(58) Coalesce [END]

333 12 5
                                        

*Coalesce: (v.) come together to form one mass or whole.


Ari nyengir lebar pada cangkir latte-nya. Racikan terbaik yang ia buat sejak Sunday Morning berdiri tiga tahun lalu. Ke mana saja ia selama ini? Ia merasa dulu seharusnya ia menghabiskan lebih banyak waktu di balik konter dan coffee grinder dan lain-lain ini alih-alih duduk di balik komputernya dan mengklik berhalaman-halaman artikel dan mencari tahu segala macam trik penjualan.

This is her hit of the year setelah account outlet Bottega Veneta yang ia pegang kemarin. Serta kebangkitan kembali Geng Sarapan sesudah berbulan-bulan lamanya. Ari tertawa kecil sembari menuang air panas ke dalam cangkir berikutnya. Bukan karena kesuksesannya tapi lebih karena hari ini excitement-nya naik ke level tertinggi.

Ia membawa tiga cangkir itu dengan nampan ke dekat jendela toko di mana dua buah meja bundar kecil disatukan dan dikelilingi tiga kursi di antara kursi-kursi yang sudah diturunkan dan meja yang sudah digosok hingga mengilap. Semua demi anniversary Sunday Morning yang kedua ini.

Baru saja Ari duduk, sebuah telepon masuk.

"Gue nyampe sana 5 menit lagi. Gocar-nya kayak siput banget hari ini. Bete gue." Ujar suara berbisik di seberang telepon.

"Masih di jalan, Dan? Hari ini? Jam segini??" Ari bertanya, tidak percaya.

"Evita juga belom sampe, kan? Sante aja lah... Nggak mungkin banget dia dateng cepet selagi jetlag begitu."

Dannisa mengomel lebih jauh soal bagaimana ia harusnya punya motor sendiri dan mengeluhkan royaltinya yang dibayar terlambat.

Ari menambahkan sebuah vas kecil berisi setangkai lili putih di antara piring buah potong, gelas dan cangkir, teko susu, roti panggang, setoples selai jeruk, sepiring english breakfast, semangkuk oatmeal dengan potongan kiwi, dan semangkuk bubur ayam. Ralat. Semangkuk besar bubur ayam. Tidak perlu tanya siapa yang pesan bubur ayam porsi kuli itu. Ari memandang meja itu dengan senyum puas.

Sementara itu di ujung jalan, Evita bersenandung ringan dan pelan. Sudah macam turis yang baru masuk Bandung dan kagum-kagum sendiri dengan bangunan-bangunan tua di sekitarnya itu.

Masa bodoh dengan jalan Leidsegracht atau Brouwersgracht di Amsterdam, pikirnya. Atau Orderberger Strasse di Berlin atau The Shambles di Inggris atau kanal-kanal indah tak terhitung di Venesia. Evita sudah cukup melihat banyak jalan. Tapi hanya jalan itulah yang selalu ia rindukan bahkan di sela-sela perjalanannya selama setahun terakhir. Berjalan di trotoar itu, di antara tiang-tiang bendera Gedung Merdeka, adalah apa yang selalu ia rindukan seusai menyusuri jalan-jalan indah di Eropa itu. Jalan-jalan di sana tidak ada apa-apanya dengan jalan yang nyaris setiap hari ia lewati ini.

Ini cuma jalan biasa memang. Orang-orang lain melewati jalan ini setiap hari atau mungkin ribuan kali selama hidupnya, mungkin pula tinggal di sini, lahir dan besar di daerah ini, hafal setiap sudut dan ceruk. Setiap bangunan, kecil dan besar, terpencil dan terbuka, tua dan baru, cuma bangunan yang biasa orang-orang lewati. tapi ketika ia berbelok, satu bangunan di depan sana itu, bukan cuma bangunan toko yang biasa. Itu rumahnya. Rumah mereka.

Kemana pun mereka, terutama dirinya, pergi, sebanyak apapun tempat ia lihat, tempat ini tetap jadi pelabuhan terakhir. Lebih menyamankan dari pada para kekasih.

Beberapa meter sebelum Sunday Morning, langkah Evita terhenti. Di hadapannya sesosok yang akrab keluar dari sebuah sedan hitam yang menepi dan ikut berhenti ketika mendapati Evita berdiri mematung. Ia ingin tertawa pada dirinya sendiri dan pada nasib.

"Setahun aku ngindarin kamu, dan setahun aku pergi dan baru pulang lagi hari ini," Evita menghela napas berat, "Semua usaha aku jadi kayak sia-sia gini ya, Jun."

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang