(27) The Breaking Ice

53 13 0
                                        

Dari semua keputusan yang ayahnya buat--tanpa persetujuan Ari tentu saja--keputusan ini adalah yang paling Ari benci. Keputusan untuk tetap tinggal di rumah mereka yang lama setelah ibunya meninggal alih-alih membeli rumah baru yang lebih kecil. Terlebih barang-barang ibunya masih tersimpan rapi di gudang. Ari tidak mau siapapun menyentuh barang-barang itu. Tapi ia tidak juga bisa melihatnya teronggok di gudang seperti masih menunggu pemiliknya pulang. Ia harus rela merasa disayat-sayat setiap momen seperti ini terjadi. Momen ia kembali ke Jakarta dan tidur di rumah.

Sebenarnya Ari sangat bisa berangkat dari Bandung menjelang sore hari dan tiba di Dharmawangsa beberapa menit sebelum jam makan malam dan langsung pulang begitu ia menyelesaikan dessert-nya. Pulang dan pergi tengah malam dengan bus atau travel pun ia rela. Tapi ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk makan malam bersama Harry kali ini dengan datang sehari sebelumnya, menginap semalam, plus berdandan rapi lengkap dengan sepatu yang paling mengkilap. Kenapa Ari harus repot begitu? Karena ada Agnar yang mereka ikut sertakan. 'Anak baru' Papanya.

Harry bilang ada beberapa alasan mengapa mereka harus makan malam dengan Agnar di rumah:

1. Kesuksesan Agnar yang baru saja selesai meeting dengan Harry dan bos-bos besar lain yang tidak pernah Ari ingat namanya.

2. Hari ini Agnar berulang tahun yang ke-33

3. Harry ingin merayakan 100 hari 'hubungan'-nya dengan Agnar.

Alasan nomor tiga sungguh membuat Ari ingin mencabut baterai ponselnya dan mengunyahnya bulat-bulat ketika Harry memberi tahu rencana itu lewat telepon seminggu lalu. Ari tak habis pikir. Agnar yang baru saja ditemuinya beberapa bulan diperlakukan seperti anak pertama. Harry malah tidak pernah merayakan ulang tahun Ari apalagi sengaja menyediakan waktu dan tempat demi acara apapun untuknya. Yah, mungkin terkecuali acara pernikahannya suatu hari nanti, itupun jika ia menikah dengan laki-laki pilihan Harry.

Agnar dan Harry pulang bersama lebih cepat setengah jam dari janji. Pukul tujuh mereka berdua akhirnya tiba dan menemukan Ari duduk manis di ruang makan. Seperti biasanya, Agnar tampak mempesona dalam setelan kebangsaannya: suit pants, necktie, and plain shirt with the rolled-up sleeves, menunjukkan urat-urat lengannya yang bertonjolan. Sepertinya mau kerja bangunan pun Agnar akan tetap kelihatan segar dan makin seksi setelahnya, pikir Ari.

Harry mempersilakan Agnar duduk sementara ia berganti baju sebentar. Tanpa ragu, Agnar mengambil duduk di sebelah Ari, di seberang Harry dan sebuah kursi kosong. Fokus Ari lagi-lagi dikacaukan oleh aroma manis tubuh Agnar yang menguar ketika ia bergerak. Wanginya ini secara resmi menjadi kelemahan Ari yang utama.

"Happy birthday," Ari berkata pelan, mengeluarkan sebuah kotak sedang yang sedari tadi ia pangku.

"Kejutan? Di umur segini?" Agnar terlihat terkejut dan senang. Wajahnya semakin berbinar-binar ketika ia membuka kotak itu. Jaket denim hitam dengan efek belel dan bordir tengkorak Kuelerton besar di punggung. Hasil temuannya di pasar loak ditambah sedikit usaha menempel patch sendiri. Sulit untuk tidak membayangkan Agnar di luar balutan kemeja putihnya seperti biasa tapi ia sangat ingin melihat Agnar tampil lebih santai dan sedikit rebel. Jadi inilah yang dia lakukan ketika Harry memberitahu ia harus setidaknya menyiapkan kado kecil untuk Agnar.

"Makasih, ya," Agnar menepuk bahu Ari pelan. Ari tadinya mengira Agnar akan menciumnya sebentar, di pipi setidaknya, seperti kebanyakan reaksi pria-pria teman kencannya dulu. Namun Ari belum lupa. Agnar nyaris tidak pernah menyentuhnya.

Di kencan-kencan mereka yang cuma seminggu sekali belakangan, Agnar bersikap santai-santai saja. Di dalam mobilnya, di lift, di dapur kedai yang tergolong kecil, ketika makan berdua, malah ketika mereka duduk bersebelahan di sofa di lantai dua kedai, hampir menandaskan sebotol wine, Agnar tidak melakukan apapun dan tetap sadar sementara Ari sudah merasa terbang malam itu. Ari frustrasi dibuatnya. Jenis frustrasi campuran rasa gemas dan penasaran. Berkali-kali ia ingin melompat saja pada Agnar, melakukan hal-hal fisikal yang bisa ia pikirkan. Tapi ia menahannya. Karena jika ini adalah permainan tarik tambang Agnar, maka Ari harus menang dengan skor sempurna.

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang