Semu orang tahu tokoh utamanya adalah pengantin, dua insan yang diraja dan diratukan pada hari itu, mereka pula yang menjadi alasan dibalik ramainya orang-orang yang datang berkunjung.
Meski kedatangannya bukan sebagai pemeran utama, bukan berarti hilang kesempatan menjadi seorang bintang. sosok mira bagaikan penyihir kala itu. Dia tidak seperti penyihir yang ada di negri dongeng, tidak pula seperti penyihir di film-film fantasi. Dia hanya seorang penyihir cantik yang memiliki magic bisa menghangatkan aliran darah setiap pemuda yang menatapnya.
Gadis berpostur tubuh indah itu berbalut gaun kaftan, balutan busana muslim khas gadis-gadis timur Tengah, membuatnya tampak langsing, padat, berisi. Wajahnya putih dengan mata bulat dan jernih, Lekuk pada tubuhnya menawarkan pesona, langkah berserinya jadikan hati siapa saja terperangah, Keberadaannya di tengah-tengah acara pernikahan mampu menyita banyak perhatian, terutama perhatian dari kaum adam, khususnya para jomblo.
Wangi parfumnya menaburkan aroma bunga-bungaan dan sedikit aroma apel segar, mampu mempengaruhi penciuman orang-orang disekitar dalam jangkauan beberapa meter. Banyak yang mempertanyakan 'siapa pemakainya? Apa mereknya? Dimana belinya?' orang-orang sangat menyukai keharumannya, ada hasrat ingin memilikinya.
Meski tak tahu pasti aroma parfum itu berasal darimana, dari siapa, namun semerbaknya telah melintasi indra penciuman danu. Hanya saja dirinya tak begitu acuh, apalagi sampai mempertanyakan siapa pemakainya? Rasanya tidak penting, terkesan norak. Dia pun diam saja pura-pura tidak menciumnya.
Akmal juga menciumnya, namun responnya agak berbeda dengan danu. Entah kenapa saat akmal mencium wanginya, ia merasakan nafasnya sedikit sesak, jantungnya berdegup lebih kencang serasa ada sesuatu yang tiba-tiba datang begitu saja mengaliri tubuhnya. Akmal tahu wangi parfumnya sangat feminim, identik dengan wangi perempuan. Dia yakin parfum itu dipakai oleh perempuan yang sangat cantik.
"Harum amat ie minyak wangi teh nu! Siapa yang memakainya yah?" Kata akmal mengemukakan.
"Tein." Balas danu singkat tidak tahu sambil menggedikan bahu.
"Minyak wangi mahal sigana ie teh."
"Minyak wangi seperti ini-mah banyak di pasar juga mal. Paling cuma sepuluh ribuan harganya." Jawab danu menanggapi tanpa menoleh kebelakang. Dia sedang sibuk memilih souvenir dimeja pagar ayu. Jawabannya pun asal jeplak aja. tidak tahu siapa yang memakainya, mereknya apa, dan harganya berapa. Kalau saja pernyataannya itu terdengar oleh mira, bukan tidak mungkin perang Dunia Kedua akan terjadi.
"Yang bener nu sepuluh ribuan?"
"Kalau pun bener, buat apa kamu membeli parfum kayak gini? Ini tuh parfumnya cewek ngarang."
"Saya tau ini parfumnya cewek, tapi kalau memang bener ada di pasar dan harganya cuma sepuluh ribuan, saya mau membelinya untuk pacar saya ini. Bukan buat saya pribadi. Kamu tahu enggak mereka parfum ini apa?"
"Gak tahu aku mereknya mal. Coba saja tanyakan pada orangnya langsung! 'Merek parfumnya apa gitu?"
Danu menyuruh akmal menanyakan langsung pada si pemakainya! Sedangkan akmal bingung si pemakainya yang mana?
"Kayak yang tahu aja orangnya yang mana nu?"
"Tanyain satu persatu sama semua orang yang ada disini!"
"Stres.. Masa iya mau ditanyakan satu persatu pada semua orang yang ada disini? Sampai acara pernikahan ini selesai pun, belum tentu tuh bisa ketemu sama orangnya."
"Pasti bisa, asalkan nanyain nya disini! 'Di pintu masuk.' nanti setiap kali ada orang yang lewat entah masuk ataupun keluar, kamu hirup tuh aroma wanginya! Kalau wanginya persis kayak gini, baru ditanya!"
