Danu tak menyangka rencananya berakhir seperti itu. Berulang kali ia meminta maaf pada pak sekuriti. Walaupun ia tahu kata maaf tidak akan bisa mengubah keadaan seperti semula. Tapi mau gimana lagi? Nasi sudah dimasak dan dihidangkan, tidak bisa didaur ulang kembali menjadi beras.
Segala sebab pasti ada akibat, segala perbuatan pasti ada konsekuensinya. Ia diseret keluar oleh pak sekuriti. disalahkan. di caci-maki dengan kata-kata kasar, 'setan alas, bego, tolol, bangsat, sialan,' dimana jemari tangannya terus-menerus menunjuk wajah Danu. Jika saja mau mengikuti amarahnya, mungkin pak sekuriti akan jauh lebih brutal.
Kenapa pak sekuriti begitu agresif padahal perkaranya sepele? Karena dia terancam kehilangan pekerjaannya di ponpes al-itihad. Sebelum menyeret Danu keluar, pak sekuriti sudah mendapat ancaman dari Adnan. selaku kepala sekolah Adnan punya kewenangan memecatnya. Itu adalah hal yang mudah baginya.
Ketika kata maaf tak lagi bermakna, diam dianggap jauh lebih bijak untuk meratapi kesalahan. Ternyata hal yang dianggap sepele itu belum tentu sepele juga untuk orang lain. Setelah semuanya terjadi, sesal pun datang kemudian. Danu hanya bisa terdiam membisu menutup mulut rapat-rapat. Dia melangkah Laun meninggalkan pintu gerbang pondok pesantren. Pak sekuriti berdiri memandangnya dengan tatapan sinis.
dicampakkan Mira ternyata lebih menyesakkan dadanya ketimbang cercaan pak sekuriti. Danu tak tahu apakah masih bisa bertemu dengannya lagi atau tidak? Dicampakkan oleh seorang perempuan dalam tanda kurung Mira, merupakan kali pertama yang dialami olehnya sepanjang hidup. itu seakan menjadi tamparan keras untuk laki-laki yang merasa good looking. Sebab biasanya dia yang suka mencampakkan perempuan. Kali itu tuhan mengajarinya kecewa.
Tertunduk dibawah terik matahari yang panas, terlihat butir-butir pasir kemilau dibawah telapak kaki. Diseberang jalan ce eem berdiri memandangnya. menyambut kedatangannya kembali.
Sesampainya di warung ce eem, Danu menghembuskan napas kasar sambil duduk tak bergairah.
"Kenapa?" Tanya ce eem cepat tanggap menanyakan apa yang terjadi? Ia mencium adanya bau kegagalan.
Danu tak segera menjawab, malah melirik wajah ce eem dengan ujung mata secara singkat. ia menghelakan nafas kasarnya kembali. Helaan nafasnya itu adalah bahasa isyarat bahwa rencana yang dibuatnya telah gagal.
Danu duduk di kursi kayu panjang menghadap etalase. Ia mengambil air minum dalam kemasan, lalu membuka tutup botolnya hingga meneguknya sampai menyisakan setengah botol. 'eu,' saking kenyang nya ia sampai bersendawa. Ce eem yang terus memperhatikannya ikut terteguk menelan ludah sendiri.
'huh.' tak henti-hentinya ia membuang nafas.
"Gagal, ce." Katanya mulai bersuara.
"Gagal?" Spontan ce eem menirukan.
Danu mengangguk dalam membenarkan. Tatapannya sejajar pada tangan diatas keranjang roti. Danu ingin melampiaskan kekesalannya pada makanan. Tetapi bukan untuk diacak-acak, melainkan untuk dimakan.
"Apa karena cece yang tidak bisa menahan pak sekuriti terlalu lama?" Ce eem yang duduk di samping Danu merasa bersalah. ia khawatir kegagalannya disebabkan karena dirinya yang tidak bisa menahan pak sekuriti terlalu lama.
"Bukan karena itu ce, Justru saya mengapresiasi akting ce eem yang terbilang good luck. Ce eem sudah cocok tuh jadi pemain sinetron. Pintar buat sandiwaranya."
Ce eem tersenyum tersipu malu mendapat pujian dari Danu.
"Gimana ceritanya ce eem bisa menahan pak sekuriti selama itu?"
Ce eem tertawa merasa lucu mengerjai pak sekuriti. Tetapi ada kasihan nya juga.
"Kalau di pikir-pikir mah kasihan juga yah mengerjai pak sekuriti? He he. Pak sekuriti datang kesini membeli rokok dan kopi. Dia menanyakan merek kopi Kopiko brown coffe. Kebetulan merek kopinya tidak ada disini. 'Tidak ada pak.' Kata ce eem waktu pak sekuriti menanyakannya. Pak sekuriti tampak bingung, 'terus gimana?' Tanyanya. Ce eem memberi solusi, 'kalau tetep mau kopi yang itu saja, maka ce eem akan membelikannya dahulu ke agen' Pak sekuriti mengangguk menyepakatinya.
