Pukul setengah sepuluh menjelang siang suhu udara berubah panas. paparan sinar ultraviolet naik 30 derajat celcius. Tubuh yang terbungkus selimut mulai di basahi keringat. Bulirannya menjalar dari kening, punggung, sampai dada.
Danu mulai menggeliat Mendorong peregangan otot-otot persendian. Menguap lalu mendesah seperti geraman singa. Secara reflek satu tangannya merambah masuk kedalam celana menggaruk-garuk selangkangan. Hal itu di lakukan nya secara sadar tidak sadar. Matanya merem melek menikmati.
Sinar lampu yang padam, gorden terjuntai menutupi jendela, Menjadikan kamar begitu gelap. hingga sulit membedakan mana pagi, mana siang, Keadaannya samar. Ingatan belum sepenuhnya kembali. tak sadar hari di luar sudah terang benderang.
Gigi geraham beradu sama kuat. mulut mengunyah tanpa ada makanan.
Bola matanya mendelik ke atas menatap langit-langit. Perlahan ingatannya mulai kembali. dan sadar hari itu adalah hari pernikahan sepupunya.
Kabel headset yang membelit di leher segera di cabut dan di lepaskan dari telinga. Ketika melihat jam pada hapenya. waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.
"Setengah sepuluh?" mata yang sipit seakan tak percaya dibuatnya. "Beneran, ini teh udah jam setengah sepuluh?" Ketika dipastikan sekali lagi ternyata benar. tidak ada yang salah dalam penglihatannya.
Wajahnya tercengang kaget disertai mulut menganga. Dia pun bergerak cepat singkirkan selimut dan tendang bantal guling. Lalu beranjak turun dari kasur, melangkah sempoyongan mendekati jendela untuk memastikan keadaan di rumah bude riya.
"Bedus, aing di tinggalin." Keluhannya menggaruk kepala dengan alis sebelah terangkat. Saat melihat suasana di rumah budenya sudah sepi. Hanya ada tenda kosong tanpa dekorasi. serta beberapa tumpukan kursi napolly berwarna hijau. Terlihat juga kepulan asap titip-tipis terbang mengudara. Kepulan asap rokok dan kemenyan yang dibakar ki brojo di teras depan rumah bude riya.
Dia terpaku dan membisu tundukkan kepala. Sebelah tangan bergelayutan di kain gorden. punggungnya bersandar di balik tembok dan otaknya berpikir dramatis.
"Bagaimana bisa sampai tertinggal seperti ini? Dan kenapa tidak ada yang berusaha membangunkannya?" pedalaman hati di buat gamang antara harus datang atau tidak.
Dari awal memang sudah berniat akan menghadiri acara pernikahannya. sangat ingin sekali bisa ada disana berkumpul bersama keluarga besarnya. Karena bagaimana pun hari itu adalah hari yang paling bersejarah buat ilham. Dia juga ingin menjadi bagian dari sejarah itu.
"Kalau saya tak datang, apa kata si ilham nanti yah? bisa amuk-amukan dia." Perasaan mulai bingung. mau datang tapi tak tahu lokasinya dimana. Mau enggak datang takut disebut keterlaluan.
Danu mengambil hp di atas kasur. Mencari kontak yang bernama ummi. ingin menanyakan tempat dan lokasi pernikahan ilham di laksanakan. Ada rencana mau menyusul kesana.
Handphone uminya kebetulan berada di dalam tas. hanya bergetar tanpa nada dering. Panggilan dari dia pun tak mampu di dengarnya.
Asa Danu kian mengering. hembusan nafas yang keluar sangat berat. Dia Merebahkan kembali tubuhnya ke atas kasur. Geleng-geleng kepala tak tahu harus datang dengan siapa? Dengan cara apa? Akal jadi sempit. hanya bisa mengeluh di atas tempat tidur. Setengah putus asa ia berucap, "sudah-lah." Sambil melempar hapenya.
Pejamkan kedua bola mata mencoba melanjutkan sisa tidurnya. Akan tetapi tak bisa. pikirannya sangat kacau. Dia pun Murka mengacak-acak selimut melampiaskan kekesalan.
Dia bangkit lagi dari tempat tidur. menyibak Gerendel yang mengancing di tengah pintu. Ia Keluar dari dalam kamar. mendatangi wastafel di dapur.
Selembar surat dan uang 50 ribu tergeletak di atas meja. Tertumpangi setengah lingkaran pot bunga tak di sadari nya. Tak terpikir olehnya sama sekali.
padahal dia melewatinya sampai dua kali. sebelum cuci muka dan sesudah cuci muka. Pandangannya selalu lurus tak memperhatikan kiri dan kanan.
Ia kembali ke dalam kamar dengan wajah yang terpenuhi bercak air. Sambil mengelap wajah dengan handuk matanya memandang ke arah hape. Tidak menemukan pesan masuk dari siapapun. Ia pun Bersorak, "huh..." Sebegitu banyak nomor di dalam kontaknya, tapi tak ada satupun yang memberinya ucapan selamat pagi.
siapa juga yang mau memberi ucapan selamat pagi kepadanya? Karena apa? Karena jangankan kekasih, calon gebetan saja pun dia tak punya.
Dulu pernah ada seseorang yang begitu over attention padanya. rutin memberi perhatian setiap pagi, siang, sore, hingga malam. Selalu menanyakan, "lagi apa? Udah makan apa belum? Udah shalat apa belum? Udah tidur apa belum?" Sampai ke hal-hal yang tak penting pun di tanyakan. Eh nomornya malah di blok.
Perempuan yang perhatian itu bernama devi. fans beratnya. Ngebet banget pengen jadi pacarnya dari dulu.
Saat danu melemparkan hapenya ke atas kasur, saat itu pula ponselnya berdering. Dering penanda pesan masuk.
Dia ambil kembali hape itu untuk mengetahui pesan yang masuk dari siapa. Rupanya Pesan yang masuk itu datang dari uminya. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Ia pun segera membacanya.
"A, udah bangun belum? Kalau udah bangun sini nyusul! Alamatnya sudah ummi tulis di dalam surat. Suratnya Ada di atas meja. Itu uang 50 ribu buat beli bensin! Tapi jangan di belanjakan semua! Kembaliannya balikin lagi ke ummi!"
Selain bisa bernafas lega, Dia juga tergugu membaca isi pesannya. Yang lebih ditertawakan ialah saat di mintai uang kembalian oleh uminya
"50 ribu aja pake di mintai kembaliannya segala." Balas danu tanpa koma.
Danu segera mendatangi meja yang dimaksud sang ummi. Untuk Membuktikan keabsahan antara ada dan tidak adanya surat di meja itu. Ternyata ada. Berarti uminya tidak berbohong. Uang di ambil di masukan kedalam saku celana. sementara suratnya ia baca. Bunyi suratnya seperti ini, "jika mau datang ke pernikahan ilham, ini alamatnya. Kampung susukan. RT 03 RW 02. Desa sukarehe. Kecamatan carita. Tepat di pantai karang tumpeng nanti belok kanan!."
"Pantai karang tumpeng Yang mana yah?" Ia menggaruk kepala. kurang begitu hapal dengan lokasinya.
