"Jadi, gimana Sher? Udah ketemu sama program managernya OUKAL?" tanya seseorang di seberang sana lewat sambungan ponsel Sherina. Sherina yang sedang membuat sandwich untuk di makan di kantor pagi ini mendadak berhenti dari kegiatannya.
"Udah, Bu, kemarin acaranya lancar, ternyata bener ya kata Ibu, jangan menilai semuanya dari satu sisi saja." Ternyata yang menelpon adalah Ibu. Ya, pukul 05.30 WIB Ibu memutuskan untuk menelpon Sherina karna kemarin setelah pulang dari pertemuan dengan Sadam, tenaga Sherina benar-benar terkuras hingga tidak ingat untuk menelpon sang Ibu.
"Wah, ada kejutan apa nih kemarin?" tanya Ibu antusias. Sherina tersenyum kecil mendengarnya, Ibu selalu saja antusias dengerin cerita gue, batin Sherina sembari mempersiapkan tas dan kunci mobil di atas meja.
"Jadi, kemarin program manager nya OUKAL ngajakin aku sama Aryo buat ngeliput secara eksklusif pelepasliaran orangutan di hutan Kalimantan hari Jumat ini, Bu." Jawab Sherina ceria yang membuat Ibu bereaksi tak kalah ceria di seberang sana.
"Wah, anak Ibu hebat banget dong berarti, sampai diajakin sama program manager OUKAL nya langsung buat ngeliput pelepasliaran orangutan, itu acaranya ga sembarangan lho, Sher. Kamu beruntung banget. Emang siapa sih program manager OUKAL-nya? Kok dia bisa tau kalau kamu itu yang dia mau?" dua pertanyaan terakhir dari Ibu yang mampu membuat pikiran Sherina kembali pada kejadian kemarin saat Sherina memutuskan untuk bertanya mengenai kenapa harus dia yang dipilih oleh OUKAL dan dari mana Sadam tau dia sekarang jadi jurnalis? Ya, oke, pertanyaan terakhir mungkin agak tidak make sense karna Sherina sudah sangat sering wara-wiri di layar televisi saat meliput berita dan itu tidak menutup kemungkinan Sadam pernah menonton liputan Sherina sekali saja bukan? Namun, Sherina tetap bertanya pada Sadam, karna dia ingin mendengar sendiri dari mulut lelaki itu.
♫♫♫
"Jadi, kenapa aku?" ya, Sherina sudah melunak sejak pembicaraan tentang masa lalu mereka selesai. Dia kini mulai berterima walaupun belum 100% belum mendapat penjelasan dari Sadam, namun, baginya itu sudah cukup mengingat ada Aryo disini, biarlah nanti seiring berjalannya waktu Sadam menjelaskannya secara empat mata pada Sherina.
"Karna aku mau yang meliput acara pelepasliaran kali ini adalah jurnalis terbaik dari Nex TV. Dan kebetulan itu kamu." Jawab Sadam enteng, yang membuat Sherina memicingkan matanya, Sedangkan Aryo hanya menyimak membiarkan dua insan ini berbicara lebih banyak, setidaknya membuat mereka terbiasa dengan satu sama lain kembali, pikir Aryo.
"Lalu, kenapa harus Nex TV? Kan banyak stasiun televisi lain yang mau meliput juga kan?" Jiwa jurnalis Sherina memang sudah mandarahdaging kayaknya, selalu ada pertanyaan di setiap jawaban. Dengan sabar Sadam menjawab kembali.
"Karna, OUKAL dan Nex TV itu sudah melakukan Kerjasama, Sher. Jadi, apapun yang berkaitan dengan OUKAL dan harus diliput, maka yang meliput haruslah dari Nex TV." Penjelasan Sadam memang sudah dimengerti oleh Sherina, namun, bukan jawaban itu yang dia mau, jadi, dia memutuskan untuk bertanya lagi.
"Tapi, ----" seketika kalimat Sherina terpotong oleh Aryo yang mulai sewot.
"Tapi, tapi mulu lo, Sher. Udah napa, tinggal jawab mau ikut ngeliput ke Kalimantan atau kaga. Clear. Ribet emang berurusan sama jurnalis yang tingkat keponya udah kronis kayak lo." Sherina menanggapi kalimat Aryo dengan bibir yang mengerucut dan bergumam,
"Kok jadi galak sih?!" yang sialnya didengar oleh Aryo, sedangkan Sadam hanya berpura-pura tak mendengar, membiarkan dua orang ini puas berdebat. Sudah lama juga dia tidak melihat Sherina berdebat seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saujana
Fanfiction/Sau∙ja∙na/ : sejauh mata memandang Beberapa tahun berpisah ternyata tidak sontak merubah apa yang pernah terjalin. Walaupun awalnya agak canggung tapi naluri dua orang sahabat selalu menemukan jalan untuk kembali bersedia seperti sebelumnya. "Di p...
