Kini duduklah ia di sana malam itu, setelah hampir dua jam perjalanan sunyi bersama Alex yang langsung menjemputnya begitu Ari mengatakan ya. Ia berdua bersisian menghadap sebuah bar panjang bersama Alex, setelah sebelumnya menyimpan kopernya kembali ke apartemen dan menunggu Agnar benar-benar pergi. Dari semua tempat yang bisa dan biasa mereka kunjungi, Alex memilih Mad Cow sebagai tempat yang mereka datangi setelah kejadian beberapa hari lalu.
"Kenapa ke sini?" tanya Ari. Pertanyaan pertama setelah ia duduk beberapa menit dan tidak tahu harus mulai bicara apa.
"Lo nggak pernah ngajak gue ke sini. Gue, kan mau sekali-kali ke sini," jawabnya, "sama lo."
"Lo boleh bayar tapi gue yang pilih, ya."
Alex mengiyakan begitu saja meski akhirnya ia hanya bisa manut ketika Ari memesan segelas single malt sedangkan Alex hanya dipesankan segelas cola.
"Gue udah macet-macetan ke sini bukan cuma untuk minum cola doang," protes Alex sambil manyun.
"Salah sendiri kenapa bawa mobil."
"Kan, bisa elo yang nyetir buat gue. Ngalah kek sekali-kali."
Ari terkekeh. Hatinya mengembang sedikit demi sedikit. Alex menghangat. Ia menghangat. Kebekuan dan kecanggungan bodoh itu berhasil meleleh.
"Lagi ada rencana manggung?" Lagi-lagi Ari yang bertanya karena Alex tidak kelihatan akan melakukan apapun selain memandang berkeliling lalu memandangi gelas pendek miliknya.
"Ada beberapa live minggu depan. Terakhir mungkin." Alex masih memandangi gelasnya.
"Terakhir tahun ini?"
"Terakhir untuk, nggak tau, deh. Carousel Project nggak bisa lagi ngapa-ngapain. Nggak ada lagi yang mau berbuat sesuatu." Alex mendesah.
"Ya, ampun, Lex."
"Ibaratnya orang pacaran kali, ya. Nggak dipupuk mah lama-lama layu terus mati." Alex terkekeh. Pahit dan pendek. "Bisa ngobrolin yang lain aja nggak? Gue capek ngomongin itu terus berapa hari ini."
Ari menangkap sekelebat tatapan Alex namun segera Alex mengalihkan pandangannya lagi.
"Kalian baik-baik aja?"
"Siapa?"
"Ingrid lah. Siapa lagi."
"Oh. She's good."
Ari meneguk sedikit minumannya. Lalu sunyi. Jemari Ari mengetuk-ngetuk permukaan gelas kaca. Ari berharap ada orang yang memberinya tepuk tangan yang meriah karena ia telah berhasil bertanya demikian.
"Kenapa?" Alex bertanya. Akhirnya ia menatap Ari lagi.
"Apanya?"
"Kenapa tanya soal Ingrid?"
"Ya, nanya aja. She's part of you now. Why can't I ask things about my bestfriend's, you know, lover?" Ari mengedikkan bahu lalu menyadari ada nada sinis dan getir dalam kalimatnya.
"Gue putus, hmm, kita nggak pacaran juga sebetulnya."
Ari terkesiap. Ia meletakkan gelasnya dengan tiba-tiba di atas permukaan bar hingga menimbulkan bunyi duk yang keras.
"Sama kayak yang sebelum-sebelumnya. It didn't work with her either," sambung Alex. Matanya menerawang jauh.
"Beneran?" ulang Ari. Alex cuma mengangguk kecil.
Lalu sunyi lagi. Kali ini lama sekali. Gelas Ari tandas. Ia mendengar "It's Not True" milik William Fitzsimmons bermain sayup-sayup di latar belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Sunday Morning
Romance3 sahabat sepakat untuk meninggalkan hidup yang kacau dan memulai rencana ternekat dalam hidup mereka: membuka kedai kopi. Ari, gadis populer berjiwa bebas, Evita, sang hopeless romantic, dan Dannisa, si domba hitam keluarga, berjuang membangun bis...
![[END] Sunday Morning](https://img.wattpad.com/cover/359763321-64-k166741.jpg)