bab 61 dilema

43 1 0
                                        

Rangkaian acara tak terduga hari itu telah selesai dilalui. Kenapa disebut tak terduga? Karena terjadinya tanpa di rencanakan. Seperti mengantar ke rumah sakit, mengantar pulang ke rumahnya, menginap di rumahnya, main ke pantai Carita, mampir ke rumah Danu, hingga nyore di alun-alun Pandeglang. dimana semua rangkaian itu tidak ada dalam rencana sebelumnya. Kini mereka berdua telah berpisah. Dan pulang ke tempatnya masing-masing.

Mira kembali ke asrama sebelum magrib setelah dua hari dua malam meminta izin. Baru saja ia masuk ke kamar asramanya, ia langsung disambut wajah jutek Dian.

    "Dari mana saja baru kembali?" Kata Dian agak sinis. Ia sebal sama Mira yang pergi tanpa pamit.

Mira tetap tersenyum meskipun Dian bersikap jutek. hatinya sedang berbunga-bunga. Tidak ada yang mengalahkan rasa bahagianya dari apapun. 

    "Kamu tahu sendiri kan kalau aku habis dari rumah sakit nganter ibuku checkup." Sahut Mira santai sambil melepas tas dan jilbabnya.

    "Iya aku tahu, tapi biasanya kalau mau pergi suka bilang-bilang dulu sama aku. Tapi kenapa kemarin enggak pamitan? Biasanya izin cuma sehari, kenapa sekarang nyampe dua hari? Terus kemarin malam kamu kemana?" Pertanyaan dian berentetan seperti seorang penyidik.

    "Sorry enggak sempat pamitan dulu sama kamu Soalnya buru-buru. Kemarin malam aku di rumah."

    "Yang kemarin malamnya lagi?" Kemarin malam sebelum kerumah sakit maksud Dian. Karena sore harinya Mira masih ada di asrama. Tapi malamnya ia menghilang tanpa kabar.

    "Kemarin malam?" Mira mencoba mengingat-ingat. Beberapa detik ia ingat kalau malam itu dirinya menginap di rumah Leni.

    "O... aku menginap di rumah Leni."

    "Leni? Siapa dia?" Namanya tampak asing ditelinga Dian. Setahunnya Mira tidak punya teman yang bernama Leni.

    "Dia tuh temannya Danu. Kemarin malam datang kesini menemui ku. Mau menjelaskan kesalahpahaman kejadian di rumah sakit. Dimana pada saat itu kita melihat Danu berpelukan dengan seorang wanita. Dan ternyata wanitanya adalah dia. Mereka sudah berteman sejak lama. Bahkan sudah seperti adik dan kakak. Dia mengajakku ke rumahnya. Disana ia banyak menceritakan tentang Danu. Saking banyaknya kita sampai gak tidur semalaman. Aku juga sampai lupa membalas chat kamu. Sekali lagi maaf ya yan."

    "I'ts ok. Lalu?"

    "Lalu paginya Danu datang ke rumah Leni. Dia tidak tahu kalau aku ada disana. Dia mengantarku ke rumah sakit. Lalu sorenya Mengantar pulang ke rumah. Serta menginap di rumahku. Dan yang lebih penting dia bilang kalau dia menyukaiku."

    "Dia nembak kamu?"

Mira tersenyum dan menganggukkan kepala.

    "Serius kamu Ra?"

    "Iya, orang aku juga menyukainya."

Dian tersenyum ringkas. Tak percaya bisa secepat itu mereka jadian.

    "Selamat ya akhirnya kamu punya pacar juga." Melihat Mira yang selalu dalam posisi beruntung Dian tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bahwa ada rasa iri. Iri ingin seperti Mira. Rasa itu begitu halus masuk kedalam hatinya.

    "Terus, gimana dengan kondisi kesehatan ibumu?" Seketika Dian mengalihkan topik pembicaraan. Ia sengaja Karena tidak ingin mendengar cerita asmaranya terlalu banyak. Hal itu hanya akan menyakiti hatinya.

    "Enggak ada perubahan. Bahkan kondisinya semakin memburuk. Untungnya kemarin ketemu Danu. Bisa sedikit terhibur."

    "Sabar ya Ra! Ngomong-ngomong berangkat jam berapa tadi dari rumah?"

Tirakat Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang