Evita membaca nama yang tertera di kertas undangan berwarna champagne itu: Maysa Anandi Mandasari S.Sos. dan Amal Sujadie S.E. M.Si. kemudian tersenyum. Itu undangan pernikahan keenam yang diterimanya dalam dua bulan terakhir.
"Selamat, ya!" Evita mengelus lengan Maysa lengkap dengan senyum yang tidak lepas sejak ia menginjakkan kaki di The Harvest dan mendapati Maysa tiba lebih dulu.
"Wajib banget dateng, loh. Sebagai mak comblang kita, kamu nomor satu di list undangan."
"Mak comblang apa, aku cuma ngenalin kamu sama dia."
"Kalo nggak ada kamu, aku mungkin nggak ketemu sama dia."
Evita terkekeh, "aku dikasih meja VIP, nih?"
"Aku gelarin red carpet sekalian." Maysa tertawa.
Evita menyendok kecil Avocado Genoa-nya dalam jeda yang datang setelahnya.
"Kamu masih sama yang lama, kan?" Maysa bertanya.
Tidak perlu diberi subjek, Evita tahu jelas siapa dan apa yang Maysa maksud. "Masih," jawabnya pendek.
"Terus giliran kamu kapan, dong?"
Evita cuma bisa menyunggingkan senyum kecil, "nanti tahu-tahu terima undangan aja, deh." Jawabnya retoris.
Sudah tidak terhitung berapa kali jawaban pamungkas itu keluar dari mulutnya untuk satu pertanyaan yang sama. Ia bersyukur kali ini jawaban itu masih berhasil membungkam si penanya. Jika tidak, ia tidak tahu harus menjawab apa lagi.
Lama setelah percakapan mereka yang diselingi gosip ini itu berakhir dan Maysa pulang, Evita menandaskan Avocado Genoa-nya dan segera berlalu dari sana. Tanpa pikir panjang, ia mengarahkan mobilnya menuju sebuah area perkantoran di tengah kota.
Kurang lebih 25 menit kemudian Evita sampai di sebuah ruko empat lantai yang berbagi kavling dengan sebuah salon high-end. Ia masuk ke ruko dengan fasad bergaya natural modern dengan plang kisi-kisi kayu bertuliskan Cactus Mind Inc. Marriage & Family Counseling. Tidak ada yang menyambutnya. Ia membuka sendiri pintu kacanya dengan anak kunci yang ia bawa.
Begitu masuk, di sebelah kiri ruangan, berseberangan dengan meja resepsionis, adalah ruang tunggu yang terdiri dari dua set sofa kulit coklat tua dengan meja kopi, pot-pot tanaman hias, dan sebuah rak buku besar. Semuanya dengan dominasi ornamen kayu, warna mahogani, dan desain minimalis. Jika tidak melihat logo Cactus Mind Inc. di dinding di belakang meja resepsionis, tempat itu sekilas lebih mirip sebuah kafe dari pada pusat terapi. Ketika sedang buka, tempat itu kadang menguarkan wangi kopi dan vanila dari pantry di lantai dua.
Evita naik ke lantai atas, di mana lima ruang praktik berseberangan. Ia terus berjalan lurus menuju ruangannya yang terletak di ujung lorong. Ruang kelima yang berseberangan dengan pantry. Ia membuka tirai jendela dan menyulut dua lilin beraroma lavendel. Sama seperti ruang tunggu di lantai satu, dan pada dasarnya di ruang-ruang praktik lain, ruangannya pun didominasi desain minimalis dengan warna coklat, hitam, dan abu-abu.
Ia meraih sebuah file holder kuning berisi progress notes salah satu pasiennya dari meja kerja. Alih-alih duduk di kursi kerjanya, Evita duduk berselonjor kaki di sofa panjang di dekat jendela. Sunyi senyap di sana, nyaris tidak ada suara apapun. Ini kebahagiannya yang paling absolut; berdua saja dengan pekerjaannya.
Selesai dengan progress notes, ia pindah ke meja kerjanya dan melanjutkan mengetik e-newsletter dan konten blog mereka. Di tengah ketikannya, Evita tersenyum miring. Ia berpikir orang lain yang melihat ini akan menganggapnya gila dan mau-mau saja diperbudak pekerjaan. Ia tersenyum lagi karena ia pikir orang lain yang berpikir demikian tidak mengerti banyak jenis kesenangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Sunday Morning
Romance3 sahabat sepakat untuk meninggalkan hidup yang kacau dan memulai rencana ternekat dalam hidup mereka: membuka kedai kopi. Ari, gadis populer berjiwa bebas, Evita, sang hopeless romantic, dan Dannisa, si domba hitam keluarga, berjuang membangun bis...
![[END] Sunday Morning](https://img.wattpad.com/cover/359763321-64-k166741.jpg)