"Aku tungguin, ya? Udah malem, sepi pula di sekitar sini," ujar Juno yang menyetiri Evita malam itu kembali ke kedai sepulang makan malam mereka.
"Iya," Evita menjawab pendek.
"Cuma mampir, kan?"
"Iya."
"Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa," tukas Evita masih sama datarnya.
Juno mendesah, "aku nggak pernah jago main tebak-tebakan begini, Yang. Kamu masih marah soal waktu itu?"
"Yang marah, kan kamu. Kenapa jadi aku?"
"Kamu juga," sahut Juno ketus. Atmosfir memburuk bagi suasana hati Evita yang belum juga membaik sejak pertengkaran mereka minggu lalu.
"Dia pulang ke Indonesia, kok kamu nggak kasih tahu aku?" tanya Evita setelah sunyi lama dan Juno hanya menyetir dalam diam tanpa radio atau musik.
"Siapa?"
"Siapa lagi?"
"Siapa, Evita?"
"Eliza. Siapa lagi yang selalu kita sebut 'dia'?"
Evita teringat apa yang ia lihat kemarin. Apa yang membuat suasana hatinya yang mulai membaik malah bertambah buruk. Ia menelepon ponsel Juno kemarin petang untuk bertanya pukul berapa Juno akan menjemput karena pesan-pesan instannya tidak satu pun berbalas sejak sore. Evita menelepon beberapa kali hingga akhirnya diangkat. Tetapi itu bukan Juno.
"Halo? Ini siapa?" suara seorang gadis kecil di ujung telepon. Ramai sekali di seberang sana.
"Ini temennya Juno. Juno-nya ada?" ragu-ragu Evita menjawab.
"Om Juno lagi pergi anter Tante El pulang."
Evita tidak ingin tahu siapa gadis kecil yang mengangkat teleponnya. Dugaannya gadis itu adalah salah satu dari sekian banyak sepupu kecil Juno yang kebetulan sedang ada di rumahnya atau di manapun Juno tadinya berada dan ponselnya ketinggalan. Ia tidak peduli. Yang menyita fokusnya seketika adalah satu fakta yang tidak pernah bisa ia kompromikan dan tidak pernah bisa membuatnya tenang berapa kalipun ia mendengarnya.
Eliza pulang ke Indonesia.
Ia benci nama itu. Ia benci nama itu ditambah kenyataan bahwa orang itu kembali. Dan, nama Juno masih disebut-sebut dalam satu kalimat yang sama dengan nama itu.
Beberapa ratus meter sebelum Sunday Morning, Juno menepikan mobilnya. Jalanan malam itu terlalu sepi untuk ukuran hari kerja pukul delapan.
"Sampe sekarang aku masih belom ngerti kenapa kamu selalu ngelak untuk jelasin setiap pertanyaan aku soal El."
"Karena kita cuma akan berantem lagi."
"Sama aja, dong kalo gitu. Kamu ngomong atau nggak El akan selalu jadi sumber masalah," cecar Evita cepat.
"Berhenti bilang El begitu."
"Jun, aku mau tanya, deh. Sebenernya yang pacar kamu itu aku atau Eliza?"
"Buat apa buang-buang tenaga tanya begitu?" gerutunya.
"Tuh, kan. jawab yang begitu aja nggak bisa." Ada setetes air di sudut mata Evita yang ia tahan mati-matian agar tidak menitik. Evita tidak ingin Juno melihatnya menangis. Juno tidak suka itu dan ia tidak suka melihat Juno makin kesal karena tangisannya.
"Kamu, Evita. Kamu yang pacar aku, bukan El. Udah puas?" Juno mengeraskan suaranya dan menekan kalimatnya.
"Kalo gitu kenapa??"
"Kenapa apa lagi, sih? El pulang sebentar dari Belanda untuk ngurusin kerjaannya di kantor sini terus dia main ke rumah aku pas aku masih di kantor. Pas aku balik, aku dimintain tolong nganter dia pulang. Terus handphone aku ketinggalan. Kamu nggak tanya apa-apa soal dia sampe sekarang jadi aku juga nggak cerita apa-apa."
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Sunday Morning
Romance3 sahabat sepakat untuk meninggalkan hidup yang kacau dan memulai rencana ternekat dalam hidup mereka: membuka kedai kopi. Ari, gadis populer berjiwa bebas, Evita, sang hopeless romantic, dan Dannisa, si domba hitam keluarga, berjuang membangun bis...
![[END] Sunday Morning](https://img.wattpad.com/cover/359763321-64-k166741.jpg)