(21) The Calm Before the Storm

65 14 2
                                        

Terbebas beberapa jam dari Sunday Morning beberapa hari lalu membuat Evita berhenti menyerah dengan keadaannya. Hari itu ia kembali berdandan seperti biasa, memilih pakaian terbaiknya, mengenakan sepatu dan wewangiannya yang hanya sesekali dikeluarkan dari koleksi. Menjejak lagi seutuhnya. Ia bahkan meminta waktu sebentar keluar dari kedai untuk berjalan-jalan. Dari semua tempat yang ada, Evita memilih pergi ke toko buku di sebuah mall kecil di pinggir kota, lain dari kebiasaannya.

Jemari Evita menyusuri deretan buku di rak psikologi dan jurnalistik tanpa memerhatikan judul-judulnya. Sebentar saja ia hanya ingin menikmati kesunyian toko buku yang sepi itu. Nyaris tak ada seorang pun di sana kecuali dirinya, beberapa siswi SMA yang membaca buku sambil berbisik-bisik di rak novel, sepasang pria dan wanita muda yang sedang memilih sesuatu di meja new release, seorang kasir, dan seorang pria berkaca mata, berjalan dari arah rak alat tulis, mengepit dua kanvas besar dengan kepala tertunduk pada ponselnya, mengetik sesuatu.

Seorang pria. Berjalan membawa dua kanvas besar. Berkaca mata. Dengan kepala tertunduk pada ponselnya. Tidak ada yang aneh dengan itu. Betul.

Langkah pria itu berhenti di hadapan Evita. Segera Evita menyesali tubuhnya yang tidak bereaksi untuk segera sembunyi di balik rak terdekat.

Really. What kind of situation is this? A universe conspiration? batinnya panik.

"Juno...?"

Sebelum Evita sempat bereaksi lebih jauh, Juno mengangkat kepalanya saat mereka hanya berjarak beberapa langkah. Mereka bertemu mata pada akhirnya. Juno tampak sama terkejutnya seperti Evita. Wajah kakunya yang biasa jadi semakin kaku.

Evita merasakan dirinya tersenyum kecil ke arah Juno. Dari segala hal yang bisa ia lakukan--lari dari situ, sembunyi di balik rak, pura-pura tidak melihat, atau diam mematung seperti di novel-novel picisan dan film drama dengan tambahan efek slow motion dan extreme zoom in, tubuhnya--secara tidak sadar--memberi sinyal pada otak untuk lebih dulu tersenyum kaku. Di atas segala hal.

"Hai." Juno tetap berdiri di tempat. Senyum canggung pada wajahnya.

"Hei... Sama siapa?" lebih canggung lagi, Evita bertanya. Ia tidak menyangka reaksinya akan sebiasa itu.

"Sendiri."

Evita cuma ber-hmm singkat, lalu berujar, "aku duluan, ya, kalo gitu." Akhirnya ia sanggup bergerak, beranjak pergi dengan jalan memutar melewati raknya tadi.

Juno mengangguk kecil dan ikut berlalu pergi. Namun baru saja beberapa langkah, keduanya sama-sama berbalik. Kecanggungan di antara mereka mengental.

"Ada waktu sebentar? Ada yang mau aku omongin," ucap Juno.

***

Sepuluh menit berlalu. Evita menghitung. Es di dalam gelas tinggi teh mereka sudah cair. Tapi belum satu kata pun keluar darinya atau dari Juno yang lebih dulu mengajak bicara. Juno tidak tampak canggung namun tidak pula tampak santai. Udara di sekitarnya terasa berat bahkan dengan kesibukan antrian di kasir kafe dekat meja mereka.

"Mulai bulan depan aku pindah ke agensi baru. Jadi aku pindah ke Jakarta."

"Oh, ya?" Evita tersenyum kecil dan mencoba keras untuk tampak tertarik, "selamat, ya."

Bohong jika Evita bilang kabar itu tidak membuatnya terkejut setengah mati. Tapi pikirannya saat ini sudah tidak karuan. Semuanya jadi satu; kesal, sedih, bingung, senang karena bisa melihat Juno lagi setelah hampir sebulan, dan kecewa karena mungkin ia melihat Juno untuk yang terakhir kalinya. Evita tidak mampu bereaksi lebih dari ini.

"Aku udah selesai beres-beres kemarin, ini rencananya mau langsung berangkat sama temenku di kantor baru, sesudah meeting untuk proyek terakhir."

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang