(41) Exulansis

48 10 3
                                        

*Exulansis: (n.) the tendency to give up trying to talk about an experience because people are unable to relate to it.


"Ya, ampun!" Alex terlonjak begitu ia menuruni tangga dari lantai dua dan menemukan Ari duduk santai di sofa ruang TV dengan dua kaki terlipat, "Nyet, kalo dateng bikin suara, kek jangan kayak jin gitu ujug-ujug muncul."

"Kapan lagi, kan gue bisa kayak jin begini," jawab Ari sambil nyengir lebar.

"Untung nggak gue sembur."

"Kulkas lo kosong, kan? Gue titip, ya?" Ari mengangkat tangannya yang membawa satu pak bir kaleng tinggi-tinggi, "gonna have an after-lunch party."

"Agnar mana?"

"Di Jakarta, lah. Lo pikir dia bakal keliaran di sini, tengah hari, weekday gini? Emang elo, hari gini masih belom mandi. Belom mandi pasti, kan? Dari kapan? Kemaren lusa?" Ari berjengit melihat rambut gimbal Alex yang terurai sampai bahu.

"Terus ke sini sendirian?"

Ari mengangguk ringan, diraihnya remote TV dari atas meja kopi dan mulai memencet-mencet tombol setiap sedetik sekali, mencari saluran.

"Masak nggak lo, Lex? Gue laper."

"Ke sini nyari makan lo? Seriusan?"

"Kok, kayak yang kaget gitu? Utang lo kalah taruhan, kan masih ada. Gue udah berbaik hati, nih berhari-hari lo absen masakin gue. Bersyukur, kek gitu lo nggak harus jauh-jauh ke kedai nganterin makanan gue dan nggak usah bayar utang masak lo berkali-kali lipat."

Alex melengos ke dapur, "yang kayak gini mau kawin? Itu laki udah nggak waras apa, ya?" gumamnya.

Sambil mengomel panjang lebar dalam volume rendah, Alex berlalu ke dapur yang berada di belakang ruang TV. Sementara Ari pura-pura tidak dengar semua ocehan Alex tentang sense Ari yang berani-beraninya bawa satu pak bir di siang bolong panas begini, tentang bawang daunnya yang mudah layu, tentang microwave tuanya yang berdegung setiap disetel lebih dari 30 detik, dan banyak lagi.

Tidak sampai 20 menit kemudian meja makan Alex telah penuh dengan mangkuk-mangkuk dan piring kecil lauk pauk yang tampak seperti sisa makanan yang dikeluarmasukkan dan dipanaskan selama seminggu penuh. Ari menyadari bahwa pada faktanya memang Alex memanaskan semua sisa lauk pauk yang ada di kulkasnya dan ia tidak merasa ingin komplain apa-apa setelah tadi mengintip kulkas Alex yang laci sayurannya nyaris kosong.

"Gue nempatin satu lagi apartemen Agnar yang kosong di sini. Nggak jauh dari kedai. Katanya itu buat gue dan dia kalo lagi di Bandung," Ari berucap, membuka pembicaraan di sela kunyahan cah kangkung dan telur puyuh pertamanya.

"Istilah 'buat lo dan dia' itu maksudnya apa?" Di seberang meja, Alex bertopang dagu, menyaksikan Ari makan dengan lahap.

"Gue sendiri masih cari tahu."

"Lo pindah dari kedai? Dannisa sendirian, dong?"

Ari mengangguk. "Agnar minta gue jagain apartemen barunya. Gue udah coba ajakin Dannisa tapi dia nolak."

"Jadi cuma ada kalian berdua doang?"

Ari balas menatap Alex lurus, "emang kenapa?"

"Ya, nggak kenapa-kenapa, sih."

"You know me well, kan, Nyet. I don't go around sleeping with just anybody."

"But he's not just anybody."

"Yes. That's why I slept with him."

Alex bergumam mengerti. Ari merogoh tas kepitnya lalu mengeluarkan sebuah anak kunci tanpa gantungan dan meletakkannya di atas meja.

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang