Di beri patokan pantai karang tumpeng belok kanan! Danu mana tahu? Tapi akan berusaha menemukannya, Menemukan pantai yang berada di kampung Pamatang baru, desa Banjarmasin, kecamatan carita, kabupaten pandeglang-banten.
Saat laju kendaraannya memasuki pesisir pantai carita, dia mulai menurunkan kecepatan motornya. Semula di angka delapan puluhan turun menjadi empat puluh. Saat itu pula dia jadi gemar membaca. bahkan jadi pembaca ulung. Apapun yang terlihat oleh matanya pasti terbaca, Entah itu billboard, baner reklame, brand toko, hotel, sampai WC umum di pinggir jalan pun turut dia baca. Tujuannya hanya satu, ingin mencari nama pantai yang bernama karang tumpeng. dia tak mau sampai terlewat.
Sebuah janur kuning melengkung di bibir gapura. kertas putih bertuliskan nama ilham dan risma tergantung di bawahnya. Danu menepikan motornya di sana. Melihat dan memastikan tulisannya dengan jeli.
"Ilham dan risma. Ini apa bukan yah gang masuknya?" Jika di lihat dari tulisan namanya benar. tak mungkin ada dua nama yang sama menikah di hari yang sama.
"Kayaknya bener ini gang masuknya."
Urusan salah atau benarnya gimana nanti. Mikirnya simpel. coba aja dulu kalau salah tinggal balik lagi.
Dia masuk ke gang sempit dengan bangunan yang berdesak ala-ala pesisir pantai. 5km berlalu. tak ada bangunan yang berdesak lagi. Yang ada hanya hamparan pesawahan yang luas. Setelah melewati pesawahan danu di hadapkan pada jalan yang berliku dan menanjak seakan menaiki gunung. Ironis, jalannya hancur tak beraspal. Aspalnya habis terkikis air bertumpuk di pinggir jalan.
"Edeg meni jauh amat ie si ilham punya istri?" Pedalaman hati di buat terheran-heran sama si ilham yang bisa-bisa nya memilih istri di kampung pedalaman seperti itu. Kalau dia sendiri sih ogah, sekalipun ceweknya berspek bidadari.
"Kenal dimana tuh anak sama cewek? Gak kebayang gimana ngapelinnya waktu masih pacaran dulu? Bisa rusak ni motor kalau sering kesini."
Danu jadi penasaran sama wanita pilihan ilham. Secantik apa orangnya? Sampai ia rela menikahinya sekalipun berada di kampung terpencil.
"Kalau perempuannya jelek, maka rugi tuh si ilham."
danu ketawa-ketawa sendiri membayangkan bagaimana kalau seandainya nanti istri si ilham mau melahirkan. sementara tempatnya jauh kemana-mana. bisa-bisa anaknya brojol di tengah jalan.
Karena terlalu fanatik memikirkan urusan orang lain, ia pun jadi tak fokus terhadap jalannya sendiri. Udah tahu jalannya rusak dan berbatu segede-gede gaban, bukannya fokus mikirin jalan, malah mikirin yang enggak enggak. Akibatnya blok mesin motornya menghantam batu. Saat itu pula dia bersorak: "huhh.. Hancur nih motor kesayangan saya. gak bakalan sekali-kali lagi kesini."
Boleh saja kala itu dia berkata sesumbar tak sudi datang ke tempat itu lagi. Dia belum tahu saja dengan apa yang akan terjadi setelahnya. Dan suatu saat nanti dia akan meralat kata-katanya itu.
Helaan nafasnya berhembus legam tat kala melihat satu buah janur kuning lagi berdiri di persimpangan jalan. Bentuk janur nya sama dengan janur yang dia lihat sebelumnya. Ada tulisan nama ilham dan risma nya juga. Bedanya ada tanda panah. tanda panah penunjuk jalan menuju tempat resepsi pernikahan di laksanakan. Kurang lebih tulisannya 150 meter lagi.
"Tuh kan saya tak salah masuk gang tadi. Ternyata benar ini jalannya. Saya tea anak buah ki brojo."
Danu masuk mengikuti arah tanda panah. jalannya bikin bergidik dan geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak? Hanya jalan dari tanah Merah alami tanpa aspal maupun faving blok. Hujan yang turun kemarin menjadikannya licin dan becek.
"Enggak ada jalan yang lebih layak kah disini? Tadi jalan berbatu tapi rusak. Yang ini lebih parah. cuman tanah merah doang. Hadeh mana licin lagi. Ledug nih motor saya."
