(37) The Gateaway

50 10 1
                                        

Senin dini hari itu, tepat pukul 02.30, Dannisa berjingkat-jingkat keluar dari kamarnya. Berharap tidak membangunkan Ari. Di luar kedai, di trotoar jalan yang remang-remang dan kosong, Hanan sudah menunggunya sesuai janji. Ia menyandang dua ransel. Satu ransel merah yang biasa ia bawa ke mana-mana, satu lagi ransel yang lebih kecil. Senyumnya terkembang sewaktu melihat Dannisa berdiri di ambang pintu hijau kedai.

"Jangan lama-lama, ya. Saya masih ngantuk." Dannisa menguap lebar.

"Kamu mau begini aja?"

"Apanya?"

Hanan menelengkan kepalanya, kelihatan menimbang-nimbang sesuatu.

"Ada bagusnya juga saya punya ide belanja baju kemarin," ia cengar-cengir sendiri. Diserahkannya ransel kecil yang ternyata padat terisi itu pada Dannisa.

"Nan, saya nggak ikut-ikutan, ya sama apapun rencana kamu kali ini."

"Yakin? Saya baru mau mengabulkan permintaan kamu, loh."

"Permintaan apa lagi..." Dannisa urung protes melihat senyum Hanan yang makin lama makin lebar. "Apapun itu permintaan saya, saya cabut lagi. Anggap aja saya kaleng rombeng entah kapan itu."

"Jin botol nggak gitu cara kerjanya. Ayolah... Kamu percaya sama saya, kan?"

Dannisa menatap Hanan di mata. Tidak pernah ia meragukan apapun yang terbaca dari sana. Bahkan hal paling gila dan paling tidak mungkin sekalipun.

Sewaktu Dannisa tidak juga menjawab, Hanan menggenggam tangan Dannisa kuat-kuat dan, seperti yang berulang kali terjadi, Dannisa membiarkan Hanan membawanya pergi. Kali ini mereka tidak berhenti di tempat terdekat. Melainkan terus, menuju tepi pulau Jawa.

***

Dannisa tertawa pahit membaca tulisan yang terpahat di gerbang masuk daerah: Taman Jaya, Banten. Rasanya ia masih tertidur di kamarnya, di sebelah Ari, dan belum terbangun hingga sore ini. Di sebelahnya, Hanan belum pernah tampak seceria itu. Jika biasanya ia kelihatan seperti orang yang paling tidak punya beban di dunia, hari itu kalikan tiga maka seperti itulah penampakannya sepanjang jalan. Kontras sekali dengan Dannisa yang tidak berhenti mengomel dan menggerutu panjang lebar dan berkali-kali mengancam akan turun di tengah jalan.

"Ini, sih sama juga psychopathic namanya!" Dannisa berseru begitu mereka berdua menginjakkan kaki di Taman Jaya pukul dua siang, berdiri di dermaga menunggu kapal yang akan membawa mereka ke Pulau Peucang bersama enam orang wisatawan lain.

"Siapa yang kemaren bilang pengen kabur dari kota?"

"Ya, tapi nggak gini juga!" Dannisa berkacak pinggang, napasnya memburu karena kesal sekaligus tidak percaya dengan apa yang sedang ia lakukan bersama kelinci batre satu ini, "pintu kedai belom sempet digembok lagi! Sama Ari juga nggak bilang apa-apa!"

"Kamu harusnya bersyukur karena saya nggak bawa kamu ke Flores. Kalo minggu lalu koneksi internet saya nggak tiba-tiba putus selagi saya book tiketnya, sekarang ini kita lagi di pesawat, loh," jelas Hanan kalem. Dannisa mendesah. Tidak tahu mana di antara dua pilihan itu yang lebih ia syukuri.

"Beneran, deh, pulang dari sini saya nggak mau lagi main sama kamu."

Dannisa berlalu, berjalan ke arah sebuah kapal kecil yang baru saja menepi. Hanan tertawa melihat Dannisa berusaha naik sendiri ke kapal yang bergoyang-goyang tetapi menolak bantuan pengemudi kapal dengan gengsinya yang luar biasa tinggi.

"Liat aja nanti siapa yang nggak pengen pulang dari sini," Hanan bergumam. Senyum puasnya tidak bisa disembunyikan.

***

Akhirnya, tengah hari itu, Dannisa betulan percaya dirinya belum bangun tidur dan masih bermimpi. Di hadapannya adalah laut biru jernih yang batasnya dengan langit nyaris tidak nampak. Perjalanan selama empat jam itu membuat Dannisa sadar bahwa bumi yang ia tinggali ternyata jauh lebih luas dari yang biasa ia pijak. Dalam kekagumannya dalam diam ia menyesali karena tidak datang sejak dulu sekali. Dannisa otomatis memicingkan mata karena siraman matahari terik di pipi kirinya ketika kapal berbelok. Sinarnya terasa panas sekejap di kulit. Lalu ada bayangan yang menghalangi. Ia membuka mata.

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang