Didalam sebuah toko baju, pelayan nya ramah menyambut mereka, terutama pada Mira. Bahkan ada salah satu pelayan perempuan yang melayangkan sapaannya pada Mira.
"Hai teh!"
"Hai." sahut Mira dengan senyum berseri.
Mira merupakan pelanggan setia di toko tersebut. Ia sering membeli outfit disana. Ia juga sudah tak asing lagi sama para pelayannya. Begitu pula sebaliknya. Jadi wajar kalau mereka terlihat begitu akrab.
"Habis darimana teh? Pada basah kuyup kayak gini?"
"Dari kampung domba, tadi kehujanan dijalan."
"Wih... Hebat amat ya, Baju basah digantinya sama yang baru.?"
"Enggak gitu juga, Cuma sekalian lewat aja, mangkanya mampir kesini."
Mira menoleh kearah Danu dibelakangnya. Terlihat Danu lagi menyilangkan kedua tangannya di atas perut. Tubuhnya masih saja menggigil, mulutnya mendesis, serta giginya beradu sama kuat.
"Cari baju yang kamu mau, nu!" Ucap Mira menyerukan. Ia berniat membelikan pakaian untuknya.
"Biasanya si cowok yang membelikan pakaian untuk ceweknya. kok ini-mah jadi kebalik sih?" Kata si pelayan mengomentari.
"Enggak pamali juga 'kan, Kalau si cewek yang membelikan pakaian untuk cowoknya?"
"Ya enggak, cuman kurang etis aja!"
Danu kurang begitu bergairah meladeni ucapan dua perempuan di depannya. Ia lagi malas membuka suaranya. Tapi dalam hati sangat menggerutu. Bagaimana tidak? Ditengah-tengah kondisinya yang tidak stabil, ia harus menemani Mira membeli pakaian terlebih dahulu. Terus terang, sejujurnya ia ingin cepat pulang, Tidur, dan beristirahat di rumah.
"Ayo nu, cepat pilih yang kamu suka! Nanti aku yang bayarin!"
Danu tidak mendengarkan ucapan Mira. Ia hanya berdiri dibelakangnya sambil menekan kepala yang terasa nyut-nyutan.
"Kenapa, a?" Tanya si pelayan saat melihat Danu meringkih.
"Enggak apa-apa, cuma gatel doang." Jawab Danu pura-pura tegar. Dan berlaga seolah-olah sedang menyisir rambutnya dengan jemari tangan.
Mira melihat satu buah kaos oblong berwarna cream. Dia rasa baju itu akan cocok jika dipakai oleh Danu.
"Cobain nih! Sepertinya cocok buat kamu."
Tak cuma kaos, Mira juga menyerahkan satu celana Levis berwarna hitam. Dia ingin tahu apakah ukurannya pas atau tidak di pinggang Danu.
"Nih, bawa dulu ke ruang ganti! Pas apa tidak ukurannya!"
Tubuh Danu terus saja bergidik. Bulu kuduknya serasa berdiri semua. Sungguh, dia dilanda demam. Badannya sudah tidak enak dirasa. Pikirannya mulai was-was, takut pingsan saat itu juga. Sebenarnya Yang dia inginkan itu bukanlah sebuah pakaian, tetapi parasetamol. Tidak banyak kata lagi, sekalian mempersingkat waktu, Danu pun meraih baju dan celana ditangan Mira. Lalu membawanya ke ruang ganti, dan menjajalnya disana.
Setelah dicoba ternyata ukurannya pas, dan cocok sekali dikenakan ditubuhnya. Mira langsung mengapresiasinya dengan acungan jempol.
"Tuh kan, kamu terlihat tampan dan memesona dengan pakaian seperti itu. Pintar kan aku memilihkannya? Mm... tinggal cukur rambut doang tuh! Maka akan semakin terlihat kharisma nya." Selain memuji penampilan Danu, Mira juga memuji dirinya sendiri yang merasa piawai memilihkan stylish yang cocok untuknya. Tak lupa, ia juga menyarankan Danu agar mencukur rambutnya yang sudah terlalu gondrong.
Danu meresponnya dengan senyum malas. Ia tidak lagi mood bercanda.
Baju dan celana barunya langsung dipakai, sedangkan yang lama dimasukkan kedalam kantong plastik. Danu meminta izin keluar pada Mira! Alasannya mau merokok. Berhubung Mira tahu merokok itu adalah kebiasaannya, maka dia mempersilahkannya.
Danu pun keluar, dan berjongkok didepan teras sambil menghisap sebatang rokoknya. Ia mulai membayangkan jarak dari pasar badak saat itu, ke asrama Mira di Maja. Jaraknya masih lumayan jauh. Ia tidak tahu apakah masih kuat atau tidak mengendarai motornya sampai kesana. Mengingat kondisi badannya yang semakin turun. Ia rasa tidak akan sanggup. kalau pun dipaksakan takutnya pingsan disana.
Ia terus berpikir mencari jalan alternatif lain yang lebih efektif. Tiba-tiba saja ia kepikiran sama rumah om Iwan di karang tanjung. Jaraknya lebih dekat jika dibandingkan dengan asrama Mira di Maja. paling sekitar lima sampai sepuluh menitan sudah sampai. Dan kalau pun jatuh pingsan disana, maka tidak perlu khawatir. Karena keluarganya pasti bertindak.
"Let's go!" Tak berapa lama Mira keluar dengan outfit barunya. Dia mengajak Danu segera pulang.
Danu menyentil setengah batang rokok di jemari tangannya. Perlahan ia berdiri. Seketika itu juga pandangannya menjadi gelap. Hampir saja dia tersungkur ke tanah andai tak ditangkap oleh Mira dengan sigap.
"Eeeh... Kamu kenapa nu?" Tanya Mira setengah panik.
"Enggak apa-apa. memang kalau habis jongkok, terus berdiri, suka puyeng."
"Beneran tidak apa-apa?"
"Bener."
Sebelum berangkat Danu sempat menanyai Mira, "apakah kamu bisa bawa motor?" Sekiranya dia bisa mengendarai sepeda motor, maka Danu akan menyerahkan kemudi padanya.
Sayangnya Mira tidak bisa mengendarai sepeda motor. Dia belum pernah sekalipun mencobanya.
"Huh payah!" Pekik Danu mencemoohnya.
"Ya mau gimana lagi, Orang gak bisa. Nanti ajarin aku bawa motor ya!"
"Gampang, Asal jelas aja itungannya!"
"Hah, kamu mah suka perhitungan."
Ditengah perjalanan Mira agak bawel, nanya "mau kemana? Kerumah siap? Kok enggak langsung ke asrama ku?" Sebab dia tahu jalan yang ditempuh Danu bukan kearah asramanya, bukan pula kearah pangkalan badak kulon, melainkan masuk ke gang perumahan. Mira tak tahu kalau itu adalah jalan alternatif menuju rumah om Iwan.
Setibanya didepan gerbang rumah om Iwan, Mira kembali bertanya, "kenapa kita kesini?" Danu tak menjawabnya lantaran kepalanya sangat migren.
Danu turun dari motornya menghampiri pintu gerbang yang kebetulan tertutup. Tiba-tiba saja bumi yang dipijaknya terasa berguncang. pandangannya menjadi gelap. ia pun kehilangan kesadaran hingga terlunglai keatas tanah.
"Danu..... Kamu kenapa? Tolong... Tolong...!" Mira yang semula duduk diatas jok motor pun langsung berlari kearah Danu sambil teriak-teriak histeris. Dia begitu panik melihatnya terkapar ditanah. Dia takut terjadi apa-apa padanya. Dia angkat kepalanya dan diletakkan dipangkuan.
"Tolong... Tolong..!" Mira terus-menerus berteriak meminta pertolongan. Jeritannya begitu keras hingga terdengar sampai kedalam rumah om Iwan.
Delisa yang tengah belajar didalam kamar seketika menghentikan pelajarannya. Om Iwan yang tengah membaca artikel di smartphone seketika menutupnya. Tante Lisa yang sedang menonton TV seketika mematikan tv nya. Semuanya berlari keluar rumah.
"Aa.." Delisa menjerit ketika melihat kakaknya terkapar dipangkuan Mira. Begitu pun dengan om Iwan dan Tante Lisa yang merasa kaget.
