pagar ayu yang centil

50 6 1
                                        

Pagar ayu adalah barisan penerima tamu yang di isi oleh beberapa wanita muda. Diproyeksikan paling depan menjaga buku daftar hadir tamu undangan beserta souvernir nya. Pagar ayu juga merupakan bagian dari tradisi yang tak bisa di pisahkan dari yang namanya pernikahan.

Ratna dan Bela merupakan pagar ayu yang menjaga meja di sebelah kiri entrance (pintu masuk). Sementara Intan dan janah menduduki meja di sebelah kanan entrance. Keempatnya berusia seumuran, juga satu kerabat.

Dikala danu datang menghampiri, mereka kompak berdiri memberi sambutan selamat datang dengan gestur leher membungkuk serta kedua telapak tangan  beradu. Persis seperti front office counter di sebuah hotel.

Danu terpaku di tengah-tengah antara meja pagar ayu yang kiri dan kanan. Dia merasa diperlakukan istimewa.  Dia mengerlingkan mata sambil tersenyum tipis-tipis pada mereka yang ramah.

para pagar ayu itu tampak bersikap over attention, kekanak-kanakan, bahkan centil. Maklum, usia mereka baru belasan tahun, sedang puber-pubernya. Mereka punya mata dan bisa menilai, mana yang ganteng dan mana yang ganteng banget.

Menurut mereka, pria di hadapannya itu sangat tampan,  lebih tampan dari pria-pria yang ada dikampung nya. Jadi, tidak ada yang lebih diinginkan oleh mereka selain mendapat perhatian darinya.

    "Silahkan A!" Kata pagar ayu dimeja sebelah kanan mempersilahkan jika mau mengisi namanya di buku daftar hadir tamu undangan.

    "Sini aja a!" Timpal pagar ayu dimeja sebelah kiri tak mau kalah.

    "Jangan, a! Disini aja!"

    "Jangan jangan! mending disini!"

Para pagar ayu memperebutkannya seperti menawarkan barang dagangan. Danu kian bingung. hanya bisa bolak-balik memandangi meja kiri dan kanan.

Danu menatap wajah para pagar ayu satu-persatu. Mereka pun membalas tatapannya nanar. Bahkan ada salah satu diantara mereka yang menatap wajahnya sangat tajam dan lama. Sampai-sampai tak sadar mulutnya berkata lirih, "duh, meni kasep pisan ie lalaki teh? Andai jadi pacarku dunia pasti tersenyum."

Rekannya yang mendengar suara lirih itu lantas menyikut tubuhnya. mengingatkan supaya tidak bersikap malu-maluin! "Wey, gandeng! Ulah ngeraken atuh!" Kata bela menegur di telinga Ratna.

Danu memandangi wajah ratna dengan seksama. Dia memandanginya bukan karena  telah berkata lirih. melainkan untuk menyamakan wajahnya dengan wajah istrinya ilham. Ia merasa ada kemiripan diantara mereka berdua. Ia ingin memastikannya dengan jelas. dia pun menghampiri mejanya.

Melihat pria tampan itu lebih memilih meja di sebelah kiri, Pagar ayu dimeja sebelah kanan pun tak Terima. tidak mau kalah dalam perebutan begitu saja.

     "Eeh jangan ke meja yang itu a!" Kata mereka coba menahan.

Danu yang hampir sampai ke meja pagar ayu di sebelah kiri pun sontak jadi menoleh.
  
    "Emang kenapa?" Tanyanya heran.

    "Disana pulpennya rusak."

    "Apa benar pulpen dimeja ini rusak?" Tanya danu memastikan kebenarannya.

Ratna dan bela menggelengkan kepala. mengingatkan kalau pulpen dimeja mereka tidaklah rusak. Mereka menunjukkan buktinya dengan mencoretkan pulpennya ke ujung buku.

    "Tuh kan enggak rusak? Itu mah cuma akal-akalan mereka saja supaya kamu ngisinya dimeja sana." Kata Ratna membeberkan.

    "Bukankah sama saja ngisi disini dan di sana juga? yang penting ada tanda kehadirannya kan?"

    "Iya sih, Itu Mah mereka aja yang kecentilan. kayak baru liat cowok tampan saja."

    "Kecentilan?" danu tergugu dan hampir tertawa mendengarnya. Bagaimana tidak? Ratna menyebut temannya 'kecentilan!' sementara dirinya tidak merasa. padahal dia juga sama, Sama-sama kecentilan.

Tirakat Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang