masih dengar suara leni

58 3 2
                                        

Jarum jam berjalan cepat tanpa perasaan. Kesunyian malam setia menemani desahan nafas yang tak berkesudahan. Begitu sulit memahami malam. Sebab malam suka menawarkan harapan pada esok. Dilihatnya sinar lampu yang menyala. Bawa trek takdir mulai tergambar. Tidak ada pikiran yang menggambarkan tentang kesedihan. Karena pada progresnya pikiran manusia selalu berekspektasi pada kebahagiaan.

Leni dan Mira berpindah tempat. Semula berbaring diatas kasur, kini duduk diatas sofa dengan dua cangkir seduhan kopi chocolate.

    "Satu tahun di SMP kelas tujuh A. Tidak ada yang spesial menurutku. Bahkan aku dan Danu saja belum berdamai. Apalagi akrab. Rasanya tidak mungkin terjadi untuk saat itu. Membayangkan nya saja sangat ngeri. Aku dan Danu masih bermusuhan. Hari-hari kami di sekolah sering diwarnai konflik. Sehari tak berseteru rasanya dunia sepi. Teman-teman di kelas sampai bosan melihat tingkah kami berdua yang tak pernah akur.  Di sekolah, Danu hanya memiliki satu orang teman. Itupun karena mereka satu bangku. Kalau temanku banyak. Karena aku orangnya sangat loyal. Suka neraktir teman-teman di kantin."

    "Pertemuan kalian seperti drama di film-film. Berawal dari saling benci, kemudian berubah jadi saling sayang." Kata Mira memberikan komentarnya. Ia suka memotong cerita Leni saat konotasinya telah berhenti.

    "Pengennya sih begitu. Punya jalan cerita kayak di film-film romantis. Berawal dari saling benci, berakhir saling mencintai. Sayangnya ekspektasi itu tak terealisasikan. Rasa cinta hanya tumbuh kepadaku. Dan Tidak untuknya. Buktinya sampai sekarang Danu tidak pernah menyukai ku lebih dari sahabat."

    "Aneh juga ya, Kenapa dia tidak bisa mencintai mu?"

    "Kan sudah aku katakan, aku dan Danu adalah dua insan yang dipertemukan tapi tidak untuk disatukan."

Mira mengangguk-anggukkan kepala tak bisa berkata apa-apa lagi jika sudah berbicara mengenai takdir.

    "Satu tahun pertama disekolah telah dilalui dengan beragam cerita. Ada pahit, ada manis. Ada suka, ada duka. Namanya juga kehidupan. Di akhir semester wali kelas mengumumkan, barang siapa yang mendapat rangking 15 kebawah, maka kenaikan kelas nanti akan masuk ke kelas B. Dimana kelas B itu merupakan kasta kedua dari kelas unggulan. Sedangkan bagi yang mendapat rangking 15 keatas, maka akan tetap bertahan dikelas A. Atau kelas unggulan. Berhubung pada saat kenaikan kelas aku mendapat nilai paling tinggi, jadi bisa dipastikan aku akan bertahan dikelas unggulan."

    "Terus Danu gimana? Apakah dia juga masih bertahan dikelas unggulan?"

    "Tidak. Nasib buruk dialami olehnya, setelah hasil semester terakhirnya mendapatkan rangking 16. Maka otomatis dia terdegradasi dari kelas unggulan. Dan akan memulai kelas delapannya dikelas B. Satu kelas dibuat tak percaya kala itu. Pasalnya dia sangat pintar. Masa iya sampai terdegradasi?

    "Awalnya aku juga merasa kaget. Tapi setelah itu aku malah merasa senang. Mungkin akulah orang yang pertama dan satu-satunya yang menertawakannya. Aku juga yang menyebarluaskan beritanya ke seantero jagat. Sungguh, bagiku itu adalah kabar yang paling menggembirakan. Aku bisa menari-nari diatas penderitaannya. Aku juga sering mencemoohnya dengan sebutan 'si bodoh.' anehnya dia seolah tak perduli. Meskipun harus turun kasta. Bagi Danu, mau di kelas B kek, mau di kelas c kek, sekalipun di kelas i, dia tak perduli. Yang penting masih bisa sekolah katanya."

    "Tunggu-tunggu! Aku masih belum mengerti nih. Kamu bilang kalau Danu itu merupakan salah satu murid teladan. Kok bisa terdegradasi?" Tanya Mira.

    "Faktor utama yang menyebabkan dirinya terdegradasi, yaitu  kurang disiplin." Jawab Leni.

    "O... Kalau dari segi pengetahuannya gimana?" Timpal Mira.

    "Kalau dari segi pengetahuannya, jujur aku akui dia sangat dominan dibeberapa mata pelajaran. Bahkan aku pernah mendengar wali kelas berkata, 'andai saja Danu bisa disiplin, mungkin dia yang akan mendapatkan nilai tertingginya di kelas.' Untungnya dia gak disiplin. Jadi aku deh yang jadi juaranya."

Mira makin tak mengerti dengan jalan cerita yang dibawakan oleh Leni. Masalahnya jika dikelas yang sama saja mereka tidak bisa berteman, apalagi dikelas yang berbeda. Mira hanya bisa menggaruk-garuk kepala. Ia masih enggan berkomentar. masih ingin mendengarkan ceritanya lebih jauh.

    "Hari pertama dikelas delapan A, aku merasakan suasana yang berbeda. Masuknya siswa yang baru, dan berpindahnya siswa yang lama, mungkin jadi faktor penyebabnya."

    "Karena perpindahan siswa, apa karena tidak ada Danu tuh, yang membuat suasananya jadi berbeda?" Celetuk Mira menyindir.

Leni tersenyum mendengarnya.

    "Bisa jadi karena dia juga sih. He he."

Ada pepatah mengatakan, "ketika dekat kebersamaan tak lebih dari sekedar, maknanya akan terasa setelah kehilangan." Leni baru merasakannya setelah semuanya berubah.

Dalam lanjutan ceritanya Leni memaparkan, bahwa di fase itu merupakan masa transisi Danu. Dimana danu mulai melakukan eksplorasi terhadap lingkungan. Danu juga menjadi anak yang liar. Terobsesi pada alat musik. Terutama gitar. Ia sangat ingin sekali bisa mamainkan nya. Bahkan bercita-cita ingin menjadi musisi terkenal. Hal itulah yang mendorongnya bergaul dengan anak-anak jalanan.

Sudah prestasinya turun, makin bandel pula.

Nama Danu al-fairuz kian menjadi buah bibir di sekolah. Ia diklaim sebagai anak brandal. Sampai-sampai tidak ada seorang pun disekolah yang mau berteman dengannya. Bahkan dikelas saja ia duduk di bangku paling belakang sendirian.

    "Kamu tahu sendiri 'kan Ra, brandal itu seperti apa?"

    "Iya. Menurut ku brandal itu sering menimbulkan masalah. Mengganggu ketertiban. Merusak moral. Dan diidentikan dengan kriminalitas."

Leni memberinya acungan jempol. Dia menganggap pendapat Mira sama dengan pendapatnya waktu itu.

    "Menjadi seorang anak jalanan bukanlah pilihan yang baik. Ada beberapa faktor yang membuat anak-anak muda terjun kesana. Ada yang karena faktor ekonomi. Ada yang karena pelarian. Dan ada juga yang hanya ikut-ikutan. Biar terkesan gaul. Dulu, aku berpendapat seperti mu. Memandang Danu sebelah mata. Mendakwa tanpa kesalahan. Menganggap hina, yang belum tentu aku sendiri juga mulia. Kalau dipikir-pikir, apa salahnya bergaul dengan anak jalanan? Tidak ada yang salah 'kan? Selama tidak merusak dan merugikan orang lain. Aku sadar, ternyata yang salah itu persepektif para penonton."

    "Benar juga ya, selama tidak melanggar dan merugikan orang lain, tidak ada salahnya berteman dengan siapapun." Kata Mira menanggapi. Mulai berpikir jernih.

    "Saking jadi sorotannya nama Danu sebagai anak berandalan, pihak sekolah sempat memperingati agar Danu berhenti bergaul dengan anak-anak jalanan! Tapi dia tak menghiraukan peringatan itu. Pihak sekolah terpaksa mengeluarkan surat panggilan kepada orang tuanya. Kebetulan om Iwan yang bertanggungjawab sebagai wali muridnya."

    "Memangnya orang tua Danu kemana?" Tanya Mira.

    "Orang tuanya kan di menes. Sedangkan Danu tinggal di Pandeglang bersama om dan tantenya. Istilahnya dia di adopsi. Karena om dan tantenya belum memiliki keturunan."

Mira mengangguk-anggukkan kepala.

Leni pun melanjutkan ceritanya. Dalam lanjutan ceritanya ia menambahkan, "bahwa di pagi yang cerah disaat jam pelajaran kedua sedang berlangsung. Tiba-tiba saja Danu dipanggil dari kelasnya dan disuruh menghadap ke ruang BK. Dimana diruang BK sudah ada om Iwan, pak kepsek, wali kelas VIIIb, serta guru BK menunggunya. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan disana. Karena saat itu aku sedang belajar.

    "Hari-hari terus berlalu. Kamu tahu hebatnya Danu? Dia tidak insecure. Meski cemoohan datang bertubi-tubi. Hal ini justru dimanfaatkan oleh Danu untuk melangkah satu tingkat lebih tinggi dari yang lain. Pasalnya, disaat orang lain sibuk memikirkan urusan orang lain, ia malah sibuk mempergunakan waktunya untuk belajar dan meningkatkan pengetahuannya. Dia memikirkan masa depannya sendiri. Bukan memikirkan masa depan orang lain.

    "Setiap hari dia selalu di olok-olok. Dicaci-maki. Bahkan dimusuhi semua orang. Aku yang notabene musuh dia saja tak sekejam itu. Justru dari sinilah yang menjadi titik baliknya. Aku mulai merasa iba dan simpati kepadanya. Aku juga sering membahas namanya dengan bundaku. Kata bunda, 'kualitas Danu sedang di uji. Jika dia berhasil melewatinya, maka semua orang akan tahu siapa dia sebenarnya.' bundaku juga pernah menyarankan agar aku berteman dengannya. Aku terkejut. Karena menurutku saat itu, berteman dengan Danu sama saja dengan bunuh diri. Bisa-bisa aku  dicemooh semua orang. Bundaku pernah meramalkan, bahwa suatu saat nanti aku akan berteman dengannya. Awalnya aku tak percaya. Dan menganggapnya tidak mungkin."

Tirakat Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang