Sampai kembali di Bandung hampir pukul 12, Ari tidak mempercayai apa yang ia lihat. Jalan menuju Sunday Morning penuh oleh orang-orang dan beberapa kendaraan. Berisik sekali. Ari berkendara pelan hingga beberapa meter sebelum Sunday Morning karena kerumunan orang yang memadat. Perasaan sesak yang ia bawa dari Jakarta bertambah dengan kepanikan yang tidak jelas asalnya dan membanjiri punggungnya seperti air es.
Ia melihat asap membumbung ke langit yang hitam pekat. Susah payah Ari berlari menyelisip di antara kerumunan orang-orang yang meneriakkan sesuatu entah apa. Lalu ia melihat asal asap itu. Dari bangunan Sunday Morning. Api yang besar. Bagian depan toko yang menghitam. Hawa panas menghembus ke arahnya. Lalu sirine pemadam kebakaran dari kejauhan. Dan beberapa meter dari pintu, Ari jatuh berlutut. Kemudian Dannisa muncul, masih berselimut handuk lembab, menarik-narik siku Ari dengan paksa, meneriakkan sesuatu ke telinga Ari yang Ari rasa suaranya berasal jauh sekali dari belakang sana.
Dalam usahanya menarik Ari ke trotoar, Dannisa merasa waktu melambat dan bising di sekelilingnya mengecil. Ia memandang jilatan api yang menghanguskan pintu kayu mereka yang tidak lagi berwarna hijau. Apa yang terjadi di depan matanya, tampak megah sekaligus juga mematikan.
Sementara itu Evita menemukan Ari dan Dannisa di toko peralatan sepeda di seberang Sunday Morning. Dannisa berdiri menatap api yang mulai padam sementara Ari terduduk di trotoar di sebelahnya, melipat lutut hingga ke dada. Matanya menatap kosong ke jalan aspal.
Diam-diam Evita memanggil Juno dalam hati. Berita apapun, baik apalagi buruk, selalu Juno yang pertama ia ingat. Bahkan setelah pertemuan mereka yang sunyi beberapa hari lalu. Dan, kini seolah belum cukup tragedi dalam hidupnya, satu lagi tragedi datang seperti tangga yang menimpanya setelah ia jatuh dan menderita sakit berkepanjangan. Evita ingin sekali menangis meskipun sudah terlalu banyak ia menangis minggu-minggu ini dan air matanya seharusnya sudah mengering.
"Ini gue belom bangun tidur, kan? Mimpi kan, kita?" tanya Ari dalam suara yang seperti melamun. Ia menatap kosong ke arah Sunday Morning yang menghitam. Evita duduk di sampingnya dan merangkul bahunya kuat-kuat. Ia mendekap kepala Ari di bahunya erat.
"Gue juga pengennya begitu," timpal Dannisa, suaranya lemah dan serak.
Tidak lama, mereka melihat Hanan di sana, setengah berlari menghampiri mereka. Wajahnya pucat, panik, dan bingung. Terutama ketika melihat Dannisa kini ikut terduduk lemas di sisi Ari.
Dalam hati, ketiganya percaya sungguh Tuhan menyayangi mereka bertiga. Dihujani-Nya mereka kasih sayang lewat cara yang paling tak terduga. Apa yang mereka beli dengan harga semahal ini, mereka akan terus menunggu. Mereka akan mulai menunggu dan menghitung. Selagi mengawasi kerja keras mereka terbakar jadi arang.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Sunday Morning
Romance3 sahabat sepakat untuk meninggalkan hidup yang kacau dan memulai rencana ternekat dalam hidup mereka: membuka kedai kopi. Ari, gadis populer berjiwa bebas, Evita, sang hopeless romantic, dan Dannisa, si domba hitam keluarga, berjuang membangun bis...
![[END] Sunday Morning](https://img.wattpad.com/cover/359763321-64-k166741.jpg)