Seseorang tidak akan pernah kecewa pada cinta yang diberikan, tetapi akan kecewa pada cinta yang diharapkan. Itulah sebabnya mengapa Mira kecewa, karena ia mengharap, bukan memberi.
Sikap manja dan kekanak-kanakan Leni terhadap Danu membuat mira posesif. Padahal itu hanyalah homesick, bentuk emosional terhadap seseorang yang memiliki arti dalam hidupnya. Sayangnya Mira salah sangka. Andai saja ia masuk menemui mereka, maka dia akan tahu arti yang sebenarnya. Mungkin bisa ikut bercanda disana.
Mira yang terbakar api cemburu pulang dengan kenestapaan. Disepanjang jalan ia hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Dia merasa menjadi orang yang teraniaya. Keahlian ber-kalkulasinya tidak berguna ketika dihadapkan dengan persoalan cinta. Tidak ada hati yang selamat ketika dipakai bercinta. Tidak ada akal yang sehat ketika sudah terbawa rasa.
"Jangan nangis terus atuh, Ra! Aku jadi ikutan sedih nih." Kata Dian ketika mendengar Isak tangis Mira yang tiada henti. Dian jadi menitikkan airmata karenanya.
"Enggak tahu nih yan, Hati ku sakit banget. Pengennya nangis terus." Jawab Mira yang tak kuasa menyembunyikan kesedihannya.
"Ceup atuh, kamu tidak pantas menangisi lelaki seperti dia!" Timpal Dian membelanya meski tidak tahu apa-apa. Dia menganggap Danu yang salah.
"Bagaimana tidak sakit dibuatnya, sedangkan aku cinta kepadanya?" Sahut Mira dibarengi Isak tangis.
Dian sedikit tak menyangka bahwa sahabatnya telah jatuh cinta pada danu. Dian baru paham kenapa belakang hari ini Mira sering menghilang dari ponpes, Rupanya dia menjalani kedekatan dengan lelaki itu.
"Saat kamu jatuh cinta kepada danu, apakah kamu sudah Tahu semua latar belakangnya?"
"Yang aku tahu, dia itu belum punya pacar."
"Terus, perempuan yang tadi memeluknya itu siapa?"
"Leni."
"Punya hubungan apa dengan Danu?"
"Aku tidak tahu. tapi Danu pernah bilang, kalau Leni itu adalah seseorang yang spesial dalam hidupnya. Danu juga sepat menyarankan agar aku tidak mengenal Leni."
"Alasannya?"
"Takut aku cemburu katanya. Dan sekarang aku beneran cemburu."
Dulu, hanya ada satu hal yang membuat mira bersedih dan menangis, yaitu ketika melihat ibunya sakit. Tapi malam ini untuk pertama kalinya ia bersedih dan menangis bukan karena ibunya, melainkan karena seorang lelaki yang bernama Danu.
.....
Danu yang tidak menyadari kedatangan Mira merasa tidak ada apa-apa. Ia tengah bersuka-ria dengan Leni melepas kerinduannya setelah sebulan lamanya tak jumpa.
"Kamu pulang sama siapa? Si Bejo mana?" Tanya Danu. Bejo yang dimaksud adalah beni. Dia biasa memanggil namanya dengan sebutan seperti itu.
"Aku pulang sendiri. Beni pulangnya Minggu depan. Masih banyak kerjaan dia di kantor. Tadinya aku juga mau balik Minggu depan bareng sama dia, berhubung kamu sakit, maka aku pulang lebih cepat. Takut enggak liat kamu lagi."
"Kehed, memangnya saya akan mati sekarang apa? Pake takut gak liat lagi segala. Siapa yang ngasih tahu kalau saya sakit?"
"Delisa. Dia bilang kamu gak sadarkan diri. Pas dengan kabar itu, semalam aku gak bisa tidur."
"Mikirin saya?"
"Mikirin Mata pelajaran kuliah. He he."
"Hop sia lenong."
