(29) Apricity

62 12 1
                                        

*Apricity: (n) warmth of the sun; basking in the sun.


Sepanjang masa pertemanannya dengan Ari, belum pernah Dannisa merasa setegang itu mengantisipasi kedatangannya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka berada dalam satu ruangan yang sama dan Ari menyadari Hanan tidak datang ke kedai lagi. Dannisa tidak akan sanggup menahan ketegangannya sendirian. Ia tidak yakin surat dokter yang ada di sakunya saat ini akan membantu alibi Hanan. Tidak semudah itu.

Sekujur tubuh Dannisa serasa disiram air es ketika Ari memasuki kedai sembari menyenandungkan sepotong lirik dari band pop 60-an favoritnya yang tidak seorang pun mengerti. Dannisa beruntung doanya agar suasana hati Ari selalu dalam keadaan baik masih dikabulkan sampai hari ini. Tapi apakah kesaksian Alex akan bocor sebelum Dannisa yang bicara lebih dulu, ia tidak tahu.

"Lagi ngapain, Dan?" tanyanya saat ia melintasi konter dan Dannisa sedang memegang sebuah cangkir biru beserta tatakannya.

"Mau bikin kopi."

"Lo kan nggak minum kopi?"

"Buat meja itu." Ari melihat ke meja jendela yang Dannisa tunjuk.

"Kenapa? Hanan mana? Telat lagi? Sejak kapan dia sering telat gini?"

Jantung Dannisa berdegup cepat, rasanya nyaris melewati satu detak. "Sakit." tukasnya.

"Lagi? Suratnya ada?"

Dannisa menyodorkan sebuah amplop putih yang ia terima melalui Amir, salah satu dari dua karyawan baru Sunday Morning. Tadi pagi ia menerimanya dari seseorang yang Amir bilang seorang wanita paruh baya. Ari mengeluarkan secarik surat dari dalamnya dan membacanya sekilas. Tampak tidak puas.

"Nggak bisa gini melulu, nih," desahnya.

"Namanya orang sakit, Ri... Dia juga pengennya masuk kerja terus gue yakin. Lagian dia kan sibuk ku--"

"Kita asuransiin dia aja gimana? Sebagai employer kita nggak bisa diem aja karyawan sakit mulu gini. Atau kita naikin gajinya, kita kasih dana hiburan. Dia stres kerja ama kita jangan-jangan. Amir juga harus mulai kita ajarin jadi barista. Gimana menurut lo?"

"Bener," sambar Dannisa. Keringatnya terasa jelas menetes di pelipis.

Ketika itu Evita muncul dari lantai dua. Membuat kelegaannya berumur pendek, "Dannisa, pesenan iced caramel latte buat di atas mana? Udah lebih 10 menit katanya."

Dannisa kelabakan mencari gelas tinggi di rak bawah konter. Hampir saja cangkir di tangannya tergelincir dan jatuh.

"Gue aja," dengan sigap Ari mengenakan apron yang tersampir di dinding bata dan mengambil alih gelas dan cangkir dari tangan Dannisa.

"Loh, Hanan ke mana? Belom dateng?" Evita turun menghampiri mereka berdua.

Cepat Dannisa mengambil amplop putih yang Ari geletakkan di atas konter lalu menyerahkannya. Kepanikannya kembali membanjir.

"Tipes? Seriusan ini? Tapi terakhir kali kita liat dia nggak ada gejala apa-apa." Evita meneliti surat itu bagai meneliti sebuah artefak berusia ratusan tahun.

"Dia jadi semacam zombie gitu terakhir gue liat. Lo nyadar nggak, Dan?" sembari memasang coffee dripper Ari bertanya.

"Gue? Lo tanya gue?"

"Ada sesuatu pasti, kan?"

"Sesuatu kayak apa maksudnya? Gue... gue nggak paham."

"Kenapa lo gemeteran gitu?"

"Eh, sebentar, deh."

Pandangan Evita melayang pada sesuatu di luar jendela. Seperti ada yang memperhatikannya dari sana. Namun ketika Evita keluar dan menghampirinya, ia tidak menemukan apapun selain pejalan kaki yang berlalu lalang.

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang