(17) Waldeinsamkeit

66 14 3
                                        

Hampir pukul setengah 2 pagi ketika Ari terbangun karena gedoran keras berkali-kali di rolling door di lantai bawah. Tidak berani turun sendiri untuk mengecek dan tidak bisa mengabaikan suara itu begitu saja, Ari membangunkan Dannisa yang baru tidur satu jam untuk menemaninya ke bawah lagi setelah sehari penuh. Hari itu Evita memaksanya untuk istirahat saja karena ia tampak tidak sehat. Ia sendiri merasa melayang-layang dan kepalanya berat sekali sejak pagi. Jadi ia menurut saja dan baru saat itulah ia beranjak dari kasur setelah seharian berbaring di kamar.

Keduanya terlonjak ketika membuka pintu beserta rolling door dan menemukan seseorang mengenakan jaket jins belel bersandar di kaca jendela dengan kepala terkulai.

"Alex??"

Dannisa berdecak, "macem-macem aja kelakuan laki lo," ujarnya seraya menguap lalu kembali ke atas.

Alex mencoba menegakkan posisi berdirinya. Ari menyeretnya masuk. Tercium bau alkohol yang tipis. Matanya yang merah terbuka setengah.

"Heh!" Ari menjitak kepalanya keras. Alex mengerang. "Siapa yang ngajarin lo minum-minum norak kayak gini!"

"Elo..." jawabnya. Suaranya serak.

"Sama siapa barusan??"

"Sama hati gue yang hancur berkeping-keping..." Alex lalu tertawa, masih setengah sadar. Ari yakin sesuatu yang salah baru saja terjadi pada Alex.

"Cepet cuci muka dulu, biar lempeng otak lo." Ari membopong tubuh Alex yang berat menaiki tangga. Ari tidak melakukan apa-apa seharian tapi tenaganya untuk memapah sebelah tubuh Alex saja hampir tidak cukup.

"Nggak butuh... gue nggak butuh apa-apa lagi..." ocehnya, terseret dengan susah payah memasuki kamar mandi khusus pengunjung di area kedai.

"Mabok, tuh yang keren gitu, loh. Jangan alay gini. Kalo fans lo tau kelakuan lo kayak gini bisa-bisa kabur semua mereka, tau nggak?" Ari menutup pintu kamar mandi setelah melemparkan handuk bersih dan menyalakan keran wastafel.

Tadinya Ari berniat memasakannya sesuatu seperti Alex biasa membuatkannya sup ayam pedas untuk meredakan pengar. Tapi ketika membuka kulkas di dapur kedai, ia baru sadar bahwa tidak ada yang bisa ia masak meski kulkas dipenuhi bahan makanan. Untunglah ia menemukan sisa Indomie rebus stok pribadi Dannisa di salah satu kabinet.

Sembari merebus mie Ari menebak-nebak apa yang membuat Alex seperti ini. Ari mengenalnya seperti ia mengenal punggung tangannya sendiri. Alex hanya minum bersama teman-teman band-nya sesekali, misalnya dalam undangan pesta, selesai manggung, atau saat mengerjakan sesuatu di studio mereka. Semuanya tidak pernah ada yang membuat Alex sampai wasted begini.

Alex turun dan melangkah gontai ke dapur berkerudung handuk. Ia tampak lebih sadar dari sebelumnya biarpun matanya memerah dan tampak sangat lelah. Hanya memakai kaus putih dan celana jinsnya yang tadi, tubuh kurusnya kelihatan lebih berisi. Rambutnya yang basah membuat ayam di perut Ari mengepak-ngepak gila.

"Makan seadanya, ya." Ari duduk di pantry dan menyodorkan mangkuk mie instan yang mengepul ke hadapan Alex. Ia ikut duduk.

Alex menghela napas berat. "Gue lagi nggak pengen makan."

"Cuma ada itu. Cepet makan."

"Lo aja yang makan." Alex membaringkan kepalanya di permukaan keramik pantry yang dingin.

"Gue baru makan Indomie kemarin."

Alex menegakkan duduknya kembali dan menatap Ari dengan wajah lesu dan mata merahnya.

"Lo kenapa sih, menyedihkan begini?" tanya Ari saat Alex akhirnya dengan malas meraih sendok dan garpunya.

"Gue putus sama Tika."

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang