(9) The Not-So-Meet Cute

90 16 4
                                        

Di luar book cafe kecil bernama Emeraldine itu, Dannisa berdiri, menimbang-nimbang. Ia baru saja tiba pukul 11 lalu. Sudah 15 menit ia hanya mondar-mandir di depannya, kadang duduk di bangku-bangku rotan di teras. Acara grand opening kafe sebentar lagi dimulai. Beberapa orang masuk berdua-dua atau bertiga.

Dannisa menatap secarik kertas di tangan yang ia robek dari buku catatannya. Jika saja ia tahu segmen impromptu reading ini akan jadi sebegini mendebarkan, ia tidak akan jadi datang.

Awalnya Dannisa tertarik karena kafe ini baru buka dan ia pikir konsepnya menarik. Sebagai orang yang bertugas mengurus soal marketing kedai mereka nanti, Dannisa merasa ia perlu cari ide di lapangan. Tapi rupanya kafe itu menawarkan hal lain dengan mengadakan segmen impromptu reading bagi yang berkenan memasukkan tulisan pendeknya pada pihak kafe. Tulisan yang terpilih dapat dibacakan langsung oleh penulisnya di atas panggung. Semacam open mic, katanya.

Dannisa tidak masalah meski tulisannya terpilih untuk dibacakan di panggung nanti, ia merasa akan senang-senang saja. Sudah lama ia tidak melakukan sesuatu dengan hasil karyanya. Tetapi itu hanya jika ia tidak datang seorang diri.

"Siap masuk, Kak? Acaranya mulai sebentar lagi." Seorang gadis dengan tanda pengenal panitia tersenyum ramah dari ambang pintu.

Ayolah, ini cuma acara kecil. tidak akan terjadi apa-apa, batinnya. Ia berjalan dengan mantap ke arah gadis itu sambil menyerahkan carikan kertas yang hampir kusut. Tulisan lama yang entah sudah berapa lama mengendap di buku catatannya.

"Selamat datang." Si gadis kemudian memberikan freebie dalam sebuah kantung kertas berwarna hijau zamrud dengan logo dan nama kafe.

Dannisa memandang berkeliling. Kafe kecil itu mulai penuh dengan pengunjung yang kebanyakan adalah perempuan muda seperti dirinya. Kursi-kursi rotan disusun menempel di dinding, membuat ruangan jadi lebih luas untuk para pengunjung yang berdiri mengobrol sambil menyantap kue kecil atau memegang gelas kertas di tangan. Di seberang ruangan, ada sebuah kursi kayu antik dengan bantalan, sebuah meja kecil yang serasi, dan sebuah mikropon lengkap dengan tiangnya. Dengan latar belakang rak buku setinggi langit-langit, ia menyimpulkan bahwa bagian itu adalah panggung tempat pengisi acara akan melakukan pembacaan dan lain-lain.

Ia sedikit gugup. Di area bar, Dannisa memesan segelas iced americano pada seorang barista lalu duduk menunggu di salah satu kursi tingginya sembari mengamati orang-orang yang mulai berkumpul di sekitar panggung. Seorang laki-laki dengan resmi membuka acara. Kegugupannya tidak dapat dijelaskan namun di tempat itu, Dannisa menemukan airnya. Tempatnya merasa hidup.

Salah satu pengisi acara yang merupakan bintang tamu membacakan penggalan esai yang ditulisnya untuk sebuah jurnal sastra. Dannisa membolak-bolik jurnal yang sama di tangannya, membaca sekaligus mendengar sesi pembacaan itu seperti ia membaca sambil mendengarkan musik. Ini musik yang sempurna baginya dan Dannisa hanyut, lupa bahwa tadi ia mengkhawatirkan carikan kertasnya di tangannya.

Setelah pembacaan sebuah penggalan esai berjudul "In the Dark of the Morning", pembawa acara mengambil alih panggung. Dannisa menyedot kopi dinginnya banyak-banyak. Tenggorokannya kering. Ia gugup. Si pembawa acara mengumumkan sebuah nama dari secarik kertas merah muda di tangannya. Seorang gadis kemudian naik ke panggung, tampak malu-malu. Begitu seterusnya selama sekitar 30 hingga 45 menit setelahnya. Ia merasa selamat.

Namun, begitu seorang pria bertubuh tambun, pembaca keempat selesai, si pembawa acara kembali ke panggung.

"And our last impromptu reader is..." Kali ini Dannisa meneguk habis isi gelasnya. "Dannisa Djuhara."

Dannisa menoleh cepat ke arah panggung. Panik menyerangnya. Semua mata mencari-cari di mana kiranya seseorang bernama seperti namanya itu berada. Dannisa berniat pura-pura tidak dengar lalu menyelinap kabur dari situ. Tetapi ternyata beberapa orang yang duduk di bar bersamanya menyadari kegelisahannya dan mulai menebak bahwa ia adalah orang yang mereka panggil. Secara otomatis seperti efek domino, semua orang menatapnya.

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang