan cinta. Melainkan untuk membahas acara pesta pora. Mending kita langsung ke intinya saja. Keburu malam." Leni khawatir dua temannya berdebat sengit. Ia tak mau melihat Danu menanggapi pertanyaan Devi. Karena kalau dia sudah dalam mode serius, maka pertanyaan-pertanyaan Devi bisa habis dibolak-balik. Dan ujung-ujungnya Devi bakalan nangis. Leni tidak mau melihatnya menangis.

Tirakat Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang