Dengan tenang dan elegannya mobil MPV itu terus melaju melintasi jalan di pesisir pantai Carita. Danu sebagai pengemudinya. Mira duduk di jok paling depan. Sedangkan ibu dan bapaknya duduk di jok belakang.
Matahari terus berjalan mendekati peraduannya. Sinarnya yang kuning keemasan mulai bersulam kemerahan. Ombak datang silih berganti seolah menyapa dan mencium pasir-pasir pantai yang putih nan bersih. Terasa damai dan indah.
Dari dalam mobil wanita paruh baya itu menatap senja diatas samudera. ia tersenyum sambil berdoa, "Allahhumma bika amsaina wa bika nahya wa bika namuut wa ilaika nusuur. ya Alloh dengan memohon pertolongan-mu kami memasuki waktu senja dan dengan Kodo dan iradat-mu kami hidup dan dengan rahmat-mu kami meninggal dunia dan kepada-mu kami akan di himpun."
Satu keuntungan bagi orang yang selalu mengingat kematian ialah selalu dekat dan berusaha mendekatkan diri pada sang maha kuasa.
Hujan telah reda. langit di sore itu setengah gelap. Sesaat sebelum matahari tenggelam senja menyisakan cahayanya. Selalu menarik hati bagi siapa saja yang memandangnya. Waktu itu bisa di katakan sebagai waktu yang istimewa. Melihat kehadiran senja mampu menimbulkan rasa syukur atas ciptaan Allah SWT. Waktu senja jadi titik balik dimana setiap manusia bisa merenungi apa yang telah di lakukannya seharian tadi. Beruntung bagi orang yang dapat menebar kebaikan. Tuhan telah mencatatnya.
Tanpa terasa mobil MPV itu telah sampai dan berhenti dihalaman depan rumah Mira saat matahari sudah terbenam. Danu tak menyangka bisa menginjakkan kakinya di rumah itu lagi. Rumah yang menjadi titik awal pertemuannya dengan Mira. Ia masih ingat bagaimana hari itu berlangsung. Ia masih ingat saat pertama kali melihat Mira membukakan pintu. Ia masih ingat bagaimana juteknya Mira saat itu. Ia masih ingat bagaimana galaknya Mira hari itu. Tapi sekarang keadaannya terbalik. Mereka jadi sepasang kekasih yang saling mencintai. Sungguh, hidup ini sukar dimengerti.
"Gak nyangka bisa kerumah ini lagi. Gak nyangka juga bisa dekat dengan Mak Lampir. Padahal waktu pertama kali kesini boro-boro kepikiran jadi pacarnya, ngebayangin jadi temannya saja udah ngeri." Kata Danu sesaat sebelum masuk.
"Harusnya kamu bersyukur, Dari kejadian itu ada hikmahnya. kamu jadi punya pacar. Coba kalau enggak kesini? Mungkin masih jomblo sampai sekarang." Balas Mira sengit.
Wanita paruh baya itu menginstruksikan untuk masuk dan sholat magrib dahulu. mumpung waktunya masih ada. Satu persatu memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Semuanya harus antri karena kamar mandinya cuma ada satu. Yang diutamakan masuk lebih dulu ialah lelaki.
Bapaknya Mira dan Danu menunaikan shalat Maghrib berjamaah. Sedangkan Mira dan ibunya sholat sendiri-sendiri di kamarnya masing-masing.
Setelah melaksanakan shalat Maghrib Mira dan ibunya pergi ke dapur mempersiapkan hidangan makan malam. Danu yang sebelumnya duduk berdua dengan bapaknya Mira di sofa berpindah ke teras depan setelah mendapati telpondari om Iwan.
"Halo om." Sapa Danu mengawali dalam telpon.
"Halo, Kamu dimana?" Sahut om Iwan langsung menanyakan keberadaannya.
"Dirumah Mira, Di Carita, Dekat rumah istrinya si Ilham."
"Lagi ngapain dirumah Mira? Lagi ngapel Tah?"
"nganterin pulang. Tadi siang Danu dan dia habis menjenguk ibunya dirumah sakit. Ibunya sakit parah. Pulangnya kasian enggak ada angkutan umum yang bisa langsung nyampe ke rumahnya. Om tau sendiri kan akses ke kampungnya seperti apa? Mangkanya Danu berinisiatif mengantarkan mereka pulang. Maaf ya om pinjam mobilnya jadi lama."
