pendaran cahaya rembulan

32 3 0
                                        

Di balkon rumah leni, Danu berdiri dan bersandar pada Langkan. Sebelah tangannya masuk kedalam saku celana. Sebelahnya lagi menggenggam buku yang berjudul thinking fast and slow. Buku pemberian dari Leni beberapa saat tadi.

Kegemarannya membaca buku seolah tidak bermakna ketika perasaan sudah dihadapan dengan persoalan cinta. Logika pun seakan tidak dapat mencernanya.

Pendaran cahaya rembulan mengingatkannya pada sosok gadis yang cantik dan jelita. Yang keberadaannya tengah menjadi pergunjingan dalam hati. Yang senyum manjanya acap kali menggugah hasrat ingin berjumpa. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Mira.

    "Kabarnya Mira gimana yah? Kenapa dia menghilang disaat hati ini mendambanya? Sebegitu kecewanya dia, sampai-sampai memutus semua komunikasi." Ucap Danu dalam hati ditengah jiwa yang risau.

Ia mendongak keatas, memandangi rembulan yang kelabu. Beberapa bintang terlihat bersinar, namun jaraknya sangat berjauhan. Perlahan-lahan ia memejamkan kedua bola matanya, Mencoba Merileksasikan diri, merenungi tentang apa yang sebenarnya hilang, hingga resah dan tenggelam dalam gelisah.

Akhir-akhir ini ia mengalami maladaptive day dreaming, suka melamun sendiri tanpa alasan yang jelas. Ia seperti kehilangan gairah dalam hidupnya.

Sejurus kemudian Leni datang membawa dua gelas susu jahe, serta sepiring goreng pisang crispy yang masih berasap. Leni melihat danu tengah melamun. Ia tahu apa yang sedang dilamunkan nya  itu.

    "Ngelamun aja nih?" Suara Leni yang datang tiba-tiba melenyapkan segenap lamunan danu. Danu pun memutar badan menghadap kearahnya.

    "Ngelamunin apa sih nyet, Serius amat? Jangan di lamunin atuh! Nanti juga ngalamin. He he.  Pasti lagi ngelamunin Mira ya?" Celetuk Leni sambil menebak-nebak. Dan sialnya tebakannya itu malah benar. Danu memang sedang memikirkan Mira.

    "Enggak tahu nih, sebenarnya saya ini sedang memikirkan apa? Saya merasa kehilangan jati diri. Rasanya sepi, hampa, dan tak punya rasa semangat. Seperti tidak menemukan arah dan tujuan."

    "Kok bisa?"

    "Entahlah, padahal dulu sudah terbiasa seperti ini. Tapi sekarang rasanya berbeda."

    "Sebenarnya kamu tidak kehilangan arah, justru menemukan tujuan. Tujuan kemana hati kamu ingin berlabuh. Hanya saja ego mu membatasi itu semua. Cobalah untuk berdamai dengan diri sendiri! Dan coba tanyakan apa maunya! Aku yakin, kamu akan menemukan jalannya. Jalan menuju kebahagiaan."

Danu mengulum senyum sambil memalingkan wajahnya kearah langit. Rembulan diatas sana hampir tenggelam oleh semburat awan hitam.

    "Masa sih hati saya sedang mendambakan seseorang?" Lirih Danu seakan tak percaya dengan perasaannya sendiri.

    "Orang lain tidak akan merasakan apa yang saat ini kamu rasakan. Pertanyaan itu cukup kamu tanyakan pada diri sendiri!"

    "Salah apa enggak, kalau saya mencintainya?" Pertanyaan Danu terdengar aneh dan norak. Seperti pertanyaan bocah kemarin sore yang baru mengenal perempuan. Leni pun sampai tertawa cekikikan dibuatnya.

    "Atuh enggak lah. Yang salah itu jatuh cinta tapi tak berani mengungkapkan."

    "Apakah cinta itu butuh pengakuan? Bukan pembuktian?"

    "Menurutku dua-duanya sama penting. Cinta itu butuh pengakuan. Juga butuh pembuktian. Karena pengakuan tanpa pembuktian, sama saja dengan bohong. Pembuktian tanpa pengakuan, sama saja dengan bodoh."

    "Oo... Saya baru tahu tuh. Ternyata selama ini saya bodoh ya?"

    "Memang bodoh. Juga pengecut. He he."

Sepersekian menit mereka berbincang membicarakan persoalan cinta yang bodoh. Tiba-tiba saja Leni teringat kan pada salah satu sahabatnya yang saat ini sedang berada di Jogja. Dia tahu bahwa sahabat dekatnya itu sangat menggilai Danu. Maka bukan tidak mungkin sahabatnya itu akan terluka ketika mendengar sang pujaan hatinya telah mencintai orang lain.

    "Devi, gimana nasibnya yah?" Pertanyaan Leni tidak serta Merta begitu saja. Ada niat menyentil didalamnya. Ia ingin tahu, bagaimana respon Danu ketika dirinya menyebut-nyebut nama Devi.

Danu terhenyak sejenak, tak mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Leni. Entah mengapa sebenarnya ia sedang tidak ingin berbicara mengenai Devi. Sudah terlalu sering Devi dijadikan topik pembicaraan. Danu sudah bosan mendengarnya. Apalagi ia sama sekali tidak tertarik pada perempuan itu.

    "Beberapa hari yang lalu, Devi menelpon ku. Ia menceritakan segala keluh-kesahnya tentang perasaannya kepada dirimu. Dia bingung, Enggak tahu lagi bagaimana caranya bisa membuatmu jatuh hati. Dia sampai bertanya seperti ini kepada ku, "Len, gimana caranya yah, agar Danu bisa jatuh cinta kepadaku?" Sumpah, saat aku mendengar pertanyaan itu, aku pengen ketawa. Karena apa? Karena dia bertanya kepada orang yang salah. Sebab, Kalau aku tahu caranya, maka sudah aku lakukan sendiri. He he he.

    "Terus aku kasih saran, "di pelet aja, dev!" Padahal aku hanya bercanda lho, tapi dia malah menanggapinya dengan serius. Dia bilang katanya "sudah." Sudah mengguna-guna diri dengan bantuan dukun. Awalnya aku tak percaya, masa iya dia nekat melakukan hal se-bodoh itu? Yang bener saja?  Tapi ketika aku tanya lebih dalam, ternyata benar. Dia benar-benar berdukun demi bisa menaklukkan dirimu.

    "Yang dia heran kan, kenapa jampe nya mbah dukun itu tidak mempan ke kamu? Sehingga perasaan mu tak berubah sedikitpun terhadapnya. Kenapa itu nu?"

    "Ya enggak tahu, kok tanya saya? Tanya dukun-nya lah! Mungkin bukan jampe dukun-nya yang tidak mujarab, tetapi Allah tidak menghendaki. Karena apapun yang bukan miliknya, sampai kapanpun tidak akan pernah bisa dimiliki. Sekalipun dia pergi ke seribu dukun." Balas Danu menanggapinya setelah beberapa saat tadi terdiam menyimak pembicaraan Leni.

    "Apakah kalian itu tidak ditakdirkan berjodoh? Sehingga dukun saja tak mampu merubah takdir."

    "Saya tidak tahu, karena takdir merupakan hak prerogatif tuhan. Mudah saja baginya untuk membolak-balikkan hati manusia. Jika dia sudah berkehendak."

    "Jujur, meski sebenarnya aku juga menyukai mu, tapi aku sadar, bahwa cinta tidak harus memiliki. Aku sangat ingin memilikimu, tapi apalah daya, keinginan itu hanyalah tinggal keinginan. Dari situ aku belajar memaknai kata ikhlas. Belajar menerima apa adanya. Karena tak semua yang kita inginkan, harus kita miliki. Ternyata sudah ada bagiannya masing-masing.

    "aku suka menasehati Devi, agar ia tak melulu mengharapkan dirimu. Karena apa? Karena dia juga berhak bahagia. Aku heran sama dia, seperti tidak ada lelaki lain saja selain dirimu. Padahal didunia ini masih banyak lelaki yang jauh lebih baik daripada dirimu."

    "Kadang cinta itu sangat egois. Lebih mengutamakan kepentingan pribadinya, ketimbang perasaan orang lain. Seperti halnya keegoisan saya dan Devi. Saya tidak bisa mencintainya. Dan dia tetap mempertahankan perasaannya. Jika mencari kesalahan, maka diantara kami siapa yang pantas disalahkan?"

Leni menggelengkan kepala tak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena dalam konteks ini ia rasa tidak ada yang salah. Mencintai dan dicintai, menerima dan menolak adalah hak setiap orang.

    "Kamu terlalu memikirkan perasaan Devi, tanpa memperdulikan perasaan saya dan Mira. Apa tidak ada topik yang lain selain Devi? Saya bosan mendengarnya. Devi lagi, Devi lagi."

    "Atuh mau gimana lagi? Soalnya kita semua tahu, kalau dia itu sangat mencintaimu. Sebagai temannya, tentu aku tidak ingin melihatnya kecewa."

    "Masih ingat enggak? ketika Devi menyatakan cintanya kepada saya dihadapan anak-anak pasukan badak kulon? Ketika saya menolaknya, kalian semua menyebut saya tega. Tetapi saat Devi menolak si Bram dan si Reymon, kalian semua bilang bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. 'kan Aneh, kok bisa berbeda? Dimana letak keadilannya? Dan asal kamu tahu! Gara-gara ditolak cintanya oleh Devi, si Bram pergi dari pangkalan badak kulon. Dan si Reymon gila-gilaan mempermainkan hati wanita."

    "Iya yah, pusing juga mikirinnya. Sekarang-mah Begi saja, sebagai sahabat yang pengertian, aku akan mensupport apa saja demi bisa melihatmu bahagia."

Tirakat Cinta Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang