"Ri," tegur Dannisa dari balik konter, ingin meminta tolong Ari mengambil nampan berisi tiga mok yang mengepul. Kedai sudah kosong lebih awal dan para karyawan sudah dipulangkan. Mereka ingin duduk-duduk sebentar menunggu jam tutup sembari menunggu Alex yang bilang akan mampir sepulangnya entah dari mana untuk beli sekantung kopi bubuk.
Dannisa memanggilnya lebih keras sekali lagi. Tapi Ari tidak dengar padahal jarak mereka tidak sampai dua meter. Tatapannya tampak menerawang.
"Ari," Evita datang dari dapur, ikut menegur.
"Dia abis ngisep sesuatu kayaknya akhir-akhir ini, Vit. Sering nggak sadar gitu. Trance apa, ya."
Evita menanggapi kalimat Dannisa itu dengan mengambil alih nampan di konter dan membawanya ke meja tempat Ari duduk.
"This look, Dan, is what we, 'bride-to-be,' called major pre-wedding mental breakdown. Masukkin ke dalem kamus lo, ya."
"Gue?" Ari akhirnya memandang kedua temannya yang telah duduk mengelilingi meja dengan tatapan sadar sepenuhnya, "gue, sih santai." Ari tersenyum miring.
"Jadi bener lo abis ngisep sesuatu akhir-akhir ini?" Dannisa bersuara. Evita yang sedang menyesap teh dari moknya menyikut rusuk Dannisa.
"Ada yang bisa kita bantuin?" Evita meletakkan gelasnya.
"Kayaknya nggak ada. Entahlah."
"Seriusan? Siapa aja yang ngurusin? Lo doang sama Agnar? Seriusan?" Dannisa membelalak.
"Cukup, kan? Biarpun baru sampe pilih cincin dan template undangan," Ari menjawab sembari memandangi cincin di jarinya puas. "Nyicil dikit sambil nunggu ketemu sama camer."
"Jadinya bulan apa?"
Ari menatap Dannisa dan Evita yang menanti jawabannya bergantian. Kemudian mengangkat bahu. Tak memedulikan kedua gadisnya bertatapan heran, Ari memutar-mutar mok kopinya tenang.
"Vit, ini betulan dia mau kawin?"
"Ya, itu selalu bisa ditentuin sambil jalan, Dannisa." Evita menjawab kalem.
"Lo segitu nggak yakinnya gue mau kawin, Dan?"
Lama Dannisa mencerna pertanyaan itu. Untuk beberapa saat ia hanya bisa menatap Ari dalam-dalam. Mencoba mencari jawabannya di sana.
"Jadi kalian rencananya mau nikah di mana? Jakarta? Singapura?" Evita cepat berkata, merasakan ada sesuatu yang menegang di antara Ari dan Dannisa.
"Gue berharap banget lo bisa settle down sama siapapun itu. Gue, sih seneng."
"Dan gue berharap banget lo bisa santai nanggepin kehidupan orang lain," balas Ari dingin.
"Gue santai, deh menurut gue. Dari mana lo bisa ambil kesimpulan kalo kata-kata gue terlalu menanggapi kehidupan orang lain?"
"Gue yang denger dari tadi. Gue yang tahu lo santai atau nggak."
"Elo, deh yang nggak santai. Vit, ini anak kenapa, sih?" Dannisa kini meninggikan suaranya.
"Tuh, nggak santai, kan."
"Guys... Guys, udah, ya. Santai aja, santai..." Evita memaksakan diri tertawa tapi terdengar amat canggung.
"Lo pasti ngiranya kita nggak tau apa-apa, kan?" Dannisa berkata lagi, tidak mengacuhkan Evita yang menahan lengannya.
"Tau apa? Nggak santai itu belum cukup, jadi sekarang mau sok tahu juga??"
"Ari, udah, deh..."
"Lo cinta sama Agnar?"
"Kenapa? Peduli lo apa?"
"Atau pertanyaan lebih tepatnya, lo cinta beneran sama Agnar?"
"Nggak ada urusannya sama lo," dengus Ari.
"Oh, iya. Kalo itu nggak bisa lo jawab mungkin lo bisa jawab pertanyaan lain," ujar Dannisa dalam nada rendah. Ari menunggu sembari melipat tangan di dada dan menyandarkan punggung pada kursi dengan tenang. "Lo cinta sama Alex, kan?"
Ari berkedip sekali. Goyah. Ia melihat kepuasan di sorot mata dan senyum Dannisa yang tinggi sebelah. Kemudian melepaskan tawa pendek yang kosong. Sementara itu Evita perlahan melonggarkan cengkeramannya pada lengan Dannisa, sama sekali tidak terlihat kaget.
"Kalo mau ngarang di buku lo aja sono. Nggak ada yang punya waktu untuk bullshit semacam itu."
"Semua orang bisa denger dari cara lo ngatain itu bullshit. Bahwa gue bener. Dan itu bukan cuma bullshit. Itu bullshit yang bikin lo kabur dengan cara kawin sama orang lain. Try saying no. Your argument is invalid."
Ari mendesah dalam, "sekali lagi gue bilang, itu bukan urusan kalian," katanya dingin.
"Memang bukan," Evita yang kini angkat bicara. "Silakan bilang kita ini kepo dan sotoy, tapi urusan kita adalah menyelamatkan hidup lo yang cuma satu-satunya itu dari keputusan bodoh lo sendiri. Kita nggak ada masalah lo mau cinta sama siapapun. Abis ini lo mau terus nikahin Agnar pun kita oke. Asal lo selesaikan dulu masalah perasaan lo sama Alex."
"Emang kepo dan sotoy banget, sih kalian," Ari mendengus tertawa. "Nggak ada yang harus gue selesaikan."
"Berhenti nyangkal, deh, Ri."
"Udahlah, Dan. Kewajiban kita jadi temen yang baik cuman sampe di sini aja. Gue mau pulang dan bakal anggap pembicaraan ini nggak pernah ada," desah Evita, mengambil moknya dan beranjak dari kursi.
Dannisa masih bertahan di tempat, lekat-lekat memerhatikan Ari yang pandangannya entah ke mana.
"Gue nggak percaya temen gue ternyata segini pengecutnya," desis Dannisa tajam.
"Kalo gue pengecut terus lo apa? Lo pikir lo aman-aman aja dengan kabur dari Hanan setiap hari sementara semua orang bisa liat perasaan lo buat dia kayak apa??" Sontak Ari menegakkan lagi duduknya.
"Wah... Apa lo bilang barusan??"
"Dan, udah, ah. Nggak perlu jadi jauh banget gini... Sekarang beres-beres dulu terus kita tutup, oke?" Evita berusaha menarik Dannisa yang sudah beranjak dengan mendadak dan membuat bantal kursi jatuh ke lantai.
"Gue dan Hanan nggak ada di posisi yang sama dengan posisi lo dan Alex, ya. Lo nggak tau apa-apa!"
"Gue juga! Gue nggak ngerti harus ngapain sesudah bertahun-tahun sama Alex dan Alex nggak tau apa-apa soal itu..."
"Kalo lo udah memutuskan untuk sama Agnar aja, lepasin Alex... Lo sendiri pasti bisa bayangin perasaan Agnar gimana kalo dia tahu, kan?" ujar Dannisa menghalus. Evita ikut mengiyakan. Keduanya sedikit lega karena fakta itu akhirnya Ari benarkan.
"Kita mungkin nggak ngerti perasaan lo kayak gimana, tapi kita bisa liat dan kita kasian sama lo. Kita mencoba membebaskan lo seenggaknya dari rasa sakit lo biarpun kita nggak bisa bebasin lo dari perasaan itu sepenuhnya. Lo harus sadar kalo itu menyakitkan, Ari..."
"Terus gue harus gimana..." Ari menghela napas berat.
"Ya, bilang!" tukas Dannisa gemas, "Bilang sama Alex kalo lo cinta sama dia! Dan bahwa lo nggak bisa nyimpen perasaan itu terus-terusan sementara kalian mau mulai hidup baru masing-masing. Bahwa lo hampir gila melihara perasaan itu sendiri sementara dia nggak tau apa-apa!"
Dannisa bungkam seketika saat kalimatnya selesai. Ia dan Evita menatap melewati punggung Ari nanar. Ari berbalik untuk mencari alasan mengapa amukannya terhenti begitu saja.
Dari semua orang di bangunan ini bahkan di dunia ini yang mungkin mencuri dengar pembicaraan mereka, orang itulah yang ada di sana. Berdiri mematung dengan tatapan yang entah kosong, entah berisi apa. Dengan suara yang nyaris hanya bisa ia dengar sendiri, Ari tergerak untuk memanggilnya.
"Alex..."
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Sunday Morning
Romance3 sahabat sepakat untuk meninggalkan hidup yang kacau dan memulai rencana ternekat dalam hidup mereka: membuka kedai kopi. Ari, gadis populer berjiwa bebas, Evita, sang hopeless romantic, dan Dannisa, si domba hitam keluarga, berjuang membangun bis...
![[END] Sunday Morning](https://img.wattpad.com/cover/359763321-64-k166741.jpg)