(44) The Wounded Soul

44 12 12
                                        

Musim berganti. Beberapa tamu datang menyewa rumah besar itu untuk mereka tinggali selama beberapa hari. Sang ayah, ibu, dan Hanan pindah sebentar ke sebuah paviliun di seberang halaman mereka, tidak jauh dari sepetak rumpun bunga liar dan tepi bukit kecil tempat rumah mereka berdiri.

Di paviliun itu semuanya terasa sama; hari-hari yang lamban dan kosong, sang ibu yang berbaring sepanjang hari dengan tatapan hampa dan hanya keluar untuk makan atau minum, sang ayah yang merawat bunga-bunga liarnya setiap pagi dan memasak untuk tiga orang, dan Hanan yang menyaksikan itu semua dalam diam. Segalanya sama. Hanya saja terasa lebih kecil dan lebih dekat.

Jika bukan karena Widuri dan bayinya, Mieke, tetangga mereka yang ayahnya panggil untuk membantu mereka membersihkan rumah tiga kali seminggu bersama beberapa ibu-ibu lain, selamanya Hanan akan tinggal dalam ketenangan yang menyesakkan itu dan sedikit demi sedikit mencernanya seorang sendiri. Setiap pagi Bu Widuri menitipkan Mieke kecil pada ayah Hanan sementara ia bekerja. Hari-hari yang paling Hanan tunggu-tunggu dalam seminggu.

Pukul enam pagi itu, Hanan bangun dan belum menemukan Bu Widuri dan Mieke di paviliun. Rumahnya memang selalu sepi tapi tidak pernah terasa begitu kosong. Tidak biasanya, ia pikir. Namun Hanan menangkap satu hal lain yang lebih di luar kebiasaan. Pagi itu sang ibu tidak tidur di kamarnya. Ia mengganti gaun tidurnya dengan pakaiannya yang biasa, terusan selutut warna merah muda dengan kardigan putih gading. Rambut cokelat kepirangannya diikat dan digelung ke atas, memerlihatkan garis-garis tegas dan lekuk wajah dalamnya yang ia wariskan pada Hanan.

Melihat sang ibu berdandan rapi, Hanan menghampirinya dengan wajah berseri-seri. Itu pertama kalinya lagi ia melihat sang ibu keluar dari kamarnya sedemikian pagi.

"Mama!" Hanan menghambur memeluknya. Si ibu tersenyum tipis, langkahnya keluar dari kamar tertahan.

"Kamu mau ke mana, Alise?" Sang ayah muncul dari pintu depan dengan sekop kecil masih di tangannya. Bagian lutut celana panjangnya bernoda tanah dan rumput.

"Saya mau pulang," sang ibu menjawab singkat. Suaranya merdu dan sehalus beledu tetapi terdengar lelah dan dingin.

"Rumah Mama di sini. Mama sudah pulang," Hanan berkata.

"Bukan, Hanan," ucap sang ibu dalam suara yang sama, "Ich gehöre nicht hier."

"Di mana lagi tempat kamu kalau bukan di sini... Sama keluargamu..." Desah sang ayah.

"Take care of him. He deserves someone better. And it's not me."

Hanan menyadari sang ibu menyeret sebuah koper besar di belakangnya.

Sang ibu mengusap puncak kepala Hanan sesaat lalu tersenyum sekilas dan berkata, "Mama, Papa, kamu... tidak ada satupun dari kita yang seharusnya ada di sini. Ada pun harusnya tidak."

Tanpa sang ayah menahan atau menghalangi, ibunya kemudian berlalu menuju pintu, tidak lagi melihat ke belakang. Hanan menyaksikan itu semua bagai potret yang ia rekam bingkai per bingkai. Ia selalu ingat semuanya, udara pagi yang dingin dan lembab, kalimat terakhir ibunya yang bergetar dan punggungnya yang menjauh, cengkeraman tangan ayahnya di bahunya, wangi tanah basah yang dibawa angin dari jendela depan, dan ketenangan yang bergelayut di sekitarnya.

***

Hanan kecil tahu, entah dari mana dan bagaimana, bahwa seseorang bisa berubah begitu cepat. Lebih cepat dari musim yang kembali berganti dan mengharuskan mereka kembali ke rumah besar. Ia telah melihat itu dalam diri ayahnya yang berubah dari sosok yang biasa tersenyum padanya, memasakannya bekal makan siang, menemaninya mengerjakan PR, dan berlutut di dekat paviliun, mengurusi bunga-bunga liarnya, menjadi sosok yang tidak ia kenali.

[END] Sunday MorningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang