Lemari pakaian di dalam kamar terletak di sudut tembok samping meja belajar. Pintunya ada dua. satu menggunakan cermin dan satu lagi polos. Danu membukanya lebar-lebar. mencari outfit yang paling bagus. Ia ingin tampil perfeksionis agar orang-orang terpesona melihatnya. Dan Itu merupakan bagian dari harapan anak muda. Senangnya bikin sensasi.
Baju batik khas cirebon berwana biru cerah bermotif mega mendung. Pemberian om iwan beberapa tahun lalu yang belum pernah dipakai sebelumnya. Ia sempat mencoba memakainya. Namun saat berkaca ia merasa seperti bapak-bapak.
"Kayak bapak-bapak saya teh." Gumam Danu Merasa tak percaya diri. lantas membuangnya ke belakang jatuh ke atas kasur.
Danu mencoba mengenakan baju yang lain. Baju kemeja kotak-kotak berwarna hitam merah. Ia merasa Kelihatan seperti penampilan mantan walikota solo.
"Edeg, kayak penampilan pak Jokowi euy." Bajunya Di buka lagi dan dilemparkan ke belakang. Begitu saja terus menerus sampai menyisakan satu baju paling bawah.
Satu baju terakhir juga belum pernah di coba sebelumnya. keadaannya masih baru. bandrolnya masih menenpel. Karena sudah lama Tertumpuk di bawah baju-baju yang lain Danu sampai lupa punya baju seperti itu. Baju kemeja putih lengan panjang bermotif garis hitam di samping bawah ketiaknya. Ketika di bentangkan di depan wajah sambil di ingat-ingat pemberian dari siap? Dia baru ingat kalau baju tersebut adalah pemberian dari devi setahun yang lalu.
"O... ini baju dari si devi. Di beliin pas di jogja setahun yang lalu. Pake apa jangan yah?" Tidak ada pilihan lain selain memakainya. Tak perduli pemberian dari siapa. yang jelas orangnya tak melihat. Andai saja devi tahu mungkin akan GR setengah mati dia.
Danu Menarik kepala ke belakang. Baju yang semula tersusun rapi dalam lemari kian berpindah tempat ke atas kasur dalam keadaan berantakan. Dia tak acuh. dengan kata lain bodo amat. Nanti juga akan dibereskan oleh adiknya.
Ekonominya terbatas. lantaran Abi nya hanya seorang buruh pabrik yang berpenghasilan satu juta dua ratus empat puluh tiga ribu. Gajinya hanya pas-pasan untuk menghidupi tiga orang anak dan satu istri. Untungnya sedikit di ringankan oleh om iwan. Biaya sekolah delisa dan sehari-harinya di tanggung oleh dia.
Danu jarang sekali di belikan baju baru. Kalau pun di belikan paling pas hari lebaran IdulFitri doang. Kalau hari-hari biasa mah jarang.
Tapi di dalam lemari danu pakaiannya sangat banyak. Sebagian banyak pakaiannya itu hasil pemberian dari teman-temannya. Teman yang paling sering memberinya ialah leni dan beni.
Dia memiliki satu motor skuter matic. Motor pemberian ayahnya leni. one heart one love. Begitu menggambarkan pada motornya. Susah senang, pahit manis, selalu dibawa kemana-mana selama masih ada bensinnya.
Dia Mendorong motor itu keluar. Tak lupa mengunci semua pintu rumahnya. Sebelum berangkat dia memanaskan mesin motornya terlebih dahulu. Biar tak selip pas di pakai nanti.
Dia mendengar ada suara yang mendesis. seperti suara manusia yang sedang membaca mantra. Meski suaranya terdengar agak samar, tapi dia yakin, suara itu bersumber dari rumah bude riya.
Dia menjingkrakkan kakinya mencoba mengintip dari balik pagar.
Dia melihat seorang pria tua dengan balutan udeng di kepalanya berwana hitam, bajunya hitam, celana hitam, pokoknya serba hitam. Warna kebesaran para dukun. Pria tua itu bernama ki brojo. Tengah duduk bersila di depan teras rumah bude riya. Sambil menghadap sesajen.
"Kernaen mbah?" Suara danu yang iseng.
Pria tua itu menoleh cepat ke arahnya dengan tatapan tajam. Pria itu tak terima di sebut mbah. Karena Kata mbah identik dengan para dukun.
"Mbah mbah, Sia pikir aing teh dukun? Jangan panggil mbah! Panggil mamak!"
Danu tertawa menertawakan. orang kayak dukun bisa-bisanya pengen di panggil mamak. Danu tahu Panggilan mamak itu biasanya di sematkan untuk para alim ulama atau ustad.
"Embah pasti bah dukun ya?" Kata danu secara gamblang.
"Kenapa ngedumel sendiri? Udah gak waras tah?" Imbuhnya lebih menohok.
Ki brojo pun berdiri berkacak pinggang Tak Terima di katain kurang waras. Suara napas naik turunnya berhembus kasar. Mirip seperti banteng mau nyeruduk.
"Asal jeplak aja tuh mulut! Sini kalau berani."
Bukan danu namanya kalau tak suka iseng. Ia rasa Menarik mengusiknya. Dia pun masuk menghampiri ki brojo.
"Lagi ngapain sih?" Suara Danu pelan sambil cengar cengir dihadapan Ki Brojo.
Ki brojo kembali duduk simpul. Dia tahu perkataan danu di awal hanya bergurau. Dia juga bercanda menanggapinya. Nama Ki Brojo sudah terkenal di kalangan masyarakat sekitar. Ia merupakan Seorang paranormal. sekaligus terkenal sebagai pawang hujan. Meski memiliki wajah yang teramat garang. Kumis tebal serta jenggot panjang. Ekspresi wajah serius. tapi orangnya humoris.
"Kamu gak tau ya, Kalau saya ini sedang membaca mantra Supaya hujan gak turun hari ini." Beber ki brojo.
"Emang kalau turun kenapa? Hujan kan anugerah dari allah. Jangan melawan kodrat, Nanti kuwalat."
"Wayau." Lirih Ki brojo merasa kaget di nasehati bocah setepak.
"Ini kan cuman ikhtiar. Meminta kepada sang Pencipta juga. Supaya hujannya tidak turun. Ini juga permintaan bu riya lho. Supaya hajatnya berjalan lancar. Dan saya bisa di bayar He-he." Ternyata Tidak serta merta ki brojo ada di rumah bude riya. ia di datangkan dengan sengaja. di peruntukan menyarang air hujan.
"Ni yah Saya kasih tahu. Enggak perlu pakai sesajen kayak gini buat neda hujan! ki brojo cukup nyari kodok aja! Trus Ikat yang kencang! gantung tuh di jemuran! InsyaAllah gak bakalan turun."
"Hujannya?"
"Kodoknya lah. Ha-ha-ha."
ki brojo merasa tertipu. menyesal telah menyimak perkataannya. Ia kira serius memberi saran. ternyata malah ngawur. Tangannya reflek menepuk pundak danu.
"Sia teh ngawadul bae."
Di hadapan ki brojo terdapat beragam sesajen. Mulai dari pisang, kembang tujuh rupa, serta kemenyan. Danu mengambil satu pisang tanpa ijin. Ki brojo menepak tangannya. memperingati agar tidak gegabah terhadap sesajen sesajen itu.
"Jangan di makan, Nanti bisa sakit perut!" Ujar ki brojo memperingati. Meski bercanda tampangnya serius.
Danu tak perduli. mau sakit perut kek, mau apa kek, dia tak percaya dengan hal-hal yang begituan. dia anggap semua itu hanya takhayul.
Sebuah rekomendasi di tunjukan ki brojo di hadapan danu. Dia menawarkan jasa pelet yang ampuh.
"kalau kamu punya gebetan cewek atau ada yang lagi di taksir tapi susah di dapat, Kamu tinggal bilang sama Ki Brojo! Ki Brojo akan membuat wanita itu bertekuk lutut dihadapan kamu.!" Kata Ki Brojo sambil menepuk-nepuk dada.
Danu tergugu sampai tertawa. Baginya jampe yang paling mujarab menaklukkan hati wanita jaman sekarang itu bukan sama pelet atau mantra. Melainkan dengan pulus, motor keren, mobil mewah. Jika sudah memiliki semua itu cewek mana yang tidak mau.
Ki brojo kekeh pada pendiriannya. Dia menambahkan kalau jampenya ini bukan sembarang jampe. Cuman bermodalkan dua ratus ribu, tinggal tunjuk mau cewek yang mana? Di jamin ceweknya bakal klepek-klepek.
Makan tiga pisang sudah membuat perut Danu kenyang. Daripada meladeni obrolan ki brojo yang gak logis mending pergi. Sebelum pergi danu sempat mencatut sebatang rokok gudang garam merah milik ki brojo.
Ki brojo yang melihat aksinya itu langsung menggerutu, "Dasar bocah gemblung."
