Terkadang hujan dimaknai sebagai aforisme kenangan. Setiap rintiknya sering digunakan menjadi Matra, Rima, dan larik dalam sajak puisi. Hujan juga sering diidentikkan dengan melankolis. Pengaruhnya dapat melarutkan jiwa kedalam lamunan, mendorong ingatan masuk ke lembah Remini sensi.
Ada yang bilang kalau hidup itu bukan untuk menunggu badai berlalu, tetapi berusaha melewatinya agar dapat mencapai pelangi.
Di emperan rumah tua misterius, dibawah atap anyaman daun Rumbia, mereka berdua duduk di balai babu saling mendekap. Hujan yang turun tak Rinai, melainkan deras, gaduh dalam pendengaran. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, selain berteduh di rumah itu. Meski bulu kuduk Danu agak merinding.
Pipi Mira yang semula merah merona, telah terpupus oleh tetesan air yang jatuh dari awan yang runtuh. Sepersekian detik jernih menjadi keruh. Burung-burung yang hinggap di ranting-ranting pohon berhenti berkicau. Termangu mengepal sayapnya dibawah dedaunan.
Danu benar-benar dibuat tak habis pikir, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sudah tiga kali ia datang ke kampung domba, dan tiga kali pula mendaki kelereng gunung karang. Namun sebelum-sebelumnya ia tidak pernah melihat adanya rumah disini. Tapi mengapa sekarang ada? Kapan dibangunnya? Dan siapa orang yang berani menempati rumah ditengah hutan seperti itu?
Danu menengok kesamping kiri dan kanan sejauh mata memandang, yang terlihat hanya pohon-pohon besar. tidak ada rumah lain disana, selain rumah itu sendiri. Sungguh mengherankan.
Danu sempat beranggapan kalau rumahnya tak berpenghuni. Tapi saat dicermati lebih dalam, halaman sama penampilan rumahnya begitu bersih dan terawat. Tak mungkin sebersih itu jika tidak ada yang merawatnya. Terlepas dari semua itu, Danu tetap bersyukur ada tempat untuk berteduh. Kalau tidak, mungkin mereka akan kehujanan dijalan.
Berlangsungnya turun hujan disertai petir. Danu melihat Mira tak seperti yang ia kenal lagi. Tawanya hilang, senyumnya sirna. Yang ada hanya rasa tegang. Dia bagaikan mayat hidup. Tidak ada kata lain darinya, selain mengucap tasbih "subhanallah subhanallah subhanallah" dalam tiap tarikan nafasnya.
'brug.. brug.. brug..' suara pijakan kaki berjalan diatas papan kayu terdengar samar ditelinga Danu. Rasa-rasanya bersumber dari dalam rumah. Danu memfokuskan pendengarannya, takut salah dengar. Taku suara itu adalah suara tanah longsor.
Semakin dicermati suaranya semakin jelas. Danu yakin, suaranya berasal dari dalam rumah. Danu menoleh kearah Mira, wajahnya seakan bertanya-tanya, apakah dia mendengar suara yang sama, atau tidak? Mira menganggukan kepala lemah. Mengisyaratkan bahwa dia juga mendengarnya.
Tak lama suaranya menghilang. Kemudian bunyi lagi, 'kreekk...' bunyinya berubah. Seperti bunyi pintu yang dibuka. Danu dan Mira sama-sama menoleh kearah pintu rumah tersebut. Dan menunggu siapa yang keluar.
'ihihihi...' suara tawa yang punya rumah saat membuka pintunya. Penghuni rumah itu ternyata seorang nenek-nenek renta.
"Allahu Akbar." Danu terperanjat kaget. Tubuhnya sampai terhentak kebelakang. Suara si nenek itu sangat menyeramkan. bagaikan suara kuntilanak. kalau saja tidak sedang turun hujan, mungkin ia akan lari terbirit-birit. Jujur dia sangat takut. Takut kalau si nenek bukan manusia biasa, melainkan makhluk halus dari bangsa kuntilanak. Ia berusaha tenang, dan memberanikan diri dihadapan Mira. Karena Mira lebih takut mendengar suara petir, ketimbang sama suara si nenek.
"Eh... Aya tamu sing horeng." Ujar si nenek saat melihat mereka didepan rumahnya.
"Numpang neduh, nek!" Mira menoleh kearahnya. Sedangkan Danu membuang pandangannya kejauh. Dia tak berani menatap wajah si nenek.
Kondisi si nenek sudah sangat ujur. Tubuhnya bungkuk. Rambutnya memutih penuh uban. Penampilannya pun acak-acakan. Cuma pake sarung dan kutang. Dia berjalan merayap di dinding menghampiri Danu dan Mira.
"TOS timarana ie?" Tanya si nenek.
"TOS ti pasir, nek." Sahut Mira. Pasir yang dimaksud artinya atas. Berarti mereka sudah dari atas.
Dimata Mira, si nenek tak begitu menyeramkan. Malah ramah mau menyapa.
"Tadi pas mau pulang, kami kehujanan. Terpaksa ngiuhan Didie." Imbuh Mira membeberkan.
"Ihihihihi.." si nenek malah tertawa. Seperti ada yang lucu saja. Tawanya benar-benar menyeramkan. Tiap kali ia tertawa bulu kuduk Danu merinding disko.
"Mending kalebet Bae yuk! Didie-mah BISI Aya guludug." Si nenek mengajak mereka kedalam rumahnya. Karena kalau diluar takut tersambar petir.
Mira mengangkat sebelah alisnya dihadapan Danu. mimik wajahnya seakan mempertanyakan bagaimana tanggapannya terhadap tawaran dari si nenek? Danu menggedikkan bahu. Dia mah terserah Mira saja. Kalau Mira mau masuk, ya dia ikut. Kalau Mira tidak mau, ya dia juga tidak mau. Kebetulan sekali Mira takut, maka dia pun menerima tawaran dari si nenek.
"Tidak apa-apa nek, kalau kami berteduh di dalam?"
"Ihihihihi." Si nenek tertawa lagi. Danu bergidik mendengarnya. Kalau boleh usul, ia akan menyarankan si nenek untuk tidak tertawa.
"Tenaon-naon atuh! Nenek malah bungah. Tapi rompok nageh acak-acakan."
"Wios nek, yang penting mah kami bisa berteduh."
Sebenarnya Danu merasakan gelagat aneh. Punya firasat buruk terhadap keberadaan si nenek dan rumahnya. Andai saja ia punya mata batin, tentu dia akan tahu siapa nenek itu sebenarnya. Karena kalau ditelaah secara akal sehat, orang bodoh mana yang mau tinggal ditengah hutan seperti itu? apalagi sudah tua renta seperti dia.
Didalam rumah, si nenek menyodorkan samak lapuk yang terbuat dari anyaman Daun pandan kepada Mira. Samak itu diperuntukkan sebagai alas duduk penutup papan yang dianggap kotor.
"Amparkan dulu samak nya cu! Papannya kotor."
Mira meraih samak lapuk itu dari tangannya. Kemudian dia menggelarnya ditengah rumah. Dia dan Danu pun lantas mendudukinya. Tapi tidak dengan si nenek yang terlihat akan pergi.
"Mau kemana, nek?" Tanya Mira.
"KA dapur Hela, ngambil minum." Si nenek berinisiatif mengambilkan minum untuk menyuguhi tamunya.
Mendengar si nenek yang mau mengambilkan air minum, Mira segera bangkit, berniat membantunya. Karena dia kasihan melihatnya. Jangankan membawa sesuatu, berjalan saja pun sudah tertatih-tatih.
"Boleh Mira bantuin, nek?"
"Boleh atuh."
Ditinggal Mira dan si nenek sendirian membuat pandangan Danu liar dan pikiran negatifnya kemana-mana. Ia memandangi apa saja yang ada didalam rumah tersebut, sambil bertanya-tanya pada diri sendiri, "kemana penghuni rumah ini yang lain? Masa iya cuma si nenek doang? Aneh banget."
Danu merasa ini bukan sesuatu yang sewajarnya. Karena apa? Karena sudah dua kali bolak-balik ia melewati jalan itu. Tapi baru melihat keberadaan rumahnya sekarang. Sedangkan pemukiman warga yang lain masih satu kiloan dibawah. Jarak yang lumayan masih jauh.
Tak berselang lama, si nenek dan Mira kembali membawa tiga gelas seduhan teh tubruk, serta sepiring kukus singkong yang sudah ditaburi parutan kelapa diatasnya. Satu gelas teh hangat disodorkan Mira kehadapan Danu. Dia pun duduk disampingnya. Sedangkan si nenek duduk dihadapan mereka.
"Mangga, di leet teh na!" Seru si nenek mempersilahkan.
"Diminum nu!"
"Siap."
