(30) The Surrender

58 11 1
                                        

Ari dan Alex sampai di The 18th hampir pukul setengah delapan. Salahkan macetnya, atau seperti kata Alex, salahkan Agnar yang membuat janji di jam-jam rusuh begini. Segera saja Ari meng-counterattack-nya dengan 'salahin diri lo sendiri yang setuju-setuju aja janji di jam rusuh'. Lalu perdebatan berakhir.

Malam ini tingkat kebawelan Alex menanjak drastis sama seperti menanjaknya tekanan darah Ari mendengar ocehannya soal Agnar yang katanya sok sibuk bolak-balik Bandung-Jakarta-Singapura tapi secara tidak masuk akal masih bisa menemani Ari sekadar makan siang satu, dua kali seminggu. Ari memutuskan untuk pura-pura tidak dengar saja kalau soal itu.

"Kamu cantik banget," sapa Agnar pelan, ketika ia menarikkan kursi di sebelahnya untuk Ari, di seberang teman wanita yang datang bersamanya.

Ari terkekeh, "nice try. But I'm not buying."

"Nggak, aku serius. Biasanya cantik tapi malem ini paling cantik."

"Thank you. You don't look so shabby yourself," balas Ari disertai senyum jahil.

"Nah, ini temen SMA aku waktu di Jakarta, Ri, Lex. Namanya Ingrid," ujar Agnar sebelum Ari jadi duduk.

Dalam satu kali pindaian Ari, gadis berambut sebahu ini boleh juga. Cantik, seksi, pandai berdandan, dan kelihatannya cerdas. Quite well-off jika dilihat dari tas kepit Alexander McQueen warna merah darah yang disimpannya di atas meja. Ingrid punya aura yang membuat orang akan betah berlama-lama berdekatan dengannya. Kartika kalah telak kalau urusan aura walau dulu Ari baru beberapa kali saja melihatnya dari kejauhan.

Tanpa bisa Ari kendalikan, jantungnya berdetak sangat cepat, mengantisipasi kalimat Agnar selanjutnya, sebagai siapa Agnar akan mengenalkannya.

"Ingrid, ini temen-temen gue. Ari dan Alex." keduanya bergantian berjabat tangan dengan Ingrid.

Temen? Ari tersenyum puas.

"Oh, Ari yang ini? Arianne Jusuf, kan? AE-nya Warren?"

Ari berusaha keras mengingat-ingat sosok Ingrid tapi tidak berhasil.

"Masih di Warren? Gue Ingrid, ICON magazine? 9th year anniversary?"

"Oooh... Iya, iya, gue tau." Ari teringat pesta di Shangri-La Hotel dua tahun lalu itu, "luar biasa, ya bisa ketemu di sini. Kayak gini pula."

Dengan 'kayak gini' Ari maksud adalah pertemuan berempat yang tidak ia harapkan seujung kukupun.

"Ingrid ini fans Carousel Project, loh." Agnar berujar lagi.

"Masa'? Wah, Akhirnya..." dengan wajah berseri Alex menyalami Ingrid untuk yang kedua kalinya, "posisi presiden fanclub kita masih kosong kebetulan. Kalo minat bisa langsung daftar dan langsung kita angkat."

"Jangan lupa sebelum itu minta restu gue dulu sebagai Board of Director-nya." Ari berdehem. Yang lain tertawa tetapi Ari tetap dengan wajah datarnya. Ia tidak merasa bercanda.

"Kalian udah temenan berapa lama?" di tengah suapan beef carpaccio-nya, Ingrid memulai topik lain setelah topik tentang pekerjaan baru Agnar di Warren selesai dengan Ari yang tidak terlibat sama sekali.

"Kita?" Alex melempar pandang pada Ari di seberang meja, "14, 15 taun? Dari kita umur 12 atau 13-an."

"Mereka ini tetanggaan waktu di Jakarta dulu," tambah Agnar.

"Oh, ya? Keren banget... Gue pengen banget punya temen lama kayak gini. Seru pasti, kan? Pernah ngapain aja?"

"Aku juga pengen tahu itu," Agnar tampak lebih antusias dari pada Ingrid. Ari menyeringai penuh percaya diri.

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang