(22) Trouveille

68 13 2
                                        

Waku Ghin, Marina Bay Sand

Do I really do this? dalam hati Ari kembali mengulang pertanyaan yang sama.

Ia merasa sedang bercanda dengan dirinya sendiri. Sekarang setelah ia duduk di restoran ini, di meja ini, duduk di private sushi room ini, di hadapan sebuah bar panjang, di antara kursi ayahnya dan sebuah kursi kosong, Ari merasa sedikit menyesal. Sekarang ia harusnya sedang duduk di Sunday Morning bersama Dannisa, Evita, Hanan, dan Carousel Project. Merayakan peluncuran album baru mereka dan yang paling pokok, menemani Alex meniup lilin ulang tahunnya yang ke-29.

Lagipula apa yang bisa Ari lakukan jika Harry diam-diam memasang iklan bahwa Charmant tua ibunya dijual dengan harga sangat murah dan orang-orang ramai menghubunginya. Rasanya itu sama saja seperti telepon teror. Jadi mau tak mau ia datang ke tempat ini, bersikap manis dan cantik, makan malam, dan selesai sudah. Itu saja. Bisa jadi mudah, pikirnya. Anggap saja ini makan malam rekreasi. Ia tak akan rugi apa-apa. Ia suka tampil cantik dan menggugah dalam balutan gaun pendeknya yang ketat. Tetapi semakin lama ia duduk, entah mengapa kencan buta ini terasa semakin mengerikan. Entah karena makan malam ini terasa terlalu serius dengan ayahnya yang memilih Waku Ghin alih-alih restoran biasa atau karena fakta bahwa ia dengan sengaja melewatkan ulang tahun Alex.

Pukul 19.10. Harry memberitahunya bahwa Agnar akan datang pukul 19.15. Ari mengecek ponselnya. Ada beberapa WhatsApp dari Dannisa yang memintanya untuk menelepon segera. Tapi Alex yang biasanya gencar mengirimi pesan kali ini tidak mengirimkan satu pun. Sudah dua hari berlalu sejak Ari mengatakan akan pergi ke Singapura tepat di hari ulang tahunnya.

"Ke toilet dulu sebentar." Ari meminta diri pada ayahnya yang menanggapi dengan santai.

Begitu tiba di toilet yang kosong, Ari menelepon Dannisa. Ia penasaran setengah mati apa yang sedang teman-temannya lakukan.

"Ari?" Dannisa menyambar sebelum Ari sempat mengatakan halo. Suaranya terdengar darurat.

"Tenang. Gue nggak apa-apa." Ia mengira seluruh band pasti sudah tiba. Tetapi tidak terdengar suara berisik di latar belakang.

"Gue di IGD. Evita pingsan tadi di dapur."

"Hah??" Ari membelalak.

"GERD. Mungkin besok atau lusa bisa pulang."

Ari mendesah gusar, "gue pulang malem ini begitu selesai makan."

"Lo ada di sini pun palingan disuruh dateng besok lagi sama nyokapnya. Take your time. Dia baik-baik aja, kok."

"FaceTime bisa nggak? Atau telepon, deh, telepon."

"Dia lagi tidur."

"Duh... Gue makin nggak tenang gini jadinya."

Dannisa berdecak, "santai aja. Lo nggak tenang gara-gara dinner lo, tuh."

"Itu satu. Dua, Evita. Tiga, Alex. Lo jangan coba-coba bikin gue panik juga, ya."

"Wah, ini laki-laki pasti sesuatu, deh sampe bisa bikin lo panik."

"Alex gimana? Acara mereka gimana?" Ari membelokkan pembicaraan. Dannisa mungkin benar, laki-laki pilihan Harry kali ini mungkin sesuatu.

"Ikutan nganterin ke rumah sakit juga, sih tadi. Abis itu langsung balik ke kedai. Acara, ya harus tetep jalan, lah. Ini gue juga mau balik, Hanan sendirian jagain toko. Mereka nggak akan mulai tanpa gue katanya." Dannisa tertawa. Ari mulai bisa bernapas lega.

"Gue telepon Alex lagi jangan? Udah ngobrol, sih tadi pagi ngucapin happy birthday tapi dia jutek banget, ya ampun. Gue kudu bawain apa pas balik lusa? Menurut lo?"

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang