Pukul sembilan malam kurang beberapa menit, mobil sedan hitam itu telah sampai di gardu tanjak. Tinggal belok kiri masuk gang menuju pangkalan badak kulon. Tepat di gapura pintu masuk, beberapa pasukan badak kulon tengah bersiaga mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka melakukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap orang-orang maupun kendaraan yang hendak masuk ke kawasan pangkalan badak kulon.
Mobil sedan itu pun di stop. Mereka tidak tahu siapa yang ada didalamnya. Kalau saja mereka tahu mungkin mereka tidak akan menyetopnya. Dua orang datang menghampiri dan mengetuk-ngetuk kaca mobil. Mereka ingin melihat siapa didalamnya, sekaligus mau menggeledah isi mobilnya. Takutnya mobil tersebut membawa senjata tajam dan barang-barang haram seperti miras dan narkoba.
Satu orang mengetuk kaca disebelah kanan, disamping pengemudi. Satunya lagi mengetuk kaca disebelah kiri, tempat disamping Danu. Betapa terkejutnya mereka saat kaca mobil itu terbuka. mereka melihat Danu dan Reymon. Dua orang petinggi di pangkalan badak kulon. mereka tidak melihat keberadaan si bogel. Karena ia sengaja mengumpat dibawah jok.
"Eh... Komandan dan si bos rupanya. Maaf maaf maaf! Kami kira siapa. Apa kabar komandan, apa kabar bos?" Para penjaga itu melambaikan tangan seraya memberi penghormatan kepada Danu dan Reymon.
Danu dan Reymon membalasnya dengan senyum berseri. Mereka bisa memakluminya.
"Darimana saja nih komandan sama si bos, kok baru kelihatan lagi?"
"Habis bertapa dulu." Jawab Danu asal jeplak.
"Si bogel mana?"
Mendengar pertanyaan itu spontan Danu menoleh kebelakang. Ia tak melihat si bogel. Lalu ia meninggikan badannya dan menemukannya Tengah berjongkok dibawah jok.
"Ngapain gel?"
"Sut.." bogel menutup mulutnya dengan jari telunjuk. mengisyaratkan Danu agar tidak memberitahukan keberadaannya.
"si bogel lagi ngumpet nih." Alih-alih menutupinya, Danu malah memberitahukan keberadaannya.
"Gel, kaluar sia teh! Bantuin jaga nih! Ini kan jadwalnya ente." Seru diluar mobil menyuruhnya turun.
Si bogel menunjukkan dirinya sambil senyam-senyum. Kemudian ia turun dan ikut berjaga bersama pasukan yang lain. Kebetulan malam ini merupakan jadwalnya untuk berjaga.
"Anak-anak yang lain sudah pada datang apa belum?" Tanya Danu.
"Sudah. Ada di kedai pak Burhan. Tadi juga si Bejo nanyain komandan 'sudah datang apa belum?'. Berhubung tadi komandan belum datang maka kita jawab 'belum.' "
"O.. si Bejo udah datang Tah? Sama siapa dia kesini nya?"
"Sama Leni dan Devi."
"Si jaki ada enggak?"
"Ada, tadi datang bersama pacarnya."
"Yasudah kita masuk dulu ya."
"Silahkan silahkan!"
Para penjaga mempersilahkan mobil sedan itu masuk. Reymon pun menginjak kembali pedal gasnya.
Pangkalan badak kulon malam itu sangat ramai, bahkan lebih ramai dari biasanya. Dimana muda-mudi sedang berlibur sama. Pangkalan badak kulon menjadi tempat istimewa bagi mereka. Tempat untuk bertemu, saling memandang, duduk berdampingan dan bercerita yang indah-indah. Saat itu yang ada dalam hati dan pikiran mereka hanyalah bersenang-senang. Tak terlintas sedikitpun bahwa kesenangan yang mereka lalui itu akan menjadi saksi sejarah bagi mereka kelak.
Danu dan Reymon keluar dari mobil. Tepat dihadapan mereka beberapa muda-mudi tengah bercumbu mesra dengan pasangannya masing-masing. Sambil terus melangkah Danu dan Reymon memandangi muda-mudi itu. Muda-mudi yang dianggapnya masih dibawah umur. Masih bau kencur. Belum pantas berpacaran. Pantasnya Diam di rumah, belajar yang baik biar pintar. Di mata Danu dan Reymon, mereka seperti bukan bagian dari anggota pasukan badak kulon, Melainkan hanya pengunjung bisa. Danu dan Reymon tidak mengenali wajahnya satu persatu. Begitu pun sebaliknya.
"Pangkalan badak kulon sekarang mah random banget ya, bebas, bisa siapa saja yang masuk. Entah itu anak-anak dibawah umur, orang-orang yang sudah berkeluarga, sampai para pedagang. Mau ngapain sih mereka kesini? Kalau para pedagang mah wajar, mereka kan jualan, pasti nyari tempat yang ramai biar dagangannya laku. Ini nih yang sudah berkeluarga dan yang masih dibawah umur mau pada ngapain kesini segala? Mereka pikir disini tempat tamasya keluarga apa? Kita ini geng lho, geng. Masa berbaur sama orang-orang seperti itu sih?" Reymon mengomentari markas besar pangkalan badak kulon yang setiap hari semakin berubah. Seingatnya dulu pangkalan badak kulon sangat sangar. Dihuni kalangan anak muda yang siap tempur. Tapi sekarang sudah seperti tempat rekreasi. Value nya sudah berubah.
"Bukan cuma ente yang merasa seperti itu, tapi kita semua. Sebagai salah seorang yang bertanggung jawab ditempat ini, ane juga bingung harus bagaimana. Keadaannya jadi serba salah. Begini salah, begitu salah. Tempat ini sekarang diawasi dan dikelola oleh Pemda. Kita sebagai pasukan badak kulon tidak bisa berbuat apa-apa, selain menempatinya. Bahkan kita tidak boleh merubah apapun yang ada disini. Minggu lalu ane dapat laporan dari anak-anak, bahwa pasukan yang berjaga di pintu masuk terlibat cekcok dengan para pengunjung. Awalnya anak-anak melarang mereka masuk. Namun para pengunjung itu tak terima, maksa ingin masuk. Mereka menganggap tempat ini adalah tempat umum yang siapa saja bisa menikmatinya. Anak-anak bersikeras menjegal para pengunjung masuk. Lalu para pengunjung itu melaporkan ke dinas lingkungan hidup. Salah satu dinas menghubungi ane, dan mengintruksikan agar siapapun diperbolehkan masuk ke pangkalan badak kulon. Kalau sudah begitu ane bisa apa? Ane hanya bisa tunduk dan memberikan ijin. Tapi ane masih menerapkan peraturan bahwa tidak boleh ada yang masuk membawa senjata tajam, minuman keras, narkotika, dan tidak boleh ada yang membuat kerusuhan. Jika Anda yang melanggar peraturan tersebut maka urusannya dengan polisi. Kita sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menjaga tempat ini bebas dari huru-hara."
Mendengar komentar Danu yang begitu panjang dan jelas, Reymon tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Ia teringat Devi ada didalam.
"Nyet, coba bawa Mira kesini. Mumpung ada Devi."
"Tadinya juga mau begitu, mau ane ajak kesini. Tapi kayaknya dia lagi sibuk, chat ane saja belum di read. Nanti aja ane bawa kesini nya pas acara pesta pora."
Di kedai pak Burhan semua meja sengaja dikumpulkan dan dibariskan ditengah-tengah sehingga membentuk satu buah meja bundar yang besar. Kursi-kursi yang ada pun ditata satu persatu mengelilingi meja. Meja dan kursi tersebut nantinya akan mereka gunakan untuk meeting. Dimana beraneka ragam makanan dan minuman telah tersaji diatasnya. Belasan laki-laki dan perempuan tengah duduk di sana dengan perbincangan yang berbeda-beda. Yang ini berbicara dengan yang ini. Dan yang itu berbicara dengan yang itu. Semuanya jadi berubah dan memandang kearah yang sama ketika Danu dan Reymon memasuki tempat itu.
"Komandan tuh." Spontan pria berambut ikal saat melihat keberadaannya.
"Kasep amat si Danu." Lirih Suara perempuan yang duduk didekat Devi.
Danu dan Reymon berjalan sambil mengedarkan pandangan, memandangi wajah temannya satu persatu. Mereka melihat beni, Leni, Devi, jaki, Lilis, dan yang lainnya.
"Assalamualaikum, everybody!" Danu melambaikan tangan bersama senyuman berseri.
"Waalaikumsalam." Jawab serentak semuanya.
"Sini sia bahlul." Beni melambaikan tangan memanggilnya agar mendekat. Danu pun mendekat, lalu TOS.
"Dari mana saja sia teh, gak pernah kelihatan batang hidungnya?" Kata beni.
Danu tersenyum.
Seorang Perempuan yang duduk didekat Devi tiba-tiba saja berdiri dan berpindah tempat ke kursi yang lain. Perempuan itu seolah-olah ingin menyerahkan kursinya buat Danu. Dengan gercep nya Reymon menempati kursi tersebut. Namun Devi malah berdiri dan pindah. Ia tidak mau duduk disamping Reymon. Maunya duduk disamping Danu. Sungguh hal itu membuat Reymon tersinggung.
